logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 11 September 2004 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Kepanikan Pasar Sesaat, Bagaimana Investasi?

-- Setelah ledakan bom di depan Kedubes Australia di Jakarta, Kamis lalu, pasar uang atau bursa saham tak terlalu bergejolak. Hanya tampak reaksi sesaat, yakni ketika rupiah menurun sampai ke level Rp 9.405/dolar AS. Namun, itu hanya sebentar karena kemudian membaik lagi menjelang petang pada posisi sekitar Rp 9.300/dolar AS. Demikian juga pada sesi perdagangan kemarin, rupiah masih relatif stabil pada kisaran Rp 9.290/dolar AS. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) malah melesat cukup tinggi. Dari 782,650 menjadi 797,775. Rupanya pelaku pasar tak mudah lagi terpengaruh oleh peristiwa semacam itu dan ini tentu sangat positif. Kalaupun terjadi reaksi, itu sifatnya hanyalah sesaat. Situasi di Bursa Efek Jakarta cepat pulih.

-- Reaksi di pasar uang dan di lantai bursa memang sangat sporadis. Bisa terguncang hebat namun pulihnya pun relatif cepat. Sentimen di pasar uang sangatlah dinamis dan fluktuatif. Akan tetapi dalam kaitan dengan peledakan bom di Kuningan, Kamis lalu, persoalannya bukan hanya pada reaksi pasar. Yang dikhawatirkan justru dampak berjangka menengah dan panjang. Apalagi kalau bukan dalam kaitan investasi terutama investasi asing. Karena yang dihantam adalah kepercayaan. Yang kemudian melonjak tinggi adalah risiko investasi. Hal-hal seperti itulah yang sensitif sehingga wajar bila kita lebih merasa prihatin apabila melihat prospek investasi ke depan. Bagaimana membangun kepercayaan bila setiap tahun terjadi ledakan bom.

-- Belum hilang trauma bom Bali sudah disusul bom di Hotel JW Marriott. Sekarang muncul lagi bom di depan Kedubes Australia. Tentu wajar bila para pemilik modal bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia? Kalau benar di sini bukan sarang teroris, mengapa selalu dijadikan sasaran teroris. Bukankah esensinya sama saja, yakni rasa aman akan makin sulit dicari. Sementara itu, sikap pengusaha cenderung wait and see serta memiliki alternatif banyak untuk tujuan investasi. Di sekitar kita ada Malaysia, Thailand, Vietnam dan lain-lain. Bila investasi sulit didatangkan maka itu berarti malapetaka bagi perekonomian Indonesia. Sebab, investasilah yang menjadi motor pertumbuhan dan juga secara langsung menyerap tenaga kerja.

-- Dapatkah pemerintah memberikan penjelasan yang dapat meyakinkan kalangan investor asing dan kalangan dunia internasional pada umumnya tentang tragedi bom di Tanah Air? Rasanya cukup sulit karena sudah untuk kesekian kali kita kecolongan. Kendati pada sisi lain harus diakui, sangat berat mencegah aksi teroris semacam itu karena keterbatasan personel keamanan dan juga kelemahan di bidang intelijen. Apakah mungkin pemerintah baru nanti lebih mampu memberikan jaminan dan harapan-harapan baru? kita belum tahu. Namun yang jelas, tidak bisa disalahkan apabila Indonesia masih ada kesan kurang aman. Padahal, kita tahu masalah keamanan adalah salah satu hal yang penting bagi mereka karena itu juga memengaruhi country risk suatu negara.

-- Dampak yang lebih berjangka menengah dan panjang juga terjadi dalam bidang pariwisata dengan berbagai kegiatan usaha yang terkait dengannya. Coba lihat Bali. Walaupun sudah mulai membaik, masih jauh dari kondisi normal ketika sebelum terjadi ledakan bom di Legian. Terbukti, memulihkan kepercayaan itu tidak mudah dan memakan waktu yang lama. Berapa banyak penurunan jumlah turis dan itu berarti penurunan omzet barang dan jasa di kawasan pariwisata nomor satu di negara kita. Industri pariwisata memiliki linkage ke depan, ke belakang, dan ke samping yang cukup luas. Dan sekarang ini, sektor itu diharapkan menyumbang devisa relatif besar. Sayang, sektor itulah yang paling sensitif dengan kejadian-kejadian semacam bom.

-- Pemerintah baru kelak harus berupaya keras untuk memerang terorisme dan segala bentuk ancaman keamanan. Iklim investasi ibarat pertaruhan bagi keberhasilan sebuah pemerintahan. Bila iklim investasi baik dan banyak investor datang maka lebih separo persoalan ekonomi akan selesai. Sebaliknya, bila investasi seret apalagi mandek maka tidak ada satu pun pemerintahan yang mampu bertahan. Memang iklim investasi tidak hanya dipengaruhi masalah keamanan. Kestabilan politik, sosial, dan kepastian hukum menjadi faktor penting. Demikian juga masalah high cost economy dan peraturan-peraturan yang menyangkut dunia bisnis. Namun, semua itu mungkin masih bisa sedikit banyak disiasati sedangkan soal keamanan justru lebih sulit.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA