logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 11 September 2004 NASIONAL
Line

Mughofir Dimakamkan di Klaten


PEMAKAMAN KORBAN BOM: Salah satu korban bom yang meledak di depan Kantor Kedutaan Australia, Rina Dewi Puspita, kemarin dimakamkan di TPU Budi Darma, Semper, Cakung-Cilincing Jakarta Utara. Sehari sebelumnya, jenazah Rina ditemukan tertelungkup di atas bangkai sepeda motor. Jenazah Rina dimakamkan berdampingan dengan seorang korban lain, Asep Syaifuddin.(79)

JAKARTA - Isak tangis dan cucuran air mata keluarga korban ledakan bom di depan Kedubes Australia, Jalan Rasuna Said menghiasi TPU Budi Darma, Semper, Cakung-Cilincing Jakarta Utara. Derasnya cucuran air mata keluarga korban seakan kontras bila dibandingkan dengan suasana yang sangat panas dan gersang di lokasi pemakaman.

Di tempat itulah siang kemarin dimakamkan dua korban bom, Asep Syaifuddin dan Rina Dewi Puspita. Keduanya dikebumikan berdampingan di blok pemakaman muslim. Pemakaman yang berlangsung sesudah shalat jumat tersebut dimulai dengan penguburan Syaifuddin.

Sementara itu Mughofir (45), korban ledakan bom lainnya, dibawa ke Klaten dan dikebumikan di Dukuh Krandon, Desa Pepe, Kecamatan Ngawen, Klaten, Jumat (10/9).

Anak pertama Syaifuddin, yaitu Irma Rizki Amalia (5), terus saja menangis seolah tak kuasa melihat jenazah ayahnya yang mulai diuruk tanah. Melihat suasana yang penuh haru tersebut, hati para pelayat menjadi nggregel. Beberapa kerabat dekat Syaifuddin juga tak kuasa menahan tangis.

Di tengah acara pemakaman tersebut, istri Syaifuddin, yaitu Nur Qomariah, jatuh pingsan. Oleh kerabat dan tetangganya, Nur segera dibawa ke tenda yang tidak jauh dari makam suaminya. Para wartawan yang sedang mengabadikan pemakaman Syaifuddin jadi terpecah, sebagian ingin mengabadikan Rina yang tengah disadarkan.

Selang 10 menit kemudian Rina sadar. Dia kemudian menangis lagi serta memanggil-manggil nama-nama anaknya, Irma dan Rifki. Kemarin hanya Irma yang ikut mengantarkan jenazah ayahnya ke makam. Adiknya, Rifki Haikal Kamil, karena baru berusia delapan bulan ditinggal di rumah duka.

Tetangganya, Ma'ruf, mengungkapkan, selama hidup almarhum adalah orang yang bersahaja. Yang membuat sedih Ma'ruf adalah Syaifuddin baru saja bergembira dengan kelahiran anak keduanya, Rifki.

''Sejak lama almarhum pengin sekali anak laki-laki. Dia senang sekali begitu Rifki lahir,'' ujarnya.

Sementara itu, menurut penuturan Abdul Rauf (rekan kerja almarhum di BII Finance), dirinya mengenal Syaifuddin sebagai seorang yang taat beribadah.

''Selain itu almarhum juga seorang yang ramah. Istilahnya kalau gaul itu enak. Tapi dia juga orang yang bertanggung jawab, jadi banyak yang suka dia,'' kata Rauf.

Saat krisis ekonomi menimpa Indonesia, Rauf dan Syamsuddin juga sama-sama menjadi korban PHK massal BII. Rauf sampai terpaksa menjadi tukang ojek, namun dia tidak tahu bagaimana Syaifuddin menyambung hidup. Saat keadaan membaik, dia dipanggil kembali oleh BII dan ditempatkan di BII Finance. Di sinilah, dia kembali bertemu dengan Syaifuddin.

''Saya kasihan sekali bila ingat dia. Soalnya, dia kan hanya pegawai biasa, anak-anaknya masih butuh biaya banyak,'' ucapnya.

Menurut informasi yang diperoleh dari rumah duka di Jalan Tanah Merdeka 34 RT 8 RW 7, Kalibaru Cilincing, Jakarta Utara, diketahui bahwa jenazah Syaifuddin baru bisa diyakini kebenarannya setelah melihat ikat pinggangnya. Saat kejadian, Syaifuddin sedang bertugas di Gedung Great River di Jalan Rasuna Said juga untuk menyurvei calon nasabah yang mengajukan kredit kendaraan.

Begitu bom meledak, rekan-rekan Syaifuddin yang berkantor di Wisma Kodel atau hanya 300-an meter dari tempat kejadian, yang mengerti kepergian Syaifuddin ke Great River langsung berpikir kalau-kalau Asep (panggilan akrab Syaifuddin) kena apa-apa.

Mereka langsung menyebar mencari ke seluruh penjuru RS MMC. Dan, baru pada pukul 17.00 mereka bisa mengetahui jenazah Asep. Kesulitan itu karena wajahnya sudah hancur, begitu pula badannya sudah rusak dan tangannya putus.

Tanpa Kehadiran Ayah

Tidak lama setelah pemakaman Syaifuddin, datanglah iring-iringan rombongan pengantar jenazah Rina Dewi Puspita. Dalam rombongan itu hanya tampak ibu Rina, yaitu Khasbiyah, bersama dua adik laki-lakinya, Andri dan Paris.

Rina yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, meninggal dunia saat sang ayah, Ip Hamzah, sedang berlayar ke Italia. Ayah Rina memang berprofesi sebagai pelaut.

