| Sabtu, 04 September 2004 | WACANA |
Surat PembacaUntuk Kapolda JatengMungkin bukan cuma saya saja yang mengacungi jempol atas keputusan Bapak Irjen Chairul Rasyid ini yang menutup/melarang togel. Menurut catatan 90% warga negara Indonesia beragama Islam. Tapi jika para pemimpin dan ulama diam dan tidak menghilangkan penyakit masyarakat, maka rakyat yang akan menderita . Berpuluh bentuk perjudian selalu berlaga bebas di tengah masyarakat, tanpa kena sanksi dan halangan hukum. Seakan merupakan kewajiban bagi masyarakat bawah untuk beramai-ramai beli nomor yang kini berganti nama menjadi togel. Para jaksa juga diam seribu basa, meski dia ikut bertanggung jawab. Yang namanya judi telah banyak ditangani tetapi akhirnya lepas juga. Sebab apa? Apa gaji mereka kurang. Mungkin dengan dukungan mereka judi jalan terus dan pengelola akan mengucurkan danamiliaran rupiah. Ini sebagai imbalan kepada mereka yang buta mata dan buta hati nuraninya. Hidup cuma tertuju pada duit, tanpa sadar atas jabatan/pangkat yang disandangnya. Amar Makruf *** Jawaban Kandatel Menanggapi Surat Pembaca 29 Agustus 2004 dari Bapak Wahyudi DP Jl Banteng Utara VI/6 Semarang kriteria pemenang lomba Wartel, kami jelaskan sbb: Penilaian reward terbagi 2 kategori, Wartel besar dan kecil yang diklasifikasikan sesuai kontribusi pendapatan terbesar dan tertinggi dari seluruh Wartel yang ada. Dari kedua kategori tersebut diambil masing-masing 25 nominator dan ditetapkan 6 pemenang masing-masing kategori sebanyak 3 juara. Kriteria penilaian menyangkut pelayanan meliputi petugas pelayanan, keramahtamahan dan kesopanan, sikap, pengetahuan tentang jasa Telkom serta kerapian. Yang menyangkut perangkat meliputi keakuratan biaya percakapan, sertifikat, jenis/akses, tabel tarif dan waktu pelayanan. Yang menyangkut kondisi ruangan dalam meliputi kebersihan dan kerapian, penampilan luar/dalam dan perlengkapan KBU. Juga kondisi ruangan, pendingin, mebel, sarana penunjang dan kamar kecil. Untuk kondisi luar ruang yaitu tampak dari luar, papan nama dan parkir Mengenai pembinaan terhadap 5.000 Wartel, PT Telkom dengan kemampuan yang ada tetap berupaya melakukan secara bertahap dan berkala mengingat jumlahnya besar dan lokasinya tersebar. Kami ralat pula, hadiah yang diserahkan bukan motor tetapi masing-masing memperoleh TV dan uang pembinaan. Bila masih ada yang kurang dipahami, dengan senang hati kami akan menjelaskan kepada Bapak. Terima kasih masukannya dalam rangka meningkatkan kualitas layanan kami. Jon S Sofyan SE *** Guru Kemarin, Kini dan Mendatang Guru saat zaman perjuangan merebut kemerdekaan, sebagai pejuang mengajar membaca dan menulis kepada rakyat yang masih banyak buta huruf. Mereka mengajar tanpa pamrih agar warga masyarakat bisa membaca dan menulis. Saat belum lama Indonesia Merdeka belurn lama yakni tahun 1950-an, atas prakarsa Bung Karno mereka mengajar di rumahnya masing-masing atau datang di rumah para tokoh masyarakat, untuk melatih masyarakat agar mampu membaca dan menulis. Gerakan ini disebut pembrantasan buta huruf (BH). Saat ini guru secara umum dan guru TK khususnya bekerja lebih berat, membutuhkan kesabaran dan ketekunan serta tanggung jawab tinggi. Bahkan tidak jarang bila wali murid/orang tua terlambat menjemput, guru TK mengantar sarnpai di rumah muridnya. Guru