logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 07 September 2004 SEMARANG
Line

45 Tahun Toko Buku Merbabu

Ikuti Zaman agar Tetap Jadi Jujugan

TANGGAL 7 September 1959 Oei Tiong Djioe tidak membayangkan, Toko Buku Merbabu yang didirikannya bisa semegah dan sebesar sekarang. Maklum saja, di awal pendirian, Pak Oei (begitu biasa disapa-Red) hanya ingin menghabiskan waktu kosong selepas purna bhakti dari pemerintahan dengan tetap bertahan di rumah dan berkegiatan yang bermanfaat.

Kalau kemudian pilihannya dijatuh pada berjualan buku sebagai pilihan terakhir dan ternyata toko tersebut hingga sekarang masih tegar berdiri, itu karena kuasa Tuhan.

Untuk menjajakan buku, Pak Oei pada awal pendirian tokonya mengorbankan ruang tamu di depan rumah dan dirombak sedemikian rupa dengan meletakkan sebuah meja, beberapa rak buku, satu toonbank dan satu lemari kecil yang berisi alat-alat tulis. Itu terjadi pada 45 tahun silam.

Keteguhan dan keuletan pria kelahiran Lasem, Rembang 22 November 1904 inilah yang menjadikan toko ini tetap bertahan hingga sekarang. "Dia terkenal akrab, ramah dengan semua kalangan dan mau melayani sendiri. Itu membuat toko ini terus berkembang dan mampu menjalin pelanggan banyak," kata Djoko Suntoro, supervisor toko Merbabu, Senin (6/9).

Kian lama, papar Djoko, Merbabu makin dikenal masyarakat banyak hingga dicantumkan sebagai toko buku terbaik di Semarang dalam "Indonesia Handbook" oleh Bill Dalton (USA) yang menjadi buku panduan pariwisata yang beredar di seluruh dunia.

Persaingan

"Di awal pendirian mencari buku susahnya minta ampun, namun karena kegigihan Pak Oei dan seiring perkembangan teknologi jumlah buku semakin meningkat, sehingga dia harus memperluas toko dengan mengorbankan rumahnya."

Djoko mengungkapkan, agar toko Merbabu tetap menjadi jujugan (tujuan utama) masyarakat untuk mencari buku di tengah persaingan toko buku yang kian gencar. Selama ini mereka pun tetap memegang kunci pelayanan yang diberikan Oei Tiong Djioe, yaitu 3S dan 3M. "Senyum, salam, sapa dan manarik, melayani serta memuaskan. Karena itu, pelanggan tetap setia kepada kami saat mencari alat tulis dan alat kantor," jelasnya.

Memasuki usia ke-45 tahun, harus diakui persaingan penjualan buku di Semarang semakin ketat, seiring dengan bertambahnya jumlah toko buku untuk merebut pasar di awal tahun pelajaran baru sekolah. Toko Merbabu selama ini mencatat angka pengunjung rata-rata per hari 1.200 orang hingga 1.600 orang di akhir pekan ini. (Widodo Prasetyo-73r)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA