| Senin, 06 September 2004 | PEMILU 2004 |
Pilih Presiden yang Berani Memberantas KorupsiSLAWI- Nahdliyyin diminta memilih presiden sesuai dengan hati nurani. Paling tidak pilih presiden yang berani memberantas korupsi dan tegas dalam kepemimpinannya. ''Nahdliyyin jangan mau dipengaruhi suap. Dosa namanya. Selain itu, sangat bertentangan dari hati nurani,'' kata KH Ir Salahuddin Wahid (Gus Solah) saat berpidato di hadapan ribuan orang yang menghadiri Haul Ke-30 KH Said bin KH Armia di Pondok Attauhidiyyah, Desa Giren, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, kemarin. Kedatangan mantan cawapres pasangan Wiranto ke pondok itu memang menarik perhatian warga. Apalagi sejumlah kiai dan ulama Kabupaten Tegal, termasuk KH Ahmad bin KH Said bin KH Armia, tampak akrab dengannya. Dalam wejangannya, dia mengaku tidak kecewa setelah gagal terpilih sebagai wapres. Tetap Netral Untuk pilpres putaran kedua, dia yang juga tokoh NU menyatakan akan tetap netral. Sebab organisasi NU memang bukan organisasi politik, melainkan bidang keagamaan. Karena itulah, pilihan terbaik nahdliyyin adalah memilih presiden yang dapat membawa perubahan. Perubahan yang dikehendaki adalah di bidang ekonomi, moral, dan agama. Di bawah presiden Indonesia mendatang, ekonomi Indonesia harus bangkit. Sosoknya juga harus berani bertindak tegas dalam memberantas korupsi. KH Ahmad bin KH Said bin KH Armia, pimpinan dan pengasuh Pondok Attauhidiyyah Giren (Talang) dan Cikura (Bojong), sangat mendukung soal sisi kenetralan nahdliyyin dalam pilpres putaran kedua. ''Biarkan saja tokoh-tokoh NU berpolitik. Yang terpenting, tugas kiai adalah mendidik santri agar agama Islam tidak disepelekan. Kalau seluruh kiai berpolitik, sangat berbahaya. Siapa yang mau mengasuh pondok, menyebarkan agama Islam?'' katanya. Kalau ada tokoh NU yang mencalonkan wapres datang ke pondok dan minta doa restu, pihaknya hanya sebatas mendoakan. Tidak ikut-ikutan dukung-mendukung salah satu kubu capres-cawapres.(D12-83t) |