| Sabtu, 11 September 2004 | NASIONAL |
Polisi Mengarah ke Dr Azahari
JAKARTA - Polri belum menemukan siapa sebenarnya pelaku pengeboman di depan Kedubes Australia, Kamis lalu. Namun, jaringan dedengkot bom Azahari dicurigai. Indikasinya pun makin kuat. Salah satunya adalah kesaksian enam dari sembilan tersangka kasus bom Marriott yang kini ditahan Mabes Polri. Mereka mengaku sebagai orang yang telah dibaiat untuk menjadi pelaku bom bunuh diri. Mereka juga mengaku direkrut oleh Azahari dan Noor Din Moh Top. Bahkan, menurut keterangan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Paiman, enam tersangka itu sudah membuat surat kepada keluarganya bahwa mereka siap melakukan tugas pengeboman. Hal ini mengindikasikan, Azahari memang masih merekrut sukarelawan untuk tugas-tugas pengeboman. "Yang di Jatim dan Jateng, enam orang itu ada yang sudah membuat surat kepada keluarganya bahwa dia siap menjalani (tugas pengeboman). Mereka sudah dibaiat dan siap dengan tugas pengeboman," papar Paiman kepada wartawan seusai melaksanakan shalat jumat di Mabes Polri Jalan Trunojoyo Jakarta Selatan, Jumat kemarin. Sembilan tersangka bom Marriott itu adalah Komaruddin bin Zainun alias Fursham (31), Budi Pranoto alias Urwah (26), Suranto (25), Sonhadi bin Muhajir (33), Lutfi Haidaroh alias Ubaid (25), Usman bin Sef alias Fahim (39), Sapturani alias Anwar (37), Sunarto bin Kartodiharjo (55), dan Rahmat Muji Prabowo alias Yunus (25). Paiman tidak menyebutkan nama keenam dari sembilan tersangka itu yang sudah dibaiat Azahari. Sebelumnya, Kabareskrim Polri Komjen Pol Suyitno Landung mengemukakan, berdasarkan keterangan enam orang itu, ada tiga orang lain yang siap melaksanakan tugas pengeboman. Ketiga orang itu masih belum tertangkap. "Kini ketiganya sedang dicari-cari. Kami akan cocokkan apakah identitas mereka sama dengan identitas dari potongan tubuh korban bom Kedubes Australia yang kini berada di RS Polri," ujar dia. Para tersangka itu nantinya akan diminta bantuan untuk mengidentifikasi potongan-potongan tubuh tersebut. 45 Menit Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar mengaku belum mengetahui apakah Kepala Satuan Khusus Antiteror Polri Brigjen Gorries Mere termasuk salah seorang yang menerima ancaman akan adanya pengeboman 45 menit sebelum terjadi ledakan bom di depan Kedubes Australia Jalan HR Rasuna Said Jakarta Selatan. ''Saya belum bertemu Gories Mere. Jadi, saya belum tahu apakah berita itu betul atau tidak,'' ungkapnya saat menjawab pertanyaan wartawan seusai bertemu dengan Menlu Australia Alexander Downer di Mabes Polri, Jumat (10/9). Sebelumnya, Menlu Australia kepada wartawan mengungkapkan, pihaknya telah diberitahu bahwa ada Brigade Mobil (Brimob) menerima SMS dari seseorang pada 45 menit sebelum pengeboman terjadi di Kedubes Australia. Menurut penuturannya, berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, SMS itu berisi ancaman akan ada penyerangan teroris di kedubes-kedubes negara-negara Barat, kecuali jika Abu Bakar Ba'asyir dilepas dari penjara. ''Kami baru mengetahui hal ini tadi pagi tetapi belum memutuskan apakah hal itu dianggap serius atau tidak. Dan, apakah ini bisa menjadi jejak baru atau tidak,'' tegas Downer. Sementara itu, saat memberi keterangan pers seusai bertemu dengan Menlu Hassan Wirajuda di Gedung Pancasila, Pejambon, Jakarta, Downer menekankan, Australia dan Indonesia akan bersama-sama mengejar para teroris yang mengebom depan Kedubes Australia. ''Bersama-sama Indonesia, kami akan memerangi terorisme dan kami akan memenangkan perang itu,'' ujar Downer sambil menyebutkan, Australia dan Indonesia telah menjadikan teroris sebagai musuh bersama. Karena itu, kata Downer, kendati tidak ada warga negara Australia yang menjadi korban jiwa dalam ledakan, pemerintahnya berkepentingan untuk memerangi terorisme selain karena Australia juga ternyata menjadi target serangan pada Kamis (9/9). ''Tanggung jawab Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia adalah untuk menangkap para pelaku dan membawanya ke pengadilan,'' ucap Downer. Mobil Zebra Ledakan bom yang menggemparkan warga Jakarta hingga radius 5 km itu menimbulkan banyak dugaan soal jenis bom termasuk siapa yang meledakkan dan modusnya. Namun, polisi kemarin dengan lugas menyatakan sumber ledakan bom itu dari sebuah mobil Daihatsu Zebra hijau muda dengan sliding door. Kepastian jenis mobil itu diperoleh dari tim teknisi Daihatsu yang didatangkan untuk memeriksa bangkai mobil yang dicurigai. Sementara itu, menurut keterangan saksi-saksi, mobil itu berhenti tujuh hingga delapan meter sebelum pintu gerbang Kedubes Australia. Hal itu disampaikan Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri yang juga Ketua Tim Investigasi Bom di Kedubes Australia Komjen Suyitno Landung. Sementara itu, Kapuslabfor Polri Brigjen Dudon Satiaputra mengatakan, temuan di lapangan menunjukkan tidak mungkin ledakan tersebut berasal dari motor karena membuat lubang sedalam 47 cm dengan diameter lebih kurang tiga meter. ''Melihat sumber ledakan tidak mungkin itu motor,'' tandasnya. Selanjutnya, dugaan bahwa ledakan tersebut dilakukan dengan aksi bom bunuh diri juga semakin kuat. Berdasarkan keterangan saksi-saksi, mobil tersebut berhenti dan langsung meledak. ''Diperkirakan, tersangka masih berada di dalam mobil ketika mobil itu meledak. Belum diketahui, berapa orang yang berada di dalam mobil,'' ungkapnya. Kabareskrim Suyitno mengemukakan, bahan ledakan yang digunakan oleh para pelaku adalah TNT dan sulfur. Berdasarkan penelitian labfor, bahan bom yang digunakan adalah TNT dan sulfur sehingga terlihat ada asap putih setelah bom meledak dan ke depan Polri akan menelusuri asal TNT itu. Belum Teridentifikasi Sementara itu, Kadiv Humas Polri Irjen Paiman mengakui, sampai saat ini pihaknya belum dapat mengidentifikasi potongan tubuh atas tiga korban yang diduga pelaku pengeboman. Potongan tubuh itu sedang dirangkai di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur. ''Bagian tubuh yang terpental jauh sekarang sedang kami lakukan penyatuan, selain kami combine dengan darah yang terdapat di potongan tubuh di kendaraan Daihatsu,'' tuturnya. Disamping itu, polisi juga masih memeriksa sejumlah saksi yang melihat Daihatsu Zebra yang berhenti tepat di depan pos pemeriksaan Kedubes Australia lebih kurang pukul 10.00. Dari rekaman pada CCTV, polisi sedang memproses asal kedatangan mobil tersebut. ''Itu kan tidak direkam secara keseluruhan, itu di jalan letaknya, tidak di dalam kompleks, di luar pagar. Makanya, kita tunggu hasilnya,'' papar Paiman. Potassium Chloride Pada hari yang sama, Kepala Kepolisian Federal Australia Mick Keelty mengungkapkan, bom yang meledak di depan Kedutaan Australia menggunakan bahan baku sekitar 200 kilogram potassium chloride. ''Bahan kimia yang digunakan sama dengan bom Bali dan Hotel JW Marriott,'' kata Keelty dalam acara jumpa pers di Hotel Borobudur, Jumat (10/9). Dia mengemukakan, ada banyak kesamaan antara bom Kuningan dan bom Bali serta Marriott dalam hal serpihan bom dan modus operandinya. Pada kesempatan terpisah, Menteri Luar Negeri Noer Hassan Wirajuda menyampaikan penghargaan pemerintah terhadap tawaran kerja sama dan bantuan Australia dalam menangani tragedi bom itu. ''Tidak diragukan lagi, serangan teroris ini bertujuan melumpuhkan ketahanan dan kemampuan Indonesia,'' tegas Wirajuda. Mengarah ke Azahari Sebelum dan setelah tragedi di Kedubes Austalia, Kapolri Da'i Bachtiar berulang-ulang menyebut dua tokoh teror bom di Indonesia yang belum tertangkap, Dr Azahari dan Noor Din Moh Top. Kemarin pun, Kapolri dengan lugas mengemukakan, pihaknya tetap mengarahkan penyelidikan pelaku peledakan bom itu kepada kedua buronan itu. Dia mengungkapkan, polisi sebenarnya sudah mendeteksi keberadaan Dr Azahari dan Noor Din Moh Top di Cengkareng, Jakarta Barat, dua hingga tiga bulan lalu. ''Kami sudah mendeteksi mereka berada di sekitar Cengkareng. Kami menemukan (rumah) kontrakannya tapi sudah pindah lagi.'' Hal itu disampaikan Kapolri seusai mendampingi Presiden Megawati Soekarnoputri menerima Menteri Luar Negeri (Menlu) Alexander Downer. Menurut keterangannya, polisi mendatangi sebuah rumah kontrakan di bilangan Cengkareng tapi Azahari dan Noor Din sudah meninggalkan daerah itu tiga hari sebelumnya. ''Kami cari dan temukan tempat itu, kami tanya tapi tiga hari lalu orang itu sudah meninggalkannya. Dari ciri-cirinya, dialah itu,'' ujarnya. Kapolri mengakui, aparat mengalami kesulitan untuk melacak keduanya karena mereka selalu berpindah-pindah tempat. Kapolri juga menyinggung peminjaman Ali Imron dari tahanan sebagai upaya mencari sisa-sisa pelaku bom Bali dan Marriott. (bu, A20,dtc-78j) |