| Senin, 06 September 2004 | KEDU & DIY |
Tembakau Petani Terancam Tak TerbeliTEMANGGUNG--Para petani tembakau di Kabupaten Temanggung khawatir, tembakau mereka tidak terbeli. Sebab, hingga menjelang akhir panen sekarang ini, masih banyak tembakau yang belum laku. Beberapa petani di daerah sentra, seperti Kecamatan Bulu, Parakan, Kledung, Bansari, Tretep, dan Ngadirejo, mengatakan, saat ini masih ada ribuan keranjang berisi tembakau berada di rumah mereka. Baik itu tembakau hasil petikan awal maupun petikan akhir, belum laku terjual. Mereka memperkirakan, jika pabrikan menghentikan pembelian pada akhir panen saat ini, akan banyak tembakau menumpuk di rumah. Karena setelah pabrikan berhenti, pembelian hanya dilakukan secara handelan (bukan pembelian pabrik) dengan harga rendah. ''Tahun-tahun lalu, harga handelan sangat rendah, yakni dalam kisaran antara Rp 3.000 sampai Rp 7.500 per kilogram. Lain dengan harga pabrikan, karena masih menggunakan standar pabrik,'' kata Tusyono (37), petani di Tretep. Menurut Tusyono, sekarang ini hampir semua petani masih memiliki tembakau keranjangan. Ada yang hanya dua atau tiga keranjang, karena yang lain sudah laku. Tapi juga ada yang lebih dari sepuluh keranjang, sehingga diperkirakan jumlah keseluruhannya mencapai ribuan. ''Di sinilah, kerugian petani akan semakin besar. Sebab untuk menunda penjualan sampai panen tahun depan, sudah tidak mungkin, baik karena kondisi ekonomi maupun kualitas barang,'' timpal Rumadi (46), petani di Parakan. Pihak pabrikan, baik Perwakilan PR Djarum maupun Gudang Garam yang dihubungi, belum bisa menjelaskan kapan akan melakukan penghentian pembelian. Tapi mereka mengemukakan, posisi pembelian sekarang sudah hampir mendekati target, yakni 5.000 ton untuk Gudang Garam dan 7.500 ton untuk PR Djarum. ''Soal target pembelian sudah hampir terlampaui. Tapi soal penghentian pembelian, kami hanya menunggu instruksi dari pabrik,'' kata sumber di Perwakilan PR Gudang Garam. Mereka menyatakan, biasanya pembelian pabrik dihentikan sekitar minggu pertama atau kedua September. Hal seperti itu, terjadi pada panen tahun-tahun lalu, karena pada waktu itu pabrik memastikan panen sudah berakhir. ''Kalau panen berakhir, berarti tembakau petani Temanggung sudah habis; makanya pabrik berhenti membeli. Soal sekarang masih ada tembakau, bisa dijual, meski tidak untuk pabrik,'' tambahnya.(nt-76a) |