logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 September 2004 OLAHRAGA
Line

Seno Prakoso Persembahkan Emas

PALEMBANG- Kontingen Jateng menambah perbendaharaan medali emasnya setelah Seno Prakoso yang turun di nomor peragaan golok putra cabang wushu, tampil sebagai yang terbaik di antara sembilan pesaingnya, kemarin, di GOR Aneka Ria Kompleks Pertamina Plaju.

Sebelumnya, Jateng telah meraih satu emas dari nomor ketepatan mendarat cabang terbang layang oleh atlet gaek Hawari.

Sebenarnya Jateng masih bisa meraup medali meskipun hanya perak dari bagian golok putri. Sayang, penampilan Silvia Kristanti sedikit menurun saat melakukan salto sebelum menutup jurusnya. Tangan kiri bersama golok yang dilipatnya menyentuh matras sehingga memaksa dewan juri mengurangi penilaiannya sebesar 0,3. Padahal, Silvia mengawali jurusnya dengan baik.

Pada klasemen akhir dia berada di urutan kelima dengan nilai kumulatif 8,7. Pada golok putri, pejurus dari Sumut, Nurdiana tampil sebagai yang terbaik dengan nilai 9,06. Perak oleh Yuliana Kurniawan (Jatim) dengan nilai 8,91 dan perunggu dari Jabar lewat Christine Agustine yang mengumpulkan 8,8 poin.

"Sayang memang, Silvi harus dikurangi nilainya. Tapi bagaimana pun anak-anak sudah berusaha maksimal, saya puas dengan hasil ini karena sesuai dengan skenario kita pada hari ini," kata Manajer Tim Wushu Jateng, HT Djoentak kemarin.

Sumut tampil menggila saat empat nomor final baik putra maupun putri taolu (alat) di taiji quan dan golok digelar kemarin. Total mereka merebut 3 emas dan 1 perak. Dua emas lainnya didapat lewat Howandy Santoso (taiji quan putra) dan di putri direbut Jainab. Sementara perak oleh Dwi Arimbi. Linda Sagita (Jatim) kebagian perunggu.

Fokus

Masih bermandi keringat, Seno menyatakan dia hanya berusaha fokus dan menaikkan kadar konsentrasinya. Sikap ini penting karena dalam peragaan di wushu ada tiga faktor yang menjadi penilaian plus.

"Pokoknya sebisa mungkin enjoy menikmati gerakan," katanya. Hasilnya tidak sia-sia,

sebab normalitas jurus yang diperlihatkannya, ditambah cukup power dan didukung unsur koreografi yang indah plus keseimbangan saat bergerak di matras bersama goloknya, membuat juri memberikan penilaian lebih dibanding peserta lain. Nilai tertinggi diberikan juri III yakni 9,11. Lomba ini menggunakan lima juri.

Pujian pun mengalir dari ratusan penonton. Dalam penilaian nomor gerak di wushu, nilai terendah

dan tertinggi tidak dihitung. Mengacu kepada nilai normal, nilai total akhir Seno 9,11. Pesaingnya yang anggota tim SEA Games/ 2003 Vietnam, Tio Handy Cahyono terdampar di urutan 4 karena gerakan saltonya sebelum menutup jurus kurang sempurna.

Perak diraih kubu tuan rumah, melalui Hartono Djaya (Sumsel) dengan nilai 9,05. Medali perunggu untuk Gora Nebulana (DKI), 9,03.

Di nomor tarung (sanshou), tim Jateng memulai pertandingan dengan mengesankan. Jateng menurunkan tiga atletnya.

Arief Harsoyo yang pertama tampil, turun di kelas 52 kg. Dia menundukkan Ipung Purwanto (Jabar). Dari dua ronde normal yang dimainkan, Arief tak memberikan kesempatan bagi Ipung untuk bernafas melalui teknik bantingan dan cecaran pukulan serta tendangan, padahal kondisi pewushu asal Kendal itu kurang fit. "Sudah tiga hari ini saya masuk angin Mas, pusing-pusing terus," kata dia, yang di dadanya terlihat bekas kerokan.

Sukses serupa dibukukan Arief Hartanto. Turun di kelas 56 kg, dia unggul mutlak atas Mustakim. Sayang, kemenangan ini harus ditebus dengan cedera. Dari bagian tulang kering kaki kanannya terdengar suara "pletek" saat menangkis tendangan lawan di sesi pertama. "Di ronde kedua itu, saya sudah nggak bisa jalan," aku juara Pra-PON ini.

Penampilan Arthur Rambing di kelas 60 kg lain lagi. Di ronde pertama dia membuat kubu Jateng deg-degan.Pasalnya, dia bisa dilempar ke luar matras oleh Umar Syarif (Lampung). Satu kali lagi dilempar, habislah Arthur.

Untung dia segera bangkit di ronde kedua untuk memaksakan ronde ketiga yang akhirnya dimenanginya,dan memaksa lawan tak bisa melanjutkan pertandingan.

"Anak-anak masih terlihat nervous terutama Arthur, wajarlah kalau penampilannya masih jauh dari harapan," kata pelatih Sutan Rambing.

Soal target lima emas, baik Djoentak maupun Sutan menyatakan bahwa itu terus berupaya diwujudkan. (dwi-77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA