logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 September 2004 NASIONAL
Line

Gorries Mere Dipanggil Kapolri

  • Pertemuan dengan Ali Imron di Starbucks

JAKARTA- Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar sudah memerintahkan Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri Komjen Suyitno Landung untuk memanggil Satuan Tugas Khusus Antiteror Brigjen Gorries Mere untuk memastikan apa tujuan dia membawa terpidana kasus bom Bali, Ali Imron, ke Restoran Starbucks Jakarta.

Hal itu dikemukakan Kapolri, Jumat (3/9). Menurut pandangannya, pada dasarnya untuk mengembangkan sesuatu yang bersifat kejahatan terorganisasi sangat tidak mudah, terutama mendapatkan informasi dari kalangan luar.

''Karena itu, dalam pengembangan penyidikan yang kita tempuh adalah menggunakan anggota jaringan itu sendiri. Dalam konteks bom Bali dan Marriott kita tahu masih menyisakan pembuat bomnya, yaitu Dr Azahari dan yang mengorganisasi Noor Din M Top,'' perincinya.

Kapolri mengungkapkan, keberadaan Ali Imron bersama Gories Mere di Starbucks akan dicek apakah berkaitan dengan penyidikan atau tidak. ''Tidak ada aturan yang melarang sepanjang tersangkanya tidak bebas lenggang kangkung,'' ujarnya.

Dia menuturkan, untuk mendalami informasi memang tidak mudah dan dapat dilakukan di berbagai tempat. ''Jadi persoalan sekarang adalah kenapa di Kafe Starbuck,'' tuturnya.

Dia menyebutkan, kepolisian terutama dari tim antiterorisme tengah mengembangkan upaya untuk mencari keberadaan Muhammad Azhari dan Noor Din M Top yang masih buron.

Tim Dirombak

Pada bagian lain, Suyitno mengungkapkan, Satuan Tugas Khusus Antiteror yang dikomandani Gorries Mere akan ditata lagi termasuk pengevaluasian terhadap posisi Gorries.

''Satgas bom akan kami tata lagi sehingga pengendalian dan pengawasannya betul-betul berada dalam satu komando,'' ungkapnya.

Saat ditanya wartawan, apakah Gorries masih menjabat lagi sebagai kepala satgas, dijawabnya akan ditata lagi. ''Ya akan kami tata lagi,'' ujarnya. Namun, ketika didesak wartawan apakah Gorries diganti, Kabareskrim Polri itu tidak menjawab.

Menurut penuturannya, satgas antiteror dalam konteks penyelidikan memerlukan beberapa teknik, misalnya penyamaran dan observasi.

''Ini kebetulan memang konteks penyelidikan yang dilakukan tim mereka dalam rangka mengungkap pelaku bom yang masih dalam pencarian. Akan kami dalami, kalau konteksnya di luar itu akan kami tegur dan ditata lagi baik teknik penyamaran maupun penampilannya,'' papar Suyitno.

Pada kesempatan yang sama, Suyitno menjelaskan soal pertemuan Ali Imron dengan Gorries Mere. Menurut penuturannya, pertemuan merupakan salah satu upaya untuk menenteramkan tersangka bom Marriott, Abu Fida, yang hingga kini mengalami stres berat.

''Dalam konteks ini, kaitannya adalah pengambilan keterangan dari ahli psikologi, yakni Dr Sarlito, mengenai kondisi yang diderita Abu Fida atau Syaifuddin. Penjelasan sementara, ternyata dia tidak menderita gangguan jiwa tetapi menderita kepanikan. Jadi, dia belum bisa memberikan keterangan karena masih dalam keadaan tertekan,'' ungkapnya.

Psikolog UI Sarlito Wirawan turut hadir dalam pertemuan Ali Imron dan Gorries Mere di Kafe Starbuck. Bahkan, Sarlito terkejut saat pertemuan itu diketahui wartawan.

''Untuk menenteramkan Abu Fida bisa menyandingkan dengan salah satu kelompoknya tetapi masih didalami lagi. Abu Fida akan kita gunakan untuk menelusuri lokasi yang pernah dilalui oleh jaringan tersebut. Jaringan itu merupakan organisasi tertutup dan rahasia yang menamakan dirinya Jamaah Islamiyah (JI). Ini yang melindungi beberapa tersangka yang kami cari. Jadi sekali lagi, salah satu konteks pertemuan adalah untuk menenteramkan Abu Fida sehingga dia mau memberi keterangan sebenarnya.''(bu-33j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA