| Senin, 06 September 2004 | SALA |
Pemakaian Rusun Tak JelasKOTA - Penempatan 55 calon penghuni rumah susun sederhana sewa (rusunawa) semakin tidak jelas, menyusul penolakan warga sekitar terhadap keberadaan sumur dalam dan sumur dangkal untuk memasok air ke tempat itu. Meski fisik bangunan lima lantai di RT 5 RW 3 Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan itu sudah rampung, instalasi airnya belum tersedia lantaran PDAM tidak mampu memenuhi kebutuhan air calon penghuni rusunawa. "Belum bisa dipastikan kapan rumah susun itu bisa ditempati. Sebab sumber airnya belum diperoleh. Tidak mungkin penghuni diminta pindah jika fasilitasnya belum terpenuhi, terutama air yang merupakan kebutuhan vital," ujar Kepala Subdinas Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum, Ir Sri Adhyaksa, kemarin. Sebelumnya, Plt Kepala DPU Ir Tjeng Haedar memaparkan, rusun tersebut siap ditempati awal 2004 mendatang. Pemkot akan membangun sarana infrastruktur seperti pagar keliling BRC, paving, hidran, dan penyambungan pipa-pipa dari petak hunian ke ground tank setelah fisik rampung. Untuk pembangunan itu Pemkot mengalokasikan dana pendamping Rp 325 juta. Proyek pendamping itu dijadwalkan usai pada akhir tahun ini. Namun jika sampai awal 2004 instalasi air belum ada, kata Adhyaksa, otomatis rusun tidak akan ditempati. "Kami belum menemukan cara untuk instalasi airnya. Sebab, sumur dalam dan dangkal ditolak warga sekitar. Adapun PDAM tidak mungkin memasok air sekarang dan menjanjikan baru 2005 mendatang bersedia. Sebab saat itu PDAM mulai mengolah air permukaan," ungkapnya. Air Tangki Selain air dari PDAM, kemungkinannya sangat kecil karena kebutuhan air untuk 96 petak yang ada jumlahnya cukup besar dan harus kontinu. Departemen Kimpraswil pernah mengusulkan, pemenuhan air dilakukan dengan membelinya dalam jumlah besar melalui tangki. Namun hal itu sangat diragukan lantaran hingga sekarang belum ada perusahaan pemasok air dalam jumlah besar di Solo. Selain itu dikhawatirkan pula kontinuitasnya. Pada bagian lain, Adhyaksa mengemukakan, pada 4 Oktober mendatang bangunan senilai Rp 6,55 miliar yang dibiayai Departemen Kimpraswil bakal diresmikan. Rencananya, peresmian itu dilakukan secara langsung oleh Presiden atau Menteri Kimpraswil, Dr Ir Soenarno Dipl HE. Sebab, rusunawa di Solo merupakan proyek percontohan permukiman yang akan diterapkan di 10 kota lain. Adapun unit pengelola teknis (UPT) yang bakal menentukan beberapa hal berkait dengan bangunan yang hanya bisa disewa tersebut, hingga sekarang baru digodok oleh Pusat. Kemungkinan awal Oktober atau sebelum peresmian, baru akan terbentuk. UPT itu antara lain akan merumuskan tarif sewa, kriteria yang bakal menempati rusun, dan aturan untuk penghuni.(G18-17i) |