logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 September 2004 SALA
Line

Gerakan Minum Susu Perlu Dihidupkan Lagi

GERAKAN minum susu yang pernah digalakkan, tampaknya perlu dihidupkan lagi. Meski tidak banyak membawa pengaruh terhadap peningkatan produksi, paling tidak susu segar Boyolali tetap eksis.

Selain itu, juga menunjukkan kepada publik bahwa susu segar masih menjadi unggulan dan digemari semua kalangan.

Suratno (34), salah seorang peternak di Kecamatan Boyolali menuturkan, gerakan minum susu sudah beberapa kali dilakukan.

Tetapi hanya berkesan obor-obor blarak. Dengan kata lain, hanya sesaat; dan setelah itu tenggelam lagi, tidak ada gaungnya.

Namun demikian, lanjutnya, kenyataan tersebut tidak menjadi persolaan. Sebab, harus diakui, bila tiap hari minum susu bisa jenuh dan bosan.

Bila sekarang ini kembali digalakkan, salah satu tujuannya adalah agar susu segar Boyolali tetap berkualitas dan tidak ada lagi pembuangan. Dengan demikian, masyarakat luas tetap meyakini susu segar Boyolali berkualitas.

''Jadi, selayaknya kembali digerakkan minum susu, baik kepada karyawan maupun kalangan pelajar,'' katanya.

Tak Campur Air

Sebelumnya diberitakan, ribuan liter susu segar dari beberapa KUD di Kabupaten Boyolali terpaksa dibuang lantaran tidak bisa memenuhi standar kualitas.

Pembuangan susu itu dilakukan sejak April, atau saat Industri Pengolahan Susu (IPS) di Jakarta menaikkan standar kualitas.

Sejak April, susu yang dibuang di Bengawan Solo dan lahan persawahan mencapai ratusan ribu liter. ''KUD membuang susu, karena petani tidak bisa memenuhi standar kualitas yang ditentukan IPS,'' kata Ketua I KUD Boyolali Kota, Winarno.

Nining (27), salah seorang pemilik rumah makan di Gemolong, Kabupaten Sragen, saat ditemui di KUD Boyolali Kota beberapa waktu lalu mengatakan, susu segar yang langsung dibeli dari KUD pasti aman dan tidak mungkin dicampuri air. Susu Boyolali sudah dikenal, dan rasanya nikmat.

''Karena itu sayang, kalau warga Boyolali sendiri tidak memanfaatkan. Mestinya perlu digalakan minum susu,'' katanya.

Menurut salah seorang pengurus KUD, gerakan minum susu tetap membawa pengaruh terhadap peningkatan produksi.

Apalagi bila dilakukan secara rutin, dan diikuti oleh masyarakat luas.

Nasib peternak pada musim kemarau ini kurang menguntungkan, karena kesulitan mendapatkan air bersih. Dampaknya, produksi susu berkurang.

''Kalau pemerintah menggerakan lagi, saya kira ada peningkatan, meski tidak terlalu banyak,'' katanya.

Manager KUD Musuk, Edy Nirmolo mengatakan, sejak IPS meningkatakan standar kualitas, produksi susu memang mengalami penurunan.

Biasanya, produksi susu KUD Musuk 28.000 liter/hari, tapi sekarang turun menjadi 24.000-25.000 liter/hari. Upaya meningkatkan produksi susu bisa dilakukan berbagai cara. Di antaranya, meningkatkan standar kualitas susu, sehingga IPS bisa menerima. Selain itu, masyarakat banyak yang menyukai minum susu.

''Agar susu dapat ditampung IPS, saya terus memberikan penyuluhan kepada peternak agar meningkatkan kualitas,'' katanya. (Suti Harjoyo-20a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA