| Sabtu, 04 September 2004 | PANTURA |
Menahan Dinginnya Angin Malam PAIJARUM jam menunjuk pukul 20.00. Wondo (29), warga Kota Tegal, malam itu merasa kedinginan dengan angin malam yang hinggap sampai bulu kuduk. Keramaian Alun-alun Kota Bahari itu sepertinya belum membikin lajang itu terasa hangat. Dia dengan sepeda motornya kemudian tancap gas menuju ke objek Wisata Pantai Alam Indah (PAI). Ya, seperti anak muda lainnya hampir dua tahun terakhir ini objek wisata PAI menjadi alternatif untuk mencari hiburan pada malam hari. Sekitar sepuluh menit kemudian dia memarkir sepeda motornya di depan Style Cafe. Sayup-sayup dari kejauhan terdengar lantunan musik dangdut dari kafe tersebut. Sebuah grup organ tunggal sedang menghibur pengunjung. Merdunya suara penyanyi itu seolah memecah kesunyian alam objek wisata PAI. Memang, sejak didirikan 29 Maret 2003 lalu keberadaan kafe itu cukup dikenal warga Kota Tegal. Selain berdiri di atas lahan objek wisata, kafe tersebut juga menyediakan berbagai menu makanan dan minuman yang cukup untuk sekadar memenuhi selera pengunjung. Seperti Raja Menurut pengelola Harmoyo (38), pihaknya dalam melayani tamu ibarat seperti raja. Konkretnya? "Bagaimana kami bisa memberikan pelayanan terbaik dan memuaskan pengunjung. Orang sekarang cenderung mencari hiburan di tempat yang santai, namun mudah dijangkau," katanya. Sejak mengelola kafe, dia bertekad untuk menepis padangan sebagian orang, kafe merupakan tempat hura-hura. Maka, tak pelak jika pihaknya dalam menyuguhkan menu makanan dan minuman selalu memprioritaskan khas Tegal, yakni sea food dan teh poci. "Ya, saya lihat ada kesan tersendiri untuk membuka kafe di PAI. Selain memajukan sektor pariwisata juga memberikan pelayanan kepada warga Tegal dalam melepas kepenatan setelah seharian bekerja. Hitung-hitung menikmati dinginnya angin malam pantai sembari menyeruput hangatnya teh poci kami." Didukung sarana peralatan musik yang dimiliki, berbagai kegiatan dan lomba seperti, festival band, lomba nyanyi antarinstansi, festival dangdut juga sering digelar di dalam kafe tersebut. Bahkan, Harmoyo mengaku setiap malam minggu pihaknya kewalahan untuk menampung pengunjung yang membeludak. "Tak jarang saya harus menyediakan tenda di luar untuk tamu," katanya.(Dwi Ariadi-42r) |