logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 September 2004 INTERNASIONAL
Line

Pasukan Irak Akhirnya Tangkap Izzat Ibrahim

BAGDAD - Izzat Ibrahim al-Douri, pembantu paling utama Saddam Hussein, akhirnya ditangkap di kota Tikrit setelah buron selama setahun setengah, ungkap Departemen Pertahanan Irak, Minggu kemarin.

Dikatakan, Ibrahim ditangkap oleh pasukan Pengawal Nasional Irak yang didukung militer AS. Tikrit adalah kampung halaman Saddam, yang juga salah satu basis kekuatan rezimnya.

Sebanyak 70 pengikutnya dikabarkan tewas, saat pasukan Pengawal Nasional menyerbu tempat persembunyian Izzat. Ibrahim adalah orang nomor dua (setelah Saddam) dalam Dewan Komando Revolusioner selama Saddam berkuasa, sampai pemerintahannya ditumbangkan oleh invasi AS, Maret-April 2003.

Dia juga punya posisi penting dalam suatu komisi pemerintah yang berwenang atas masalah-masalah Irak utara. Komisi itu dituding memerintahkan serangan senjata kimia terhadap orang-orang Kurdi di kota Halabja pada 1988, yang menewaskan ribuan orang.

Ibrahim tercatat pada urutan ke-6 dalam daftar 55 eks petinggi rezim Saddam yang paling dicari oleh AS. Lima teratas adalah Saddam, Qusay dan Uday (keduanya putrra Saddam yang tewas ditembak tentara AS), serta "Ali Kimia" Hassan al-Majid yang telah ditangkap.

Mayat Warga Mesir

Sementara itu, mayat warga Mesir yang diculik bulan lalu ditemukan di Irak utara, kata polisi Minggu kemarin. Sementara itu para pemimpin Prancis mengadakan pertemuan krisis di Paris tentang nasib dua warga Prancis yang disandera di Irak.

Polisi mengatakan mayat warga Mesir itu ditemukan Sabtu lalu di tepi jalan dekat Kota Baiji, 180 kilometer utara Bagdad. Menurut polisi, dalam tubuh mayat itu terdapat tanda-tanda bekas siksaan. Kaki dan tangannya diikat menjadi satu.

Warga Mesir tersebut hilang setelah para penculik membunuh warga Mesir lain. Kedua orang itu bekerja di Baiji.

Kelompok militan yang melancarkan perlawanan berdarah terhadap Pemerintah Sementara Irak dukungan AS telah menculik warga asing sebagai bagian dari kampanye untuk memaksa perusahaan dan tentara asing meninggalkan Irak. Sekitar dua lusin sandera asing dibunuh, beberapa di antara mereka dipancung.

Kabar suram itu datang saat Menlu Prancis Michel Barnier, yang baru saja pulang dengan tangan hampa dari misi penyelamatan di Timur Tengah, bertemu Presiden Jacques Chirac. Mereka membicarakan nasib wartawan Georges Malbrunot dan Christian Chesnot.

Barnier menurut rencana semalam bertemu dengan PM Jean-Pierre Raffarin dan anggota lain kabinet.

Malbrunot dan Chesnot ditangkap pada 20 Agustus oleh kelompok militan dari Tentara Islam di Irak. Mereka menuntut Paris mencabut peraturan yang melarang jilbab di sekolah-sekolah negeri. Prancis menolak tuntutan itu dan peraturan tersebut mulai berlaku Kamis lalu.

Bom Mobil

"Menurut informasi yang kami ketahui saat ini Christian Chesnot dan Georges Malbrunot dalam keadaan sehat dan diperlakukan dengan baik, indikasi-indikasi ini mendorong kami untuk melanjutkan upaya untuk menjamin pembebasan mereka," kata Barnier.

Prancis terkejut bisa menghadapi krisis penyanderaan padahal negara tersebut menentang perang pimpinan AS di Irak dan tidak memiliki tentara di negara Teluk itu.

Sementara itu militer AS menyatakan, sebuah bom mobil meledak di dekat patroli militer AS di Kota Dujail, sekitar 40 km utara Bagdad, kemarin. Ledakan tersebut melukai seorang tentara AS dan dua penduduk sipil Irak.

"Tentara tersebut dievakuasi ke pusat medis koalisi dan dalam kondisi stabil," kata Sersan AD Robert Powell, juru bicara Divisi Infanteri ke-1. Penduduk Irak yang terluka diobati di tempat kejadian, jelasnya.

Dia menyatakan pasukan AS menahan tiga tersangka di bangunan sebelahnya. Para saksi mata melihat sebuah kendaraan terbakar saat tentara AS menutup jalan itu.

Kelompok gerilyawan melancarkan perlawanan dengan menggunakan bom mobil terhadap tentara AS dan Irak serta para pejabat pemerintah dalam serangan yang menewaskan ratusan orang.

Sabtu lalu, seorang pelaku bom jibaku meledakkan mobilnya di dekat akademi kepolisian di kota minyak Kirkuk, Irak uatra, menewaskan paling tidak 17 orang dan melukai 36 lainnya.(rtr-niek-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA