| Sabtu, 11 September 2004 | NASIONAL |
NU Cabang Diminta Cari Calon Ketua UmumSEMARANG - PWNU Jateng sampai saat ini belum menentukan siapa calon yang akan dijagokan baik untuk duduk sebagai rais aam ataupun ketua umum PBNU dalam Muktamar Ke-31, di Asrama Haji Donohudan, 28 November-2 Desember mendatang. Namun, cabang-cabang diminta untuk mulai berpikir dan metani, siapa figur yang layak untuk menjabat sebagai pucuk pimpinan NU mendatang. Ketua PWNU Jateng Drs H Moh Adnan kepada wartawan mengatakan, figur rais aam dan ketua umum mendatang, baru akan dibahas dengan cabang-cabang H -15 muktamar. ''Itu sesuai dengan keputusan di Muskerwil PWNU, dua minggu lalu. Jadi, saat ini belum bisa bicara,'' kata dia di kantor PWNU Jateng, Jalan Dokter Cipto 180, Semarang, Jumat (10/9). Adnan yang didampingi Sekretaris PWNU Drs H Najahan Musyafak MA, Wakil Sekretaris H Agus Fathuddin Yusuf, dan Wakil Bendahara Suryanto Dwi Cahyo SE tersebut menegaskan, pihaknya belum bisa menyebut nama. Namun, secara priabdi dia memiliki ukuran. ''Idealnya ketua umum tidak meninggalkan figur yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan grass root dan punya akses jaringan internasional.'' Karena itu, lanjutnya, seorang ketua umum setidaknya bisa berkomunikasi ketika berada di lingkungan pengurus ranting, misalnya bisa melafalkan dalil, baik Alquran maupun hadis. Selain itu, memiliki kemampuan satu bahasa asing untuk akses internasional, misalnya bahasa Inggris. ''Saya lihat hal itu selama ini bisa dilakukan oleh Pak Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU nonaktif -Red). Tapi kalau Pak Hasyim terpilih sebagai wapres, tidak boleh (mencalonkan diri),'' ujarnya. Adnan yang juga Ketua Panitia Daerah Muktamar Ke-31 NU tersebut mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali meninjau persiapan di Asrama Haji Donohudan. Bahkan pernah meninjau langsung bersama Ketua Umum PBNU nonaktif KH Hasyim Muzadi yang saat ini menjadi cawapres dari capres Megawati Soekarnoputri. ''Dan yang menarik, pertanyaan pertama Pak Hasyim adalah bagaimana tempat untuk pers. Kalau tempat di Asrama Haji tidak layak, Pak Hasyim minta agar dicari lagi yang lebih layak,'' katanya. Selanjutnya, kata dia, ada pemikiran dari Kiai Hasyim, wartawan yang meliput muktamar disediakan ruangan dari tenda besar yang dilengkapi pengatur udara (AC) dan MCK, jika tempat yang disediakan pengelola Asrama tidak layak. Namun, untuk mencari tenda seperti yang digunakan para jamaah haji tersebut hanya ada di Jakarta. Jika pengelola asrama belum bisa menyediakan tempat yang layak untuk pers, pihaknya akan mengusahakan tempat lainnya. Adnan yakin, muktamar mendatang merupakan yang paling menarik dibandingkan dengan kegiatan serupa sebelumnya. ''Apalagi kalau Pak Hasyim terpilih (sebagai wakil presiden), akan lebih menarik lagi,'' ujarnya. (G7-29) |