| Senin, 06 September 2004 | WACANA |
Surat PembacaMontir Tangan JahilKejadiannya 19 Agustus 2004 di bengkel Wibowo Jl Imam Bonjol Semarang saat saya memperbaiki kabel spedometer mobil Kuda sekitar pukul 08.30 - 10.00 Wib. HP saya yang sedang dicas dalam mobil yang diperbaiki oleh 4 montir raib, tetapi tidak dapat menuduh montir mana yang mengambil. Saya sarankan hati-hati terhadap montir yang bertangan jahil dan jangan mudah percaya pada orang lain. Agus Sudiarso *** Untuk Kolektor Saya punya barang kuno berupa sebilah samurai panjang, lentur dengan ciri dalam 1 sarung terdapat senjata yaitu 1 bilah samurai panjang 100 Cm, 1 pisau panjang 60 Cm dan 1 pisau pendek 20 Cm. Samurai panjang bentuknya pipih dan lentur sehingga dapat dihubungkan antara ujung samurai dan ujung tangkai menjadi bentuk O. Pada bilahnya (sebelah menyebelah) terdapat : lambang bendera Jepang, gambar naga dan bola api, huruf Jepang, gambar segitiga 9 buah, gambar bintang warna perunggu 9 buah dan angka 1713 yang mungkin menunjukkan tahun pembuatan. Sarung terbuat dari kulit dan lempengan kuningan dengan tanda bintang 3 buah. Kepada penggemar/kolektor barang antik melihat dengan menghubungi anak saya Wiwiek di 0281.625669 atau saya 081.327021592. P Hadi Utomo *** Problematika Pengajaran Bahasa Jawa di SMA Pengajaran Bahasa Jawa selama ini hanya diajarkan di tingkat SD dan SMP. Untuk SMA sederajat belum sepenuhnya dilakukan. Mengapa demikian ? Apakah lebih banyak mudharat-nya dibanding manfaatnya atau mungkin ada kesan terlalu klasik berbicara bahasa ibu. Sangat tepat bila Bahasa Jawa diajarkan sampai jenjang SMA agar tidak ada mata rantai yang terputus bagi siswa setelah lulus SMP. Lebih jauh, nilai dan pesan moral tetap akan tertanam pada diri siswa. Melihat fenomena sekarang dengan makin memudarnya loyalitas generasi muda dalam menggunakan bahasa Jawa dengan baik dan benar serta santun, maka sangat mungkin bila bahasa Jawa dimasukkan dalam pengajaran di tingkat SMA. Memang selama ini status bahasa Jawa sekadar muatan lokal wajib. Saya berharap kepada yang merasa menjadi wong Jawa, agar terus berupaya nguri-uri bahasa dan Sastra Jawa. Kenyataannya, hasil penelitian mengungkapkan bahwa pendidikan dan industrialisasi berdampak negatif terhadap pemertahanan pemakaian bahasa ibu (Jawa) pada generasi muda Jawa. Maka sangat luhur bila pelajaran bahasa Jawa secara menyeluruh diterapkan di SMA sederajat. Tentunya harus dipersiapkan lebih matang oleh tim pengembang kurikulum dan Pemprov serta Diknas agar tidak kehilangan jati diri. Walau telah diupayakan berbagai cara melalui seminar, penataran, maupun workshop dan lainnya. Alangkah indahnya bila diterapkan sejalan dengan kurikulum yang berlaku. Saya salut dan acungkan jempol bila SMA se-Jateng mau berpikir kongkret mengenai masalah ini. Orang Jawa agar tetap njawani. Tukijo *** Kaum Marhaen dan Marhaenis Saya rakyat Indonesia yang telah menerima marhaenisme sebaga ideologi, sebagai jalan hidup. Perkiraan saya, saat ini ada jutaan rakyat yang masih menerima ideologi tersebut. Namun keberadaan kaum marhaen dan marhaenis sekarang ini sungguh memprihatinkan. Tercerai berai. Padahal marhaenisme sedang mengalami tantangan zaman. Agenda yang paling dekat, apakah kaum marhaen dan marhaenis, bersama-sama dengan nasionalis lain, agamis dan nahdliyin, mampu mengantarkan Megawati, putri Bung Karno (Bapak Marhaenisme) dan KH Hasyim Muzadi menjadi pemimpin bangsa. Saya serukan kaum marhaen dan marhaenis merapatkan barisan untuk mensukseskan pasangan ini dalam pilpres putaran kedua. Apa pun partai tempat kini bergabung atau ada perselisihan dengan PDI-P, mari sejenak lupakan. Jangan sampai ada orang yang mengaku kader marhaenis, mengaku sebagai kaum marhaen, mengaku sebagai konco marhaen tapi tidak bergerak menwujudkan agenda besar kaum marhaen dan marhaenis tersebut. Ingatlah machtvorming. Ingat massa actie. Samen bundelling revoutionaire alle krachten. Bambang Pramusinto *** Curi Start Kampanye Seorang pejabat Pati akhir-akhir ini mengadaakan pertemuan dengan masyarakat desa di Kecamatan Maryogoso dengan dalih selapanan RT/temu kangen, di antaranya di Desa Bulumanis Kidul, Ngemplak Lor dan Cebolek. Mencermati materi yang disampaikan pejabat tersebut, saya sampaikan sbb: Dalam ceramahnya beliau menyampaikan dalam pilpres nanti hendaklah mencoblos salah satu calon. Menurut hemat saya hal tersebut dapat dikategorikan sebagai kampanye yaitu mengajak pihak lain untuk memilih calon tertentu. Terlebih lagi ajakan tersebut dikemukakan di luar jadwal kampanye. Dengan demikian terjadi pelanggaran terhadap larangan melakukan kampanye di luar jadwal yang telah di tentukan, sebagaimana diatur dalam Ps 89 (1) UU No 23/Th 2003 tentang Pilpres dengan ancaman pidana paling lama tiga bulan. Di samping itu keterlibatan pejabat untuk melakukan kampanye merupakan larangan (vide Ps 39 (1). Bahwa pejabat dalam jabatan negeri dilarang melakukan tindakan yang menguntungkan salah satu pasangan calon. Pelanggaran terhadap hal tersebut diancam pidana kurungan enam bulan (vide Ps 40 Jo Ps 89 (4). Saya tidak ingin peristiwa Banjarnegara terulang kembali di wilayah Pati, karena akan menimbulkan suasana yang tidak kondusif dan memperpanas suhu politik. Berkaitan permasalahan tersebut saya minta KPU, Panwaslu maupun aparat untuk mengambil tindakan. Demokrasi yang sesungguhnya hanya dapat tercapai bila rule of game ditegakkan. Saya yakin KPU dan Panwaslu sebagai lembaga independen berani mengambil tindakan tegas. Santoso Saraspati *** Uang untuk RT/RW Para ketua RT/RW Se-Kota Semarang telah menerima bantuan dana operasional dari Pemkot masing-masing sebesar Rp 50.000/tahun atau sekitar Rp 4.000/bulan. Meski jumlahnya tidak memadai mereka mengucapkan terima kasih kepada Wali Kota/Pemkot yang sangat perhatian dan peduli terhadap mereka. Pada umumnya RT/RW sebagai ujung tombak telah melaksanakan tugasnya dengan baik, bahkan dalam pemilu, meski tidak menerima dana khusus tetap membantu panitia di TPS yang dananya pun sangat terbatas. Kekurangan dana Pemilu di TPS tumpuannya tetap pada RT/RW . Semoga pada pemilu lanjutan RT/ RW tetap solid melaksanakan tugas pengabdian pada negara dan bangsa dengan semboyan sepi ing pamrih rame ing gawe (tanpa harapan mendapat sesuatu tetap menjalankan tugasnya dengan baik). Hidup RT/RW. Oentoeng Soetjipto |