| Sabtu, 04 September 2004 | WACANA |
Perlu, Departemen Pembinaan MoralOleh: Silas DwidjantaraSETELAH merdeka selama lima puluh sembilan tahun, Indonesia belum juga menampakkan citranya sebagai negeri yang demokratis dan sejahtera. Apa atau siapa yang salah? Kebobrokan negeri ini bukan hanya salah presiden dan aparat eksekutifnya saja. Bukan hanya salah aparat penegak hukumnya, atau anggota DPR-nya saja, tetapi sebetulnya merupakan kesalahan kita semua sebagai bangsa. Dari bangsa yang terpuruk, kita sulit menelorkan pimpinan negeri yang baik. Dan keterpurukan bangsa ini, sesungguhnya merupakan keterpurukan moral, mental dan karakter warganya yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam, saat bangsa ini di bawah kekuasaan penjajah. Hingga kini, setelah merdeka lima puluh sembilan tahun, belum ada usaha untuk menanganinya secara serius. Bahkan mengatasinya semakin sulit, karena selama lebih dari tigapuluh tahun, negeri ini dikuasai oleh sebuah rezim yang permulaan kekuasaannya ditandai dengan pembunuhan secara besar-besaran terhadap sesama bangsanya sendiri, dan tatanan nilai-nilai moral, mental dan karakter bangsa yang semakin diporakporandakan olehnya dengan sistem feodalisme (keprabon) yang otoriter dan sangat korup. Maka jadilah korupsi/KKN menjadi budaya di negeri ini. Pemerintahan siapa yang sanggup memberantasnya? Sungguh mengerikan melihat sebuah negeri yang pemerintahannya dipegang oleh individu-individu yang sangat rapuh kepemimpinannya dan sangat buruk kinerjanya. Ketidaktegasan pemerintah dalam menindak ketidakberesan di negeri ini, kebijakan pemerintah yang tidak konsisten dijalankan, janji-janji pejabat yang sering tidak dipenuhi, menjadikan citra penguasa tidak berwibawa di mata rakyat. John F Kennedy saat menjabat sebagai presiden Amerika Serikat pernah mengatakan, "If a free society can not help the many who are poor, it can not save the few who are rich." Seyogianya, para pemimpin bangsa ini yang mampu melihat kondisi dan situasi di negeri ini harus menyadari bahwa: "If a free society/country do not have a government that rules strongly and honorably, potentially the ruination of the country will become real." (Apabila sebuah masyarakat/negeri bebas (Indonesia termasuk) tidak memiliki pemerintahan yang berkuasa secara tegas dan berwibawa, maka potensi kehancuran negeri tersebut akan menjadi kenyataan). Pendidikan Moral Spirit bangsa ini harus dirombak total. Kultur/budaya feodalis dengan segala cara berpikir dan berperilaku yang negatif, yang tidak mendukung pembangunan moral, mental dan karakter individu/manusia bebas yang beradab, harus dipotong. Cara-cara berpikir dan berperilaku yang suka menyulitkan orang lain demi tujuan-tujuan tertentu, harus diganti dengan perilaku yang suka menyenangkan dan menolong orang lain. Spirit kebencian, iri hati, dengki terhadap orang lain, karena alasan-alasan yang sangat subjektif, emosional dan egosentris, harus diganti dengan spirit mengasihi sesamanya tanpa pandang bulu. Segala kebobrokan bangsa ini harus dikuak, seperti seorang dokter menguak borok yang sangat berbahaya, walaupun terasa sakit sekalipun, demi keselamatan seluruh tubuh dengan dioperasi/dibuang biang penyebab borok tersebut. Untuk itu, kita sebagai bangsa, harus tahu mana yang buruk dan mana yang baik. Pendidikan moral, mental dan karakter yang dibawakan oleh Aa Gym sungguh patut dicatat sebagai fenomena pendidikan bangsa yang sangat berguna di tengah-tengah negeri yang sebagian besar rakyatnya belum memahami hak dan tanggung jawabnya sebagai manusia terhadap sesamanya. Sekalipun negeri ini melimpah ruah kekayaannya, sekalipun hutang bisa didapat sebanyak-banyaknya untuk tujuan pembangunan, sekalipun investasi membanjir ke negeri ini, sekalipun pemerintah bisa menyekolahkan banyak anak bangsa untuk studi di luar negeri agar bisa menjadi pejabat-pejabat yang profesional di bidangnnya, namun tanpa didukung moral , mental dan karakter yang baik dari bangsanya, negeri ini tidak akan mencapai kesejahteraan yang dicita-citakan, dan krisis demi krisis akan berlangsung terus. Oleh sebab itu, perhatian yang sangat khusus dan serius dalam pendidikan moral, mental, dan karakter bangsa semakin diperlukan. Untuk itu, perlu sebuah departemen yang khusus menanganinya, yaitu Departemen Pembangunan dan Pembinaan Moral, Mental dan Karakter Bangsa. (29) -Silas Dwidjantara, alumnus Universitas Kristen Satya Wacana . |