logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 September 2004 NASIONAL
Line

Geliat China, Geliat Asia (2-Habis)

Mengukuhkan Planning dengan Miniatur Kota


MAKET SHANGHAI: Maket raksasa Kota Shanghai seluas 600 m2 menjadi objek studi. Maket itu dipamerkan di Shanghai Urban Planning Exhibition Center.(55j) - SM/Sasongko Tedjo

SEBUAH maket raksasa yang merupakan miniatur Kota Shanghai terbentang memenuhi ruang pamer di lantai 3 Gedung Shanghai Urban Planning Exhibition Center. Maket berukuran tidak kurang dari 600 m2 itu merupakan model perencanaan kota yang terbesar sedunia. Dan, merupakan perencanaan kota terutama wilayah urban kota terbesar di China itu sampai dengan 2020.

Tidak hanya maket kota, dipamerkan pula maket-maket proyek infrastruktur seperti Pudong International Airport, jalan terkemuka dan tertua Nanjing Road, pelabuhan, jalan tol, dan banyak lagi. Ini gambaran masa lalu, masa kini, dan masa datang. Ada kesan betapa sebuah kota telah memiliki visi dan wawasan, telah memiliki perencanaan yang demikian matang dan mantap karena tentu sudah dilindungi dengan payung hukum.

Ketika kami mengunjungi gedung itu terlihat begitu banyak orang yang datang dari luar China dan semua ingin mempelajari model perencanaan kota yang kini begitu diunggulkan di negara itu. Bukan hanya Shanghai yang memiliki, kota-kota lain seperti Shenzhen atau Hong Kong pun sudah mempunyai model perencanaan serupa. Hanya memang tak sebesar dan sedetail Shanghai. Dengan begitu, satu kesan segera tertangkap. Kota itu punya master plan dan rencana tata ruang yang jelas. Apalagi, yang didapat jika bukan kepastian hukum, sesuatu yang begitu didambakan oleh investor.

Bisa dibayangkan begitu rumit mengatur sebuah kota metropolitan dengan penduduk lebih dari 16 juta orang. Shanghai memiliki lahan 6.340 km2 dan terdapat tidak kurang 3.000 gedung jangkung berlantai 18 lebih. Jika tak disertai dengan perencanaan yang baik, akan kacau. Untunglah, semua itu tak terjadi karena di samping planning yang detail juga penegakan hukum yang terjamin. Karena itu, tak perlu ada unjuk rasa karena penggusuran, demo menolak reklamasi pantai, ruilslag, pelebaran jalan atau geger-geger rebutan lahan.

Shenzhen juga memiliki perencanaan serupa. Ketika kami berkunjung di Shenzhen Planning Bureau, terlihat maket-maket yang detail dan program penataan ruang yang sudah mapan lengkap dengan miniatur gedung-gedung bertingkat, taman kota termasuk lapangan golf. Bahkan, kota yang diakui dunia sebagai kota tercepat dalam pembangunannya itu mempunyai semboyan dan sekaligus gol yang sangat cantik: Environment like Singapore with efficiency of Hong Kong. Jadi, kira-kira ingin membangun kota yang lingkungannya indah seperti Singapura dan sekaligus efisien seperti Hong Kong. Sebuah kota ideal perpaduan dua kota dunia ternama, yakni Singapura dan Hong Kong.

Tidak ada jalan lain untuk memulai mengembangkan kota selain dimulai dari membangun prasarana dan infrastruktur. Boleh dikatakan, itulah yang akan menjadi magnet bagi orang untuk datang khususnya para investor. Pembangunan Shenzhen juga memakai pola serupa. Pada 1990-an awal, yang ada barulah jalan-jalan highway selebar 70 meter sedangkan di kiri kanan masih berupa tanah kosong. Dalam tempo 10 tahun, relatif tak ada lagi tanah tersisa di pinggir jalan-jalan itu. Bila pada awalnya hanya ada gedung setinggi 5 atau 6 lantai, maka sekarang rata-rata sudah di atas 20 lantai.

Pembangunan infrastruktur adalah senjata ampuh kendati itu membutuhkan biaya besar. Akan tetapi di sanalah kuncinya, antara Hong Kong dan Shenzen. Hong Kong dengan Makau atau dengan pulau-pulau lain di sekitarnya sudah disambung oleh jembatan baik yang ada di atas maupun di bawah laut. Hong Kong International Airport yang baru merupakan contoh proyek raksasa yang tidak tanggung-tanggung. Bandara itu dibangun di sebuah pulau kecil bernama Lantau Island. Namun, harus tetap mereklamasi pantai sampai 1000 hektare karena tanah yang dibutuhkan 1.255 hektare.

Namun, sekarang bandara itu telah mampu menjadi salah satu bandara paling sibuk di dunia dengan menampung 45 juta penumpang setiap tahun dan mempekerjakan tidak kurang 40.000 karyawan dilengkapi berbagai sarana pendukung. Bandara yang diresmikan pada 1998 setelah Hong Kong kembali bergabung ke China itu memiliki walkways moving 3,5 kilometer dan gate lebih 150 buah. Tentu sudah ada alat transpor seperti kereta dan lain-lain untuk membantu pindah dari satu terminal ke terminal lain. Sekarang untuk mencapai kota-kota penting di China dapat melalui Hong Kong sebagai pelabuhan transit sehingga layak disebut sebagai pintu gerbang Asia.

Ketika berkunjung ke The Hong Kong Planning and Infrastructure Exhibition Gallery, saya dikejutkan oleh berbagai proyek pengembangan kawasan dan infrastruktur baru di sana. Selama ini ada kesan pembangunan di negara itu sudah terhenti karena tanahnya sudah habis. Itulah sebabnya Shenzhen yang akan menerima ''limpahan''-nya. Ternyata dugaan itu tidak tepat karena selain terus mengadakan reklamasi pantai, perencanaan pembangunan Hong Kong lebih mengarah pada 4R, yakni Redevelopment, Revitalization, Reservation, dan Rehabilitation. Sebuah program raksasa yang disebut Urban Renewal sudah disiapkan secara matang.

''Kalau di sini gedung-gedung yang di atas 10 tahun sudah dianggap kuno dan harus diperbarui,'' ujar Leung Kwok Man yang menjabat sebagai gallery manager. Untuk itu, gedung-gedung tersebut harus direnovasi dan tidak sedikit yang dirubuhkan untuk dibangun yang baru. Tentu dengan ketinggian lantai yang jauh lebih tinggi. Juga sudah disiapkan pengembangan Victoria Harbour yang merupakan pelabuhan dagang terbesar di Asia Pasifik. Masih cerita Leung Kwok Man, proyek mass transit yang disiapkan akan mampu menampung 70% penduduk Hong Kong dalam aktivitas sehari-hari atau berarti lebih dari enam juta orang.

Belajar dari China

Selain berkunjung ke Shanghai, Shenzhen, dan Hong Kong, rombongan Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang juga berkesempatan mampir ke Makau. Bekas jajahan Portugal yang sudah kembali ke pangkuan China itu lebih terkesan sebagai kota tua dan kota pariwisata. Meskipun demikian, penanganan infrastrukturnya tidak sembarangan karena sebagai tourism area pastilah tetap membutuhkan prasarana yang memadai. Termasuk, pemugaran bangunan-bangunan lama baik gedung maupun gereja tua sekaligus untuk dijadikan objek wisata.

Di Makau, dengan mudah kita akan belajar tentang pemanfaatan bangunan-bangunan lama mirip Kota Lama di Semarang untuk kegiatan usaha atau aktivitas ekonomi yang menghasilkan. Untuk itu, pelestarian kawasan tak menjadi masalah karena menyatu dengan aktivitas ekonomi seperti terlihat di Senado Square tempat bangunan tua itu untuk kompleks pertokoan. Seandainya Kota Lama di Semarang bisa seperti itu, otomatis akan hidup dan tak usah repot memikirkan perawatannya.

Belajar dari negeri China menjadi semakin lengkap ketika kita melihat lanskap modern ataupun yang tradisional atau lebih sebagai peninggalan sejarah. Belajar dari negeri China semakin mengajarkan kita tentang perlunya kestabilan sistem untuk menunjang gerak ekonomi yang mantap. Sistem dimaksud terkait dengan politik, hukum, ekonomi, sosial dan lain-lain. Menjadi menarik ketika negara komunis yang kemudian menerapkan mekanisme pasar bebas dalam perekonomiannya, ternyata tak menimbulkan kotradiksi dan kontroversi, bahkan ada kesan saling menunjang. Karena politik bukan panglima dan ekonomi diberikan kebebasannya, yang terjadi adalah sebuah proses perubahan dan revolusi yang sangat cepat.

Sementara itu kita di Indonesia, landasan seperti itu justru belum mantap. Heterogenitas dan pluralisme di masyarakat belum menjadi potensi tetapi justru masalah ketika demokrasi harus dibayar mahal dengan instabilitas. Hukum masih belum dapat ditegakkan, kekuasaan masih cenderung korup, dan kepemimpinan nasional belum terlalu kuat. Kalau mau jujur, itulah sesuatu yang masih sangat dibutuhkan. Karena sekarang ini yang berbicara adalah investasi. Dan, investasi hanya akan bergerak ketika segala sesuatunya kondusif. Bagaimana mungkin pengusaha atau investor datang bila yang dihadapi sehari-hari adalah berubah-ubahnya peraturan atau demo pekerja tanpa diimbangi peningkatan produktivitas? Bagaimana mungkin investor akan datang jika infrastruktur serbaterbatas sementara pungutan resmi dan tidak resmi malah semakin banyak?

Di China, dunia bisnis dan pemerintahan ada kesan tidak berjarak dan juga tidak saling mengganggu. Semua satu visi dan satu kepentingan. Ketika kami dijamu seorang pejabat di Shanghai setingkat bupati, Zia Kue Wa, di sebuah restoran terkenal ternyata sang pejabat adalah pengusaha dan pemilik restoran serta hotel di kawasan itu. Banyak pengusaha yang menjadi pejabat, seperti Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip. Sebenarnya itu positif dan lebih memudahkan karena visi yang dikembangkan pastilah lebih berorientasi ke pasar alias proinvestasi asal tidak malah menyalahgunakan untuk kepentingan bisnisnya pribadi. (Sasongko Tedjo-j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA