logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 September 2004 SALA
Line

Rela Tidak Bekerja Demi Bersih Desa

PAGI-PAGI kemarin, Sumanto beserta istrinya sambil menggendong anaknya yang masih kecil pergi ke kuburan, tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Mereka menenteng dua keranjang teranyam dari janur kuning, yang dinamakan panjang ilang, berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya serta berbagai makanan kecil khas desa yang disebut jajan pasar.

Di kuburan, Sumanto sudah ditunggu ratusan warga desa lainnya yang datang lebih awal. Sumanto maupun warga desa itu punya tujuan sama, yaitu mengikuti ritual sedekah bumi dan bersih-bersih desa di pusara nenek moyang mereka.

Warga Manggung, Kelurahan Cangakan, Kecamatan Karanganyar itu, mengikuti ritual atau upacara atau tradisi tersebut secara rutin setahun sekali.

''Ritual dilakukan setiap usai panen, pada setiap Jumat Pon hingga Sabtu Wage pada penanggalan Jawa pada Agustus. Jika pada Agustus tidak ada pasaran Jumat Pon dan Sabtu Wage, maka diundur pada September,'' kata Jumadi (65), sesepuh warga setempat yang mengaku mengikuti ritual tersebut sejak kecil.

Warga Manggung, yang sebagian besar petani, baik pemilik sawah maupun penggarap, rela tidak bekerja selama sehari penuh. Setelah mengikuti ritual bersih-bersih desa pada pagi hari, siangnya mereka menyaksikan pergelaran wayang kulit yang ditanggap dengan lakon Sri Mulih.

Pergelaran wayang itu, dilanjutkan malam dengan lakon berbeda. Menurut Jumadi, ritual bersih-bersih desa atau yang disebut rasulan itu dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Kang Murbeng Dumadi atas segala rahmat dan karunia yang mereka peroleh selama ini.

Kenapa dilakukan di kuburan? Sebab masyarakat meyakini, nenek moyang mereka yang telah meninggal masih menyertai kehidupan mereka sehari-hari.

Sarana Pertaubatan

Ritual juga dimaksudkan sebagai sarana untuk pertaubatan dan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kesalahan dalam kurun waktu setahun. Pembersihan diri itu, dilambangankan dengan keranjang yang mereka namakan panjang ilang, yang memiliki makna filosofis menghilangkan kesalahan atau dosa selama waktu setahun.

''Dahulu, ritual atau upacara adat sedekah bumi dan bersih-bersih desa dimaksudkan untuk membangun kayangan di alam nyata atau di bumi ini. Anda pasti mengetahui maksud membangun kayangan; yaitu menciptakan suasana pedesaan yang makmur gemah ripah loh jinawi. Hidup tenteram dan aman berdampingan, rukun tanpa ada rasa saling curiga maupun sirik terhadap sesama, layaknya hidup di kayangan,'' paparnya.

Ritual yang dilakukan masyarakat Manggung, diyakini punya nilai mitos dan magis, sehingga masyarakat tidak berani berhenti dan melewatkannya. Bahkan, ritual itu pernah dilaksankan dua kali dalam setahun.

Menurut Sumanto, jika masyarakat menghentikan ritual, nenek moyang sebagai penunggu desa akan marah.

''Pernah suatu ketika pada 1980-an, karena tidak punya uang, masyarakat terpaksa menghentikan ritual. Tapi apa yang terjadi, masyarakat mendapatkan petaka. Percaya atau tidak, dua anak meninggal sekaligus tanpa sebab, dalam waktu yang berdekatan. Sejak itulah, masyarakat tidak pernah menghentikan ritual, meski sekarang biaya yang diperlukan cukup besar,'' kata Sumanto.(Langgeng Widodo-49a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA