| Senin, 06 September 2004 | RAGAM |
Masalah Menata HatiT: Prof Amin, akhir-akhir ini saya sering gelisah, pikiran tak menentu, dan perasaan ingin marah tapi tak tahu harus marah kepada siapa? Sebab seringkali apa yang sudah saya rencanakan dan dipersiapkan, tak kunjung hasil. Tetapi justru datang sesuatu yang tidak saya harapkan, bahkan saya hindari. Apa ada cara untuk menenangkan pikiran dan perasaan? Mohon bantuan Bapak. Harsoyo, di Kebumen J: Saudara Harsoyo, semoga kekuatan dan ketabahan selalu menyertai Anda. Pertanyaannya sangat baik, mendasar dan banyak dialami kebanyakan orang. Anda beruntung karena mau dan mampu mengungkapkannya dalam pertanyaan kepada orang lain. Banyak orang yang tidak bisa seperti Anda. Jika demikian halnya, kegelisahan akan berlarut-larut, membuat pikiran kita disstress (stress yang sangat menekan) bahkan bisa depresi. Sebenarnya pertanyaan Anda tidak cukup dijelaskan dengan kalimat verbal, yang ujung-ujungnya akan berada dalam pemahaman, belum masuk ke dalam lubuk hati terdalam. Seseorang akan bisa merasakan sesuatu kalau orang itu pernah merasakan sesuatu itu, misalnya rasa minuman kopi, orang lain tidak akan bisa merasakannya kalau dia sendiri tidak pernah meminumnya. Anda inginkan ketenangan batin, tetapi seperti apa ketenangan itu dan bagaimana cara memperolehnya? Semua itu perlu dicobakan, dilatih dan dihayati, tidak hanya difahami saja. Jika sebatas pemahaman, itu baru dalam tataran kognisi, belum ke hati. Saudara Harsoyo, memang demikian hidup ini. Sering kita mengharapkan sesuatu tetapi dalam kenyataannya, tidak ditemukan. Kita membayangkan keenakan, ternyata yang kita temui ketidakenakan. Kita selalu ingin sehat tapi nyatanya kena penyakit. Kita ingin laba tetapi kerugian yang kita derita. Kita mengharapkan orang lain baik kepada kita, tetapi dalam kenyataannya sebaliknya, dan sebagainya. Sehingga inti persoalannya ialah adanya kesenjangan antara idealitas dengan realitas. Dalam hidup ini kita memang harus berusaha dan berjuang. Bahkan dorongan Allah untuk itu jelas, yakni manusia harus mau mengubah hidupnya (kepada yang lebih baik) jika ingin Allah mengubahnya (QS 13 al-Ra'du:11). Namun perlu kita sadari bahwa hidup kita ini tidak sepenuhnya berada di tangan kita. Lebih-lebih yang terjadi di luar diri kita. Ketika kita sudah berjuang keras namun hasilnya tak sesuai dengan harapan, memang bisa membuat kecewa bahkan stress, marah dan berontak. Tapi, untuk apa? Apa kemarahan kita bisa mengubah keadaan? Atau jangan-jangan semakin memperparah keadaan. Seringkali ini yang terjadi? Allah memang telah menunjukkan resep-Nya dalam QS 2 al-Baqarah: 155-157 yang intinya supaya sabar, mengembalikan segalanya kepada Allah, agar Allah memberinya berkah dan kasih-Nya. Tapi bagaimana caranya? Ini berkaitan dengan persoalan menata hati. Bagaimana kita bisa memenej Qalbu kita, sebab hati adalah sentral aktivitas seseorang. Mana kala hati baik maka seluruh tubuh akan prima. Baik dalam arti akhlak maupun dalam arti kesehatan. Seperti pernah disabdakan oleh nabi Muhammad saw: Ala inna fil jasadi mudlghah, idza shaluhat shaluhal jasadu kulluh, wa idza fasadat fasadal jasadu kulluh, ala wahiyat qalb (HR Bukhari). (Ketahuilah bahwa dalam diri manusia adalah segumpal darah, apabila baik, maka akan baiklah seluruh tubuh dan apabila rusak, maka akan rusaklah seluruh tubuh manusia, ketahuilah, ia adalah hati). Dalam kaidah yang sering kita dengar ialah: wamaa summiyal qalbu illa annahuu yataqatlabu (tidak dikatakan qalbu (hati) kecuali karena dia selalu berbolak-balik). Hati kita memang mudah mempengaruhi dan juga dipengaruhi oleh keadaan diri. Oleh karena itu dalam mengelola hati harus dilakukan dengan kiat tertentu, perlu ''seni'', karena seni dapat menghaluskannya. Ketika hati menjadi halus, maka akan bisa mengevaluasi dan introspeksi (muhasabah) diri, atas segala dosa-dosa yang selama ini dilakukan. Jika seseorang sudah merasakan lega karena beban tersebut sudah lepas darinya, maka selanjutnya akan memperbaiki dan tidak akan mengulang apa yang pernah dilakukan. Jika perasaan demikian, maka hati menjadi mudah menerima kenyataan, (legowo: Jawa) dalam segala keadaan. Apa yang saya sampaikan itu bisa diusahakan oleh diri sendiri dengan mujahadah (sungguh-sungguh) dan riyadlah (berlatih) atau bisa dibantu oleh orang lain. Akan lebih mudah manakala mau mengikuti pelatihan menata hati yang dilaksanakan oleh suatu lembaga tertentu, misalnya di Semarang ada LEMBKOTA (Lembaga Bimbingan dan Konsultasi Tasawuf). Menurut informasi lembaga ini akan mengadakan Pelatihan Seni Menata Hati angkatan ke VII pada tanggal 11 dan 12 September 2004 di Hotel Grasia, Jalan Letjen S Parman Semarang. Dalam pelatihan itu dikombinasikan antara perasaan senang dan sedih, gembira dan sesal. Diajak berdzikir dan muhasabah dengan metode training modern. Penciptaan suasana yang penuh dengan sentuhan-sentuhan hati yang mengharukan, dapat mengantarkan kesadaran akan kehambaan kita kepada Allah SWT, mencerahkan problema kehidupan, sehingga kita bisa mencapai ketenangan, kebahagiaan dan kedekatan diri kepada Allah SWT. Barangkali pelatihan seperti ini yang Saudara butuhkan, karena persoalan yang Anda alami memang perlu ''diterapi'', sebab akan membahayakan keimanan dan bisa berburuk sangka kepada Allah. Demikian Wallahu a'lam bish shawab.(35) Bagi yang berminat dengan rubrik ini, kirimkan surat ke alamat Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo, d/a LPK2 (Lembaga Pengembangan Keagamaan dan Kemasyarakatan) dan Lembkota Jl. Boja Km 1, Ngalian Semarang, Telepon (024) 70124706. Di atas sebelah kiri amplop ditulis "Interaktif Tasawuf" |