| Sabtu, 11 September 2004 | WACANA |
TAJUK RENCANAKetika Anak-anak Merampok-- Kemarin kita dikejutkan berita tentang anak-anak sekolah yang merampok. Sebelumnya dalam beberapa bulan yang lalu, sejumlah anak meninggal secara mengenaskan karena bunuh diri. Pertanyaan yang kemudian mengemuka, ada apa dengan anak-anak kita sekarang? Dari pengakuan para tersangka perampokan itu terungkap, sebagian besar dari mereka datang dari keluarga broken. Mereka tak lagi pernah bertemu dengan ayahnya dan hidup dengan segala keterbatasan. Merasa tidak betah tinggal di rumah yang sepi, termasuk sepi makanan tentunya, mereka tumbuh besar bersama lingkungan luar rumah yang tidak seharusnya. Mereka itu kemudian tumbuh menjadi tidak terkontrol karena sepinya pengamatan dari lingkungan terdekat. -- Sementara itu, dari berita tentang anak-anak yang bunuh diri terungkap, mereka menempuh jalan tersebut setelah permintaan kepada orang tuanya belum dituruti, di samping karena dimarahi. Sebagian besar dari anak-anak yang bunuh diri itu masih duduk di sekolah dasar, sedangkan yang terlibat perampokan sudah di sekolah lanjutan. Kenapa anak-anak kecil itu begitu lemah, mudah putus asa, dan mengambil jalan pintas ketika persoalan itu muncul? Mudahnya anak-anak menempuh jalan pintas bunuh diri ataupun merampok menjadikan ada sesuatu yang harus dipelajari lebih dalam lagi mengenai persoalan pertumbuhan lingkungan sekarang. Apakah faktor lingkungan begitu dominan menciptakan keadaan ini? -- Kita merasakan, lingkungan telah tumbuh mungkin tidak seperti yang kita kehendaki. Kesenjangan antara kaya dan miskin belum juga terpecahkan dengan segera. Pada satu sisi, ada yang begitu amat kaya dengan pendapatan jutaan rupiah setiap harinya. Sementara itu, pada sisi lain ada yang masih sulit untuk makan setiap harinya. Ada yang mampu bersekolah dengan harga mahal, ada yang tidak mampu sekolah dengan baik. Mereka yang berada di garis kemiskinan juga beragam kemampuan mental dan daya hidupnya. Yang kuat iman, kemiskinan itu adalah cobaan. Sebaliknya yang tidak kuat, kemiskinan adalah kutukan. Ketika kemiskinan dianggap sebagai kutukan, otak tak mampu berpikir jernih dan hati nurani menjadi sulit terbuka. -- Dan, anak-anak di sekolah juga merasakan hal yang sama. Ada yang pergi ke sekolah dengan berjalan, susah payah membayar bulanan, tak mampu membeli buku, dan apalagi sekadar jajan. Sebaliknya, ada yang ke sekolah naik motor roda dua, bahkan roda empat, menikmati keindahan pacaran dan memiliki uang berlebihan. Jadi, lingkungan kita seolah selalu mempertontonkan kesenjangan, bahkan sejak dari taman kanak-kanak. Mereka yang kebetulan berpunya ada yang mempunyai solidaritas tinggi, tetapi ada juga yang tidak. Ada yang tampil bersahaja, ada yang over. Nah, di sinilah dua medan yang bertentangan itu bertemu sehingga melahirkan keadaan yang terus menerus berjarak. Belum ada suatu formula yang baik untuk mengatasi keadaan ini hingga sekarang. -- Keadaan ini tentu sangat memprihatinkan dan mengetuk siapa pun yang masih mempunyai hati. Tampaknya, sudah waktunya untuk direnungkan kembali sistem pendidikan yang sekarang berlangsung. Misalnya apakah masih mungkin diterapkan sebuah kurikulum baru tentang pendidikan afektif. Pendidikan pembentukan watak ini bukan seperti Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang lebih menekankan pada aspek hafalan itu. Pada 1980-an, beberapa tokoh pendidikan nasional pernah sampai pada kesimpulan tentang pentingnya pendidikan afektif ini, tetapi kemudian isu itu menghilang lagi. Pembentukan watak amat luas, bukan soal membangun kejujuran saja misalnya melainkan juga membangun watak sportif dalam persaingan termasuk siap untuk kalah. -- Perlunya juga dibangun persatuan orang tua/wali murid dengan guru yang lebih sinergis dan kokoh. Para orang tua tidak hanya dikumpulkan ke sekolah saat sekolah membutuhkan gedung baru, tetapi harus lebih pada upaya membangun jaringan pengendalian dan pengembangan siswa secara terus-menerus. Para guru dan orang tua saling membagi informasi mengenai perkembangan anak peserta didik baik di rumah maupun sekolah. Kalau perlu, mendiskusikan untuk pengembangannya, bukan hanya pada saat anak tengah terlanda problem orang tua dipanggil ke sekolah. Sekadar contoh, di beberapa sekolah di Jepang, persatuan guru dan orang tua/wali murid memberlakukan aturan seberapa besar uang jajan bagi anak-anak diperbolehkan. Karena itu, anak-anak mereka pun sudah pandai mengelola uang sejak masih anak-anak. Sedangkan di kita? Saatnya kita pikirkan masa depan anak-anak kita. |