merupakan investor nonmaterial yang banyak menanamkan sahamnya kepada generasi penerus bangsa. Empat puluh tahun lagi akan bagaimana republik ini, bukan para jenderal atau purnawirawan yang dapat menjawab melainkan generasi penerus bangsa yang sekarang dididik oleh para guru. Namun kalau diIihat penghasilan, kesejahteraannya masih memprihatinkan. Masih banyak guru yang memperoleh gaji di bawah upah minimum. Penyelenggara pendidikan dan pemerintah agar memperhatikan para pendidik. Pemerintah daerah sebaiknya mengeluarkan sebagian anggaran untuk baik guru negeri/swasta. Di masa mendatang, secara bertahap biaya pendidikan dapat ditingkatkan sehingga terlaksana anggaran pendidikan sebesar 20%, sesuai UUD 1945 dan guru mendapat kesejahteraan yang layak dan sesuai pengabdiannya. Semoga presiden terpilih melek terhadap pendidikan dan peduli para tenaga pendidik sehingga pendidikan makin maju. Dampaknya generasi muda nantinya mampu berkompetisi di era globalisasi. Drs Sarjono *** Tanggapan soal KK Menanggapi Surat Pembaca Sdr Suharyadi Jl HOS Cokroaminoto 344 Ungaran yang dimuat 22 Agustus 2004 tentang keluhan keterlambatan pembuatan Kartu Keluarga (KK), kami jelaskan bahwa Pemkab Semarang berusaha terus memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat terutama pembuatan KK. Berdasar laporan/pengecekan di lapangan, berkas Sdr sebenarnya telah melewati tahapan entering data ke komputer dan tinggal menunggu proses cetak. Kebetulan blangko KK di Kecamatan Ungaran habis, sehingga Sdr diminta menunggu sebentar karena akan diambilkan di Dinas Kependudukan, Capil dan Tenaga Kerja. Jadi sebenarnya KK Sdr bisa selesai pada hari yang ditentukan, tanggal 3 Agustus 2004. Saat ini KK Sdr telah selesai dicetak dan bisa diambil di kantor Kecamatan Ungaran. Kami sampaikan, Pemkab telah menyediakan blangko KK untuk kebutuhan satu tahun anggaran untuk mendukung pelayanan prima. Masyarakat diimbau untuk membuat KK, KTP maupun akta catatan sipil lainnya. Hindari pembuatan atau perpanjangan dengan alasan terdesak kebutuhan sebab akan merugikan diri sendiri. Sekaligus mengantisipasi menumpuknya pengajuan berkas pada waktu bersamaan yang bisa mempengaruhi mutu pelayanan dan kepuasan masyarakat. Kabag Humas Kab Semarang *** Uang Gedung SD MKK1 Sarana dan prasarana yang oke apakah menjadi jaminan anak akan pintar dan pandai ?. Coba ditarik ke belakang (sebagai pembanding), dulu saat kapur tulis belum ada, siswa menulis pakai grips. Ternyata mutu anaknya cukup lumayan dan prestasinya selalu oke, meskipun sarana dan prasarana amat minim. Kini di era Otda kayaknya urusan pendidikan ditimpakan kepada orang tua murid, sementara beban orang tua yang ekonominya pas-pasan kian meringis dan terjepit. Tidak menjamin sarana dan prasarana yang hebat, anak didik jadi hebat . Sebab itu pungutan pembangunan tambahan ruang dan ruang bahasa Inggris yang minimum Rp 500.000 mohon ditinjau ulang. Sebab orang tua murid juga butuh dana untuk buku yang setiap tahun selalu berganti. Satu semester lebih kurang Rp 200.000 untuk buku cetak saja, belum buku tulis dan peralatannya. Sekolah favorit/unggulan tidak identik dengan banyaknya pungutan yang memberatkan. Dan tidak ada yang bisa menjamin sarana dan prasarana lengkap dan hebat menjadikan anak berperprestasi. Maktono |