logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 September 2004 WACANA
Line

tajuk rencana

Selamat Berjuang Wakil Rakyat

-- Seratus anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jateng dilantik, meskipun masih ada satu anggota yang masih bermasalah karena belum terpenuhi syaratnya. Dengan sengaja kita memanjangkan singkatan DPRD itu untuk menegaskan bahwa Dewan ini merupakan perwakilan rakyat. Jadi, bukan perwakilan partai meskipun asal usulnya memang tak bisa dihindarkan. Begitu dilantik menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, maka sejak itu pula pada diri tiap-tiap individu membawa amanah rakyat. Amanah ini sungguh-sungguh berat karena kepada para anggota Dewan yang terhormatlah semua harapan rakyat ditumpukan. Anggota Dewan juga tak bisa menghindar begitu saja, sebab rakyat dengan cermat telah menulis dengan tinta tebal semua hal yang pernah dijanjikan.

-- Pada periode 1999-2004 kebanyakan anggota Dewan tidak mampu menampilkan diri sebagai pembawa amanah yang bisa dipercaya. Hari demi hari yang dicatat oleh rakyat hanyalah kisah-kisah memalukan. Tidak mengherankan manakala rakyat tidak pula pernah menaruh harapan kepada mereka. Harapan apa yang harus digantungkan karena Dewan hanya tampil dengan seolah-olah saja. Seolah-olah vokal, seolah-olah pintar, seolah-olah membawa amanah rakyat, padahal yang terjadi sungguh amat berjauhan. Bahkan sampai persoalan ijazah pun menjadi seolah-olah. Artinya, seolah-olah asli. Bagaimana kita bisa mengukur kualitas kalau persoalan ijazah saja seolah-olah asli. Apakah mungkin hanya dengan seolah-olah itu mampu memegang amanah. Apalagi harus dikaitkan dengan pelaksanaan pemerintahan di daerah.

-- Tidak mengherankan manakala muncul begitu banyak gugatan. Bukan sekadar digugat, bahkan beberapa saat lalu sudah mulai diperiksa polisi dan dimasukkan sel. Kenapa? Karena dengan kemampuan serbaterbatas, mereka harus menentukan banyak hal yang berkaitan dengan pengelolaan pembangunan di daerah, terutama dalam perencanaan dan pengendalian anggaran (APBD). Model korupsi berjamaah itulah yang kemudian membawa mereka masuk ke sel bersama-sama pula. Rakyat pun kemudian bersorak-sorai menyambutnya. Kesan memelas menghiasi rona wajah-wajah anggota Dewan yang terhormat ketika berhadapan dengan aparat. Berjam-jam diperiksa jelas bukan merupakan impian ataupun cita-cita. Mungkin pula tidak terbayangkan bahwa pasal-pasal dari Undang-Undang Pidana akhirnya mampir juga dalam kehidupannya.

-- Dalam suasana rakyat masih kental dengan gregeten, di saat itu pulalah anggota DPRD hasil Pemilu Legislatif 2004 dilantik. Seperti dikomando saja, seluruh elemen masyarakat bergerak menuju gedung para wakil rakyat itu. Rakyat menuntut anggota Dewan yang baru dilantik harus melakukan kontrak politik agar menjauh dari korupsi, bebas KKN, dan berpihak kepada rakyat. Protes rakyat ini harus ditanggapi dengan serius, terutama oleh mereka yang mengaku wakil rakyat. Jangan pernah beranggapan bahwa hanya sebagian kecil rakyat yang protes langsung. Anggapan ini akan salah besar karena ada pepatah kriwikan isa dadi grojogan. Siapa pernah menyangka pemerintahan Orde Baru yang begitu kokoh dengan sistem intilejen yang hebat akhirnya hanya runtuh dalam hitungan hari.

-- Partai pemenang pemilu tiba-tiba harus terseok-seok hanya dalam waktu sangat pendek. Betapa mahal dan susahnya untuk mengatrolnya kembali ke performa semula. Ini pelajaran politik penting langsung dari rakyat kepada partai ataupun para pengelolanya. Pernahkah rakyat pemilih berkoar-koar bahwa dalam pemilu suara mereka akan dialihkan? Tidak. Mereka diam-diam saja, dan begitu masuk bilik, pilihan ternyata berbeda dengan sebelumnya. Pelajaran sederhana ini harus dihafal betul manakala para politikus ingin tetap dekat dengan profesinya. Dalam diam rakyat menulis di dalam hatinya. Semua tingkah laku para pembawa amanah itu dicatat, mungkin di alam bawah sadarnya. Sesekali saja rasa frustrasi itu dimunculkan dalam demo sebagai bentuk dari kanalisasi.

-- Mungkin benar bahwa anggota Dewan mengalami cultural shock karena tiba-tiba harus memakai jas yang mahal, tiba-tiba harus duduk di kursi yang empuk, tiba-tiba menjadi terhormat, dan menjadi yang lain-lain. Akan tetapi, seketika itu kembali sadarlah bahwa dalam realitasnya, rakyat tengah menengadahkan tangan meminta pertolongan. Apakah hal seperti itu akan mampu Anda hindari? Mungkin saja bisa, tetapi bayangan rakyat yang tergusur, kurang makan, sulit mendapatkan pekerjaan, anak-anak putus sekolah tanpa masa depan akan terus membuntuti. Jika mulai pagi ini semua anggota Dewan beserta keluarga bergembira karena pelantikan, seperti suasana ini pulalah yang kita harapan terjadi 5 tahun ke depan ketika keanggotaan harus berakhir. Semua bahagia, bersama rakyat dan keluarga. Selamat berjuang!


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA