| Sabtu, 04 September 2004 | OLAHRAGA |
Bumi SriwijayaTerpaksa Naik AmbulansNAIK Ambulans. Inilah barangkali pilihan terbaik untuk mengatasi kelangkaan sarana transpotasi di Palembang. Langkah ini dilakukan tentu karena keadaan yang sangat memaksa. Sumsel nampaknya memang belum siap benar menjadi tuan rumah PON XVI. Setidaknya ini terlihat sekali dalam penyediaan sarana angkutan dalam kota. Taksi yang selayaknya berseliweran di Semarang ternyata tidak ada sama sekali di bumi Wong Kito Galo. Jam operasional angkutan kota juga terbatas hanya sampai pukul 21.00. Kondisi ini kontras dengan pola kerja wartawan yang sampai dini hari. "Lebih baik naik ambulans daripada jalan kaki. Lumayan jarak dua kilometer. Jalan kaki bisa nambah loyo. Ini rasanya liputan terberat,' 'kata seorang wartawan Suara Merdeka ketika akan pulang ke hotelnya dari warnet tempat pengetikan dan pengiriman berita. Ambulans gratis tersebut ditawarkan oleh dr Yuslam Samiharja. Kebetulan saja ayah kandung petenis Yusmawan Fahmi tersebut memasuki Hotel Sanjaya, tempatnya menginap. Ahli THT tersebut melihat beberapa wartawan sedang celingukan mencari angkutan di depan hotel tersebut. (D3-22) Bonek Serbu GOR Caraka Telkom BONEK nekat menyerbu GOR Caraka tempat pertandingan tim sepak takraw Jatim lawan Jabar. Dengan atribut khasnya mereka terus mengelu-elukan tim kebanggaannya. Beberapa orang bahkan berpakaian sangat atraktif dengan seragam khas Singo Barong. Belum lagi sebagian mengenakan seragam khas Warok. "Kami tidak mau kalah dengan kedatangan Jakmania. Kalau Jakarta bisa, kami pun bisa. Kami yakin dukungan ini akan menjadikan Jatim tetap yang terbaik di PON. Kami senang mendukung kubu Jatim. Banyak orang Jatim di sini," tutur Cak Ruslan koordinator suporter Jatim yang berada di GOR Caraka Telkom 3 Ilir. Tak pelak lagi ulah Jakmania dan Bonek ini membuat kubu Jateng merasa iri. Manajer Tim Sepak Takraw Jateng SR Farida merasa perlunya dukungan penonton. "Jateng mestinya bisa seperti Jatim dan DKI dalam menggalang sponsor," ujarnya. (D3-22) |