| Sabtu, 04 September 2004 | PANTURA |
AFI dan Indonesian Idol Telah Menjadi VirusMUNCULNYA acara musik yang banyak mengundang perhatian masyarakat seperti Akademi Fantasi Indosiar (AFI), atau Indonesian Idol (Indol) ternyata juga berpengaruh terhadap gaya dan penampilan para remaja. Tidak jarang gaya yang ditiru tidak sesuai dengan adat kesopanan yang berlaku di Indonesia. Pengaruh tersebut, menurut Rektor Universitas Pekalongan (Unikal) Prof Dr Esmi Warassih SH MS sangat memprihatinkan. Pengaruh tontonan itu telah menjadi virus yang harus diwaspadai seluruh masyarakat demi kelangsungan generasi muda. "Virus tersebut sekarang sudah masuk ke rumah-rumah, dan jika tidak diwaspadai akan merusak generasi muda kita," tegas dia saat menutup acara Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Unikal Ke-17 di Petungkriyono, belum lama ini. Mereka yang terpengaruh dengan penampilan yang tidak pantas itu, sekarang juga merambah di desa-desa terpencil. Dia mencontohkan saat dilaksanakan acara perpisahan KKN di salah satu desa terpencil di Kecamatan Petungkriyono. Saat itu ada penyanyi remaja di sana yang menggunakan pakaian seksi seperti yang dipakai para penyanyi di acara televisi, padahal itu tidak pantas bagi norma di desa setempat. "Tontonan tersebut sangat memprihatinkan saya, karena terjadi di desa terpencil. Lantas bagaimana yang di perkotaan?" paparnya. Esmi mengaku setuju dengan langkah yang dilakukan Bupati Pekalongan H Amat Antono yang menyikapi serius terhadap berbagai tontonan yang tidak pantas. Bupati akhir-akhir ini memang sering menyampaikan keprihatinannya karena tontonan-tontonan yang menarik remaja selalu ditayangkan pada saat jam belajar. Makanya, Bupati juga gencar memberikan imbauan agar masyarakat ikut mengontrol acara televisi. Apa yang dilakukan Bupati, kata Esmi, seharusnya diikuti seluruh masyarakat, sebab itu menjadi tugas semua pihak. Dari tontonan di rumah tersebut, nantinya akan menjadi tuntunan bagi para remaja dan generasi muda. "Jika gaya remaja sekarang sudah begitu memprihatinkan, lantas bagaimana nasib generasi muda pada masa mendatang." Seluruh masyarakat, katanya, harus terlibat aktif untuk mengusahakan generasi muda yang sehat, cerdas, dan berbudi pekerti luhur. Maka mengontrol acara televisi menjadi tugas seluruh masyarakat, sebelum benar-benar merusak para generasi muda. Dia juga berharap kepada para mahasiswanya agar bisa mengamalkan ilmunya kepada masyarakat dan bisa memberikan tuntunan yang baik. Pengamalan ilmu tersebut jangan hanya dilakukan pada saat melakukan kuliah kerja nyata (KKN) saja, namun setiap saat ketika hidup di tengah masyarakat.(Muhammad Burhan-42r) |