SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Sabtu, 11 September 2004

 

-- Kemarin kita dikejutkan berita tentang anak-anak sekolah yang merampok. Sebelumnya dalam beberapa bulan yang lalu, sejumlah anak meninggal secara mengenaskan karena bunuh diri. Pertanyaan yang kemudian mengemuka, ada apa dengan anak-anak kita sekarang? Dari pengakuan para tersangka perampokan itu terungkap, sebagian besar dari mereka datang dari keluarga broken. Mereka tak lagi pernah bertemu dengan ayahnya dan hidup dengan segala keterbatasan.

-- Setelah ledakan bom di depan Kedubes Australia di Jakarta, Kamis lalu, pasar uang atau bursa saham tak terlalu bergejolak. Hanya tampak reaksi sesaat, yakni ketika rupiah menurun sampai ke level Rp 9.405/dolar AS. Namun, itu hanya sebentar karena kemudian membaik lagi menjelang petang pada posisi sekitar Rp 9.300/dolar AS. Demikian juga pada sesi perdagangan kemarin, rupiah masih relatif stabil pada kisaran Rp 9.290/dolar AS.

 

MARTABAT bangsa kita kembali terkoyak ketika guncangan bom kembali meledak tak jauh dari Kantor Kedubes Australia di Jakarta, Kamis 9 September 2004. Pekan kemarin masyarakat terpana ketika secara tak terduga seorang petinggi Polri kepergok sedang berbincang dengan salah satu terpidana bom Bali di sebuah cafe di Jakarta. Tak pelak, sejumlah komentar makin merebak, ada skenario apa di balik semua itu.

"SUDAH punya anak belum?"
"Siap! Sudah, Jenderal!" Dengan sigap, prajurit itu menjawab pertanyaan atasannya.
"Yang paling besar umur berapa?"
"Siap! Delapan tahun, kelas dua es-de, Jenderal!"
"Kalau ke sekolah, anakmu naik apa?"
"Siap! Saya antar sendiri. Kadang-kadang istri yang mengantar, Jenderal!"

Saya pelanggan "Sigma Parabola Purworejo" terus terang kecewa saat menyerviskan kompor gas. Setelah 3 hari kompor sudah jadi, Saya minta karyawannya mencoba, tapi dia tidak mau dan ongkosnya Rp 65.000. Sampai di rumah saya coba, kompor masih rusak, persis seperti sebelumnya.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA