logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 11 September 2004 SEMARANG
Line

Tukang Ojek di Salatiga

"Yang Penting Anak dan Istri Tak Kapiran"

PROFESI tukang ojek memang bukan cita-cita Eko Sutrisno (35), Husodo (42), dan lainnya yang berada di sudut-sudut jalan Kota Salatiga yang tidak dapat dilalui angkutan umum. Mereka pada umumnya menyatakan terpaksa menjalani pekerjaan itu karena terhimpit kebutuhan ekonomi dan keluarga yang semakin mendesak di tengah-tengah situasi ekonomi yang tidak menentu sekarang.

Bahkan beberapa di antara mereka mengaku meninggalkan pekerjaan lama sebagai buruh bangunan, karyawan pabrik, dan pekerja informal lainnya. Ada yang beralasan karena perusahaan bangkrut, terkena PHK lataran perusahaan tak mampu menggaji, dan berbagai alasan lainnya.

Namun, segala permasalahan itu tidak membuat mereka patah arang dan duduk termenung saja menanti "hujan" uang dari langit.

Justru hal itu membuat para tukang ojek, terus melanjutkan kehidupan mereka mengais rezeki mengantarkan penumpang ke tempat tujuan mereka.

Di tengah-tengah kondisi seperti itulah, apalagi kebutuhan dapur dan sekolah anak tidak bisa ditunda lagi, mereka mengambil profesi sebagai tukang ojek.

"Yang penting halal. Anak dan istri tidak kapiran di rumah," tutur Eko Sutrisno (35), tukang ojek yang berpangkalan di depan Mal Ramayana.

Pada hari-hari tertentu, mereka panen rezeki lantaran banyak penumpang. Hal itu biasa dialami mereka kala liburan, Lebaran, dan hari - hari besar lainnya. Saat itu, keuntungan yang dibawa pulang dapat mencapai Rp 100.000/hari.

Tapi, kalau sedang sial, mendapat uang Rp 3.000/hari, bisa saja terjadi. Sebab, mereka hanya mengangkut seorang penumpang. Uang sebesar itu merupakan ongkos yang diberi penumpang ke tempat tujuan.

"Kalau dihitung rata-rata, pendapatan kami sekitar Rp 10.000 hingga Rp 15.000/hari," paparnya.

Meskipun demikian, bapak tiga orang anak itu mengaku berusaha menabung kala mendapat rezeki banyak, sehingga dapat dimanfaatkan sewaktu-waktu saat kebutuhan uang lebih banyak.

Lain halnya dengan Husodo (42) warga Dukuh Krajan, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo yang mengaku saat ini kebutuhan menyekolahkan anaknya sangat tinggi.

Sampai-sampai sudah dua bulan ini dia tidak membayar cicilan kendaraan operasionalnya karena lebih diprioritaskan untuk biaya sekolah anak.

"Saya tidak menyetor cicilan sebesar Rp 358.000 selama dua bulan ini. Sebab, untuk biaya ujian dan wisuda anak saya yang kuliah di Akademi Perhotelan Semarang," paparnya sambil termangu.

Keputusan tidak membayar cicilan motor itu terpaksa dilakukan karena lebih memprioritaskan biaya sekolah anak.

Meskipun sudah ditagih membayar cicilan, bapak tiga anak itu masih meminta waktu penundaan.

"Kalau sudah begini mau bagaimana lagi. Dan, pihak dealer motor mau menerima alasan kami," ujar dia.

Sebelah Mata

Di tengah-tengah kesulitan yang dihadapi para tukang ojek tersebut, mereka berharap agar pekerjaan halalnya, yang kadang dipandang sebelah mata oleh orang lain itu tidak diganggu.

"Kami mengakui kalau tukang ojek kadang dianggap pekerjaan sepele, namun banyak orang sudah tertolong karena usaha tukang ojek," aku Husodo.

Selain itu, mereka juga berada dalam wadah beberapa tukang ojek, yang memiliki aturan-aturan kerja. Terbukti, ada aturan pembagian jatah mengantar pemakai jasa tukang ojek secara bergilir, tanpa ada keributan.

Terkait kericuhan pembakaran bangunan pangkalan ojek yang terjadi Kamis (9/9) lalu, Eko Sutrisno sangat menyayangkan upaya paksa penggusuran pangkalan mereka.

"Semua ini karena tidak ada komunikasi yang baik antara instansi yang berwenang dan kami. Seharusnya kami diajak berembuk dulu mana yang baik. Toh kami telah berusaha agar pangkalan kami tidak mengganggu orang banyak," ujar dia. (Surya Yuli P-91r)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA