logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 11 September 2004 MURIA
Line

Kesulitan Air di Sejumlah Kecamatan Kian Parah

  • Pemkab Sudah Drop ke 70 Desa

BLORA - Meski sudah pernah turun hujan dua kali, kekeringan di Blora belakangan ini terus meluas, terutama warga di beberapa wilayah kecamatan yang setiap musim kemarau selalu langganan kesulitan air.

Dari Bagian Sosial Setda Blora diperoleh informasi, hingga saat ini Pemkab telah melakukan pengedropan ratusan tangki air ke 70 desa yang tersebar di 13 kecamatan di Blora.

"Sejumlah desa di 13 wilayah kecamatan sudah kami drop air, jumlahnya sudah ratusan tangki, kalau tidak salah sudah ada sekitar 280 tangki. Sampai hari ini (kemarin -Red) armada kami terus menggelinding melakukan pengedropan air ke desa-desa," jelas Kasubag Kesejahteraan, Bagian Sosial Setda Blora Drs Rudi Sugiarto kepada Suara Merdeka, kemarin.

Menurutnya, hingga saat ini hanya tiga kecamatan yang belum didrop air, masing-masing kecamatan Kradenan, Sambong, dan kecamatan Todanan. Alasannya, tingkat kesulitan warga di tiga wilayah kecamatan tersebut, hingga saat ini belum parah. "Kami sudah memantau langsung di lapangan, tingkat kesulitan yang dialami warga untuk kebutuhan air belum begitu parah," jelas Rudi.

Semakin Parah

Dari pantauan, tingkat kesulitan warga di wilayah Kecamatan Jati dan Kunduran saat ini semakin parah. Sebelumnya, Camat Jati S Wiryanto mengungkapkan, beberapa warga di sejumlah desa di wilayah kerjanya, tingkat kesulitannya sudah dapat dikatakan kritis.

Sumur warga sudah kering, sungai sudah kering, dan sejumlah warga terpaksa harus menempuh jarak antara 3 - 5 km guna mencari air.

Di wilayah Kecamatan Jati, kecamatan paling ujung barat selatan di Blora ini, memang sudah cukup lama selalu rawan air pada setiap musim kemarau. Pasalnya, di wilayah kecamatan ini tidak ditemukan sumber air dengan debit besar. Pemkab Blora sebenarnya sudah beberapa kali berupaya mencari sumber air, namun hingga saat ini belum berhasil menemukan.

Sementara itu, seorang warga Desa Klokah, Kecamatan Kunduran, Sumarjo mengemukakan, tingkat kesulitan warga untuk mendapatkan air di desanya belakangan ini semakin parah. Untuk mendapatkan air, sebagian warga harus pergi ke Desa Trembulrejo atau ke Desa Tawangrejo yang jaraknya berkisar empat kilometer.