logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 September 2004 INTERNASIONAL
Line

Korban Tragedi Beslan Dimakamkan

BESLAN - Suara tangisan ibu-ibu yang kehilangan putra dan putrinya dalam drama penyanderaan di Rusia memenuhi rumah-rumah Beslan, Minggu kemarin, saat pemakaman pertama dilangsungkan bagi beberapa dari 338 orang yang tewas.

Sebagai langkah pertama bahwa para pejabat bertanggung jawab atas pertumpahan darah itu, Menteri Dalam Negeri wilayah North Ossetia, Kazbek Dzantiyev, mengajukan tawaran untuk mundur, meski tidak diterima.

"Setelah kejadian di Beslan itu saya tidak berhak menduduki jabatan ini, baik sebagai seorang perwira maupun seorang pria," kata Dzantiyev seperti dikutip kantor berita Itar-Tass.

Laporan resmi menyebutkan, pasukan dikerahkan ke ruang olahraga sekolah itu Jumat lalu setelah kelompok separatis Chechen yang menyandera 1.000 orang mulai menembaki anak-anak yang menyelamatkan diri dalam keadaan panik dari dua ledakan.

Itu merupakan akhir paling berdarah bagi krisis penyanderaan dalam beberapa dasa warsa. Separo dari korban tewas itu adalah anak-anak. Lainnya guru, orang tua, dan sanak saudara yang menghadiri acara-acara pada hari pertama tahun ajaran baru.

Juru bicara North Ossetia, Lev Dzugayev, mengatakan 428 orang masih dirawat di rumah sakit lokal dan 260 lainnya belum diketahui nasibnya. Sejumlah orang yang menderita luka parah dibawa ke Moskwa dan kota-kota lain.

Insiden berdarah tersebut membuat kebijakan Presiden Vladimir Putin di kawasan Kaukasus berantakan dan menimbulkan keraguan tentang apakah dia mampu mengakhiri separatisme Chechen. Pengepungan sekolah itu terjadi setelah pengeboman di dua pesawat dan stasiun metro Moskwa.

Hari Berkabung Nasional

Para orang tua yang menangis mengantar peti mayat pertama ke pemakaman tempat para penggali makam menggali liang demi liang dan merapikannya dengan batu bata. Sanak keluarga yang berduka membiarkan pintu depan dan jendela terbuka, sesuai adat lokal.

Anggota keluarga lain terus mencari saudaranya yang hilang. Mereka mendatangi rumah sakit-rumah sakit lokal dengan harapan, dan kamar-kamar mayat dengan keraguan dan ketakutan. Rimma Butueva, seorang dokter, menghabiskan waktu beberapa hari untuk mencari sepupunya Rosa, yang hilang bersama putranya yang berusia sembilan tahun.

"Kami tidak akan menyerah," katanya. "Namun ketika kami melihat mayatnya kami mengerti bahwa kami tidak akan menemukan putra sulungnya. Parahnya lagi, kami mengenalinya lewat pakaiannya."

Putin, yang datang ke Beslan selama beberapa jam Sabtu pagi, mengatakan kepada rakyat Rusia bahwa pasukan keamanan perlu memikirkan kembali pendekatan mereka untuk mengatasi keadaan darurat semacam itu.

"Kita harus menuntut bahwa pasukan keamanan kita bertindak pada tingkat yang sesuai dengan tingkat dan lingkup ancaman baru itu," katanya dalam pidato televisi lebih dati 24 jam setelah pengepungan berakhir.

Gereja-gereja orthodoks di seluruh Rusia mengadakan misa berkabung dan Putin menyatakan Senin dan Selasa sebagai hari berkabung nasional.(rtr-niek-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA