logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 September 2004 KEDU & DIY
Line

NU Bersatu Jadi Kekuatan Dahsyat

BOROBUDUR--Yang kita perlukan saat ini adalah semangat persatuan warga NU. Jika tidak, NU tidak mungkin bisa mikraj, meski usianya 81 tahun. Tetapi kalau warga NU bersatu, dapat menjadi kekuatan yang dahsyat.

''Tetapi masalahnya, orang lain tidak mau melihat orang NU bersatu. Dan kadang-kadang, kita menjadi orang lain itu,'' kata Ketua PW NU Jateng, Drs Muh Adnan MA, Sabtu (4/9) malam.

Dalam istighotsah Israk Mikraj, HUT Ke-59 RI, dan HUT Ke-81 NU, di Gedung Pertemuan NU Kabupaten Magelang, ia mengingatkan, pejuangan NU diperuntukkan bagi masyarakat, umat Islam, serta bangsa dan negara.

Menurut dia, politik kebangsaan melekat sejak NU lahir. Kita lebih nasionalis daripada tentara. Komitmen itu tidak pernah luntur sampai detik ini. Karena itu, tak ada kamus bagi NU menggadaikan kepada bangsa lain.

Politik kerakyatan NU, juga melekat sejak dilahirkan, karena salah satu tujuan didirikannya NU adalah untuk mengembangkan SDM yang dinilai masih di bawah ukuran standar warga NU.

''Saya akan menjadi orang pertama yang tidak setuju, jika kekuatan politik NU ditujukan hanya semata-mata untuk memperoleh kekuasaan,'' katanya.

Tetapi ada komitmen bahwa politik kekuasaan sedang diperjuangkan NU; upaya itu adalah untuk memperkuat posisi dalam perjuangan politik kebangsaan dan politik kerakyatan.

Ia menjelaskan, majunya KH Hasyim Muzadi dari NU sebagai cawapres, tidak menyalahi khittah, karena diminta orang lain yang punya tiket, untuk naik kendaraan secara bersama-sama.

''Proses yang sedang dan akan kita hadapi, tidak ada kaitannya dengan khittah. Karena yang milih bukan lembaga, tetapi rakyat, termasuk warga NU. Jadi tak harus pakai stempel, pakai tausyiah dari pengurus NU,'' tandasnya.

Menurut Muhammad Adnan, kalau ada warga NU mengajak dan membujuk orang NU yang lain untuk golput, itu malah melanggar khittah. Karena, nasbul imam adalah salah satu prinsip NU.

Soal Gus Dur golput, katanya, hal itu tidak apa-apa. ''Itu tidak bisa diikuti, karena kita belum bisa mencapai maqom-nya Gus Dur,'' tutur Ketua PW NU Jateng itu.

Bukan karena Gus Dur

Mengenai sikap PKB netral, katanya, karena Ketua Dewan Syuro DPP PKB menginginkan, kalau Hasyim Muzadi terpilih menjadi wapres, bukan karena kebesaran Gus Dur. ''Dia ingin memberikan kekuatan kepada kader NU yang lain. Kalau jadi wapres, bukan atas jasa Gus Dur,'' tukasnya.

Bupati Magelang, Ir Singgih Sanyoto mengingatkan, agar hati-hati dalam menentukan pilihan Pilpres 20 September 2004. Memilih sesuai hati nurani, harus berdasarkan ilmu.

''Jangankan memilih presiden, wong memilih sapi untuk dipelihara saja harus ada ilmunya,'' katanya.

Ia mengatakan, bisa memahami sikap netral PKB dan PAN dalam pilpres putaran kedua. Karena, mereka punya kekhawatiran terhadap perjalanan bangsa. Kata kuncinya, bagaimana ke depan negara tetap langgeng.

''Saya kadang-kadang waswas. Sekarang tidak ada pembina politik. Yang ada, penanggung jawab stabilitas politik adalah bupati,'' katanya.

Istighotsah bertemakan ''Kita Jaga Kelestarian Kehidupan Berbangsa dan Bernegara'' malam itu, dipimpin oleh Rois Syuriah PC NU, KH Abdul Muid. (pr-76a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA