| Senin, 06 September 2004 | EKONOMI |
Pabrik Susu Boyolali Beroperasi Bulan IniSEMARANG-Pabrik susu kental manis yang dipelopori oleh Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) September ini segera diresmikan. Pabrik susu pertama di Jateng itu akan menyerap produksi para peternak di provinsi ini, terutama dari Boyolali. Drs Sukaton, Kepala Dinas Pelayanan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Jateng mengemukakan pabrik yang sudah mulai dirancang tiga tahun lalu itu bulan ini dipastikan beroperasi. "Informasi yang kami peroleh menyebutkan pabrik yang berlokasi di dekat terminal Boyolali tersebut sudah selesai dibangun," tuturnya, kemarin. Namun mengenai kapasitas produksi dan investasi yang dikeluarkan untuk pembangunan pabrik tersebut, ia mengaku belum mengetahui secara pasti. Sebab, proses perencanaan hingga pengoperasian dilakukan oleh GKSI. "Bagaimana pun kami mendukung demi kelancaran pemasaran susu hasil peternak di Boyolali yang selama ini mengalami kesulitan pemasaran," tandasnya. Dia menambahkan pabrik tersebut diharapkan bisa mengatasi penolakan susu segar dari Boyolali yang jumlahnya ratusan ribu liter oleh pabrik. Dengan mempunyai pabrik sendiri susu peternak tidak terbuang percuma sebagaimana yang terjadi beberapa waktu lalu. Menurut dia, produksi susu segar di Jateng sebagian besar dihasilkan Boyolali. Dengan produksi yang sangat tinggi mestinya tidak perlu mengirimkan susu ke daerah lain. Mengirim susu ke pabrik yang bukan milik sendiri atau pemerintah kabupaten berisiko rusak. Ratusan ribu liter susu Boyolali beberapa waktu lalu terpaksa dibuang karena industri pengolahan susu di Jakarta menolak. Alasannya, kualitasnya rendah dan tidak memenuhi standar sehingga KUD yang menampung susu rugi besar. Saat ini daerah yang menjadi sentra produksi susu adalah Kota Boyolali, Kecamatan Cepogo, Mojosongo, Musuk, Selo, dan Ampel. Setiap tahun wilayah tersebut mampu memproduksi susu rata-rata 30 juta liter lebih. Para peternak sapi perah mengungkapkan pasaran susu asal Boyolali saat ini terus menghadapi ancaman serius. Itu terkait dengan kebijakan industri pengolahan susu yang membatasi pembelian lewat sistem total plate control (jumlah kandungan mikroba) dan pembatasan kuota pembelian. "Pabrikan kini membatasi pembelian dengan alasan stok masih melimpah," kata Wardi, peternak di Cepogo tanpa memerinci batasan kuotanya. Selama ini 95% produksi susu peternak di Jateng diserap oleh PT Sari Husada dan PT Nestle. Kapasitas produksi pabrik susu nasional ters1ebut juga berkurang akibat makin banyak serbuan produk serupa dari luar. (G2-53) |