| Sabtu, 11 September 2004 | MURIA |
PDAM Semakin Kesulitan Air Baku
BLORA - Memasuki paruh bulan September 204 ini yang belum ada tanda-tanda turun hujan, membuat PDAM Blora semakin kelimpungan, menyusul semakin minimnya air baku yang diolah. Menurut Plt Dirut PDAM, Riyanto, hingga saat ini meski minim masih bisa memanfaatkan air dari Waduk Tempuran. "Mudah-mudahan segera ada hujan. Kalau segera ada turun hujan kami akan selamat," ungkapnya kepada Suara Merdeka, kemarin. Menurutnya, diperkirakan hanya tinggal akhir bulan ini pihaknya bisa mengambil air dari Waduk Tempuran, mengingat air di waduk yang sebetulnya bisa diandalkan sebagai tempat wisata di Blora saat ini memang benar-benar sudah kritis. "Ya paling-paling hanya sampai akhir bulan ini kami bisa memanfaatkan air dari waduk itu. Saat ini memang masih bisa mengambil air dengan debet 20 l/detik," jelas Riyanto. Ketika diingatkan tentang air di Ngampel, dijelaskan, di tempat itu mesin milik PDAM belakangan ini hanya bisa opersional 6 jam setiap harinya, disebabkan surutnya air memang sudah luar biasa. Pada hari-hari biasa PDAM bisa operasional selama 24 jam dengan debet 20 liter/detik. Yang cukup menggembirakan, air dari Kajar hingga saat ini masih dalam kondisi normal sehingga cukup bisa membantu untuk mensuplai air ke sekitar 500 pelanggan yang ada di Blora Kota. Sistem Gilir Dengan semakin menipisnya iar baku di tiga tempat (Kajar, Tempuran dan Ngampel) itu, lanjutnya, dengan sangat terpaksa PDAM Blora memberlakukan sistem gilir kepada pelanggan yang ada di Blora. "Bahkan tidak menutup kemungkinan, kalau memang sudah tidak memungkinkan, nantinya terpaksa PDAM akan droping ke sejumlah pelanggan yang aliran airnya macet total." Kondisi semakin menyusutnya air baku juga terjadi pada air baku di Sendang Putri Todanan, di mana selama ini digunakan untuk menyuplay sekitar 600 pelanggan yang ada di daerah Kecamatan Ngawen dan Kunduran. Dikemukakan, karena penyusutannya sudah cukup drastis, dengan sangat terpaksa suplay air bagi pelanggan di Ngawen dan Kunduran juga digilir, yakni dua hari untuk pelanggan di Ngawen dan dua hari berikutnya untuk memenuhi pelanggan yang ada di wilayah Kecamatan Kunduran. Hingga saat ini belum diketahui upaya yang akan dilakukan Pemkab untuk mengatasi minimnya air baku pada setiap musim kemarau. Menurut informasi, sebenarnya di wilayah Todanan ada beberapa sumber air dengan debet yang memadai untuk ukuran bisa diolah. Persoalannya, untuk mengeksploitasi sumber air itu memerlukan biaya yang cukup besar, sehingga sampai saat ini belum ada solusi bagaimana jmengatasi minimnya iar baku yang dikelola PDAM, sehingga dapat dipastikan, setiap tah |