Rina tercatat sebagai mahasiswi angkatan 2002 Jurusan Manajemen STIE Perbanas.

Para wartawan semula ingin meminta komentar Khasbiyah, namun karena suasana dukanya begitu mendalam, dia tidak bersedia. Ketidakbersediaan itu disampaikan lewat para kerabatnya.

Menurut penuturan Mutma'inah, tetangga korban, Rina adalah anak yang bisa mengemong kedua adiknya. Ini berkaitan dengan posisinya sebagai anak tertua dan sering ditinggal sang ayah berlayar. ''Jadi walaupun dia perempuan, dia pintar membantu ibunya dan juga pintar ngemong adik-adiknya yang laki-laki,'' katanya

Mutma'inah mengungkapkan, saat meninggal, almarhumah sedang menjalankan ibadah puasa Senin-Kamis.

''Jadi walaupun anaknya modern, kalau ibadah bolehlah anak itu. Temannya juga banyak sekali. Jadi, kemarin banyak sekali yang datang ke rumah Bu Iyut (nama panggilan Khasbiyah),'' paparnya.

Sementara itu, menurut penuturan rekan sekampusnya, Heri, Rina adalah sosok anak yang ramah. Sepengetahuannya, Rina itu bila berangkat kuliah sering diantar sopir pribadinya.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dapat dihimpun dari rumah duka di Jalan Warakas Gang 13 Tanjung Priok, Jakarta Utara, diketahui sebenarnya Rina pada hari itu tidak ada jadwal kuliah. Akan tetapi, dia mempunyai janji dengan temannya yang bernama Diah untuk mengerjakan tugas kuliahnya di sebuah warnet di kawasan Karet, Jakarta Selatan.

Di Klaten

Sementara itu, Mughofir (45), salah satu korban ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta tiba di rumah tempat kelahirannya di Dukuh Krandon, Desa Pepe, Kecamatan Ngawen, Klaten, Jumat (10/9), pukul 08.30.

Korban tewas ketika mengerjakan proyek di samping gedung Kedubes Australia. Saat itu, dia berada di dalam kontainer yang juga berfungsi sebagai kantor, sehingga ketika terjadi ledakan hebat tubuhnya terpental membentur dinding kontainer dengan keras. Akibatnya, korban meninggal karena luka parah di kepala dan kakinya.

Kemarin, korban dikebumikan di pemakaman umum setempat yang letaknya persis di belakang rumahnya seusai shalat jumat. Ratusan pelayat mengiringi kepergian almarhum ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Jenazah almarhum diangkut dengan menggunakan mobil ambulans RS Dokter Cipto Mangunkusumo Jakarta. Istri almarhum, Nurhayati (39), ikut bersama mobil ambulans sejak diberangkatkan dari kediamannya di Bekasi, Kamis (9/9) malam, sekitar pukul 20.00. Dua anak almarhum, Tuty Alawiyah Anshori (19) dan Ikhsan Assegaf Anshori (11), ikut bersama rombongan mobil lain.

Sambutan isak tangis langsung pecah begitu peti jenazah warna coklat dimasukkan ke dalam rumah duka. Nurhayati yang mengikuti dari belakang langsung mendapat pelukan dari sanak saudara yang semuanya menangis. Pemandangan mengharukan itu terjadi selama beberapa saat.

Ibu dua anak itu sesaat larut dalam kesedihan sewaktu sanak keluarganya memeluk dirinya dengan tangisan haru. Nurhayati tampak tabah dengan musibah yang dialaminya. Perempuan yang mengenakan baju biru dan kerudung putih itu bahkan tidak menunjukkan reaksi histeris atau berlebihan saat wajah sang suami dibuka sebelum dishalatkan.

Wajah Mughofir terlihat tenang dalam balutan kain kafan. Tampak sebuah tikar dari plastik dijadikan alas jenazah dalam peti. Terlihat darah segar di sekitar kepalanya yang membasahi kain kafan. Darah di sekitar kaki juga masih belum mengering.

Di antara para penyambut tampak pasangan Amat Asmuri (75) dan Ny Sohir (70), kedua orang tua Mugofir. Ada juga ayah Nurhayati atau mertua almarhum, Dalhari (70). Mereka tak bisa menyembunyikan kesedihan dari tamu-tamu yang disalaminya.

''Dia anak yang baik dan tidak neko-neko sejak kecil. Ibadahnya sangat kuat karena pernah mondok lama di Tebu Ireng (Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jatim-Red),'' tutur Amat Asmuri saat menunggu jenazah anaknya datang dari Jakarta.

Almarhum terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya Munawwir (47) berprofesi sebagai guru SDN 2 Pandeyan, Ngawen. Adik bungsunya, Siti Muslikah (42), bersuamikan Bambang Sulaksono yang juga seorang perangkat desa setempat.

Mugofir tercatat sebagai karyawan di PT (Persero) Pembangunan Perumahan, Jakarta sejak 1982. Dalam rangka pekerjaannya, lulusan STM itu berulang-ulang pindah ke berbagai tempat. Sebelum kejadian, almarhum yang menduduki jabatan terakhir koordinator peralatan itu pernah menggarap proyek di Medan selama satu tahun.

Tratag atau tenda sudah terpasang sejak pukul 15.00. Demikian pula lokasi pemakaman pun sudah ditentukan. Upacara pemakaman dimulai setelah shalat jumat dan jenazah dimasukkan ke liang lahat pada pukul 14.00. (F4,F5-78j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA