logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 11 September 2004 OLAHRAGA
Line

Pompa Bensin Terapung di Sungai Musi

SAAT berada di tengah sungai Musi, dalam perjalanan menuju Pulau Kemaro, tiba-tiba mesin perahu ketek yang saya tumpangi tersendat-sendat. ''Maaf Kak, minyaknyo abis, kita harus cari minyak,'' kata Ibrahim (26), pengemudi perahu ketek itu.

Untung saja, pada jarak sekitar 300 meter di tepi utara sungai terdapat stasiun pengisian bahan bakar (SPBB). Sigap, dia membelokkan kemudi ke arah tersebut. Dengan tetes-tetes bahan bakar yang tersisa, perlahan perahu dapat merapat juga ke tepian, tempat stasiun pompa bensin itu berada. Ibrahim mengikatkan tali perahunya ke cantolan yang terdapat pada tubir SPBB.

''Kasih Minyak lima liter,'' pintanya kepada penjaga.

Penjaganya, seorang lelaki usia 30-an, melemparkan selang berwarna hitam kepada Ibrahim. Dengan tangkas Ibrahim menangkapnya,dan segera memasukkan ujung selang itu ke mulut jerigen pengganti tangki solar perahu keteknya. Tak lebih dari tiga menit, tangki perahu ketek Ibrahim telah penuh terisi dan siap berlayar kembali.

Berbeda dengan di jalan raya, SPBB di sungai Musi berada dalam kondisi terapung. Memang, wujudnya serupa benar dengan pompa bensin yang terdapat di darat. Atapnya disangga dua pilar bulat. Selain itu juga dilengkapi dengan alat pengukur jumlah maupun harga bahan bakar yang dikeluarkan. SPBB terapung menggunakan tongkang berbahan besi. Namun jika terhempas riak air sungai, tetap bergoyang-goyang juga.

Minyak Tanah

Menurut Johan (30), manajer operasional salah satu SPBB terapung, Di sungai Musi yang masih masuk dalam wilayah Kota Palembang, jumlah SPBB terapung ada delapan buah. Mereka tersebar dari jembatan Musi 2 hingga Pulau Kemaro.

SPBB yang dikelola Johan memiliki tiga buah tongkang penampung bahan bakar, serta sebuah kantor administrasi. Masing-masing tongkang mampu menampung antara 50.000 hingga 150.000 liter.

Kurang lebih seminggu sekali, tongkang-tongkang yang dikelola Johan diisi kapal tanker Pertamina. Konsumennya adalah para pemilik kapal atau perahu yang setiap hari hilir mudik. Selain bensin premium dan solar, tempat itu juga menyediakan minyak tanah dan oli.

Dibandingkan pompa bensin di darat, harga bahan bakar pada SPBB terapung sedikit lebih mahal. Hal itu karena SPBB terapung menggunakan biaya angkut tambahan.

Tentu saja, pengusaha SPBB terapung enggan menanggung biaya tersebut sendirian. Mereka membebankannya kepada konsumen. Setiap liter bahan bakar, ditambah biaya ongkos sebesar Rp 35.

''Harga solar di sini Rp 1750, sedikit lebih mahal dari harga di darat,''kata Johan.

Berbeda dengan pom bensin darat yang buka 24 jam sehari, SPBB terapung hanya beroperasi laiknya jam kantor, yakni dari pukul 08.00-16.00. Dengan demikian, para pengemudi perahu harus berhitung agar tidak kehabisan bahan bakar pada malam hari.

Selain pompa bensin, di sungai Musi juga banyak terdapat penjual bahan bakar eceran. Mereka menggunakan perahu ketek bermesin motor. Meski eceran, harga bahan bakar di tempat itu sama dengan harga SPBB terapung. Konsumen penjual bensin eceran kebanyakan perahu ketek.(Rukardi-22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA