| Sabtu, 11 September 2004 | NASIONAL |
Shalat Jumat di Musala KeratonKERATON SURAKARTA - Lebih kurang 15 menit setelah membaca kekancingan tanda bertakhta sebagai penerus almarhum SISKS Paku Buwono (PB) XII di Sitinggil Lor, KGPH Hangabehi yang sudah bergelar SISKS PB XIII kemarin menjalankan shalat jumat. Dipimpin imam MNg H Praja Hastana, shalat di musala keraton yang disebut Bangsal Dayenta Dalem Pakubuwanan itu, raja baru menunaikan shalat bersama lebih dari 50 abdi dalem ngulama keraton dan para santri dari Pondok Pesantren Al Ikhlas Mojosongo. Shalat jumat di mushala di belakang bangunan inti keraton atau belakang Krobongan Dalem Ageng itu dilanjutkan dengan doa yang dipimpin Pengageng Ngulana Dalem RT Pudjodipuro. Setelah shalat, raja baru menerima ucapan selamat dari para santri dan ulama keraton. Peristiwa di dalam tempat berprivasi tinggi yang terlarang bagi orang luar dan kalangan pers pada umumnya merupakan perjalanan spiritual keagamaan sebagai syarat pencapaian takhta yang digariskan sejak Mataram Islam berdiri. Bahkan, dalam rangkaian melangkah pada tahap-tahap upacara adat menjelang penobatan sebagai SISKS PB XIII, sebelumnya juga telah dipenuhi persyaratan shalat jumat tujuh kali di Masjid Agung tanpa putus dan telah lunas dilakukan KGPH Hangabehi. ''Aturan adat memang menyebutkan begitu. Dan, Gusti Behi sudah melunasinya. Bahkan, mengajak shalat jumat di Bangsal Dayenta. Saya tidak menduga ada rencana ini. Kami semua merasa terharu,'' tutur humas panitia GPH Puger di sela-sela kesibukannya diwawancarai wartawan TV secara bergantian hingga tampak penat dan tidak sempat berfoto bersama kakaknya yang sudah berstatus SISKS PB XIII itu. Begitu selesai shalat, Sinuhun tidak sempat berbincang-bincang, karena langsung menuju ke kamar busana untuk berganti busana menjelang upacara pisowanan jumenengan di Pendapa Sasana Sewaka. Kabar bakal mencuatnya aksi demonstrasi besar-besaran menentang penobatan KGPH Hangabehi,kemarin, tidak terbukti. Saat penobatan, hanya terlihat puluhan tukang becak yang berasal dari beberapa perhimpunan. Aksi menentang penobatan KGPH Hangabehi menjadi penerus PB XII untuk menjadi raja di Keraton Kasunanan Surakarta tersebut terlihat tanpa kordinasi.(won-78j) |