| Sabtu, 04 September 2004 | MURIA |
Membuat Arang dengan Kompos Eceng GondokSECARA kebetulan, tempat tinggal Sutikno (58), warga Desa/Kecamatan Gembong, Pati, berada di pingir jalan sekitar Waduk Seloromo. Beberapa waktu lalu, ketika air waduk masih menggenang, tumbuhan air jenis eceng gondok tumbuh lebat di atas permukaan air waduk. Saat musim kemarau seperti sekarang, air waduk mengering sehingga tumbuhan air tersebut banyak yang dibersihkan dengan cara ditarik ke tepi waduk lalu dijemur. Pasalnya, bekas lokasi tumbuhnya eceng gondok itu oleh warga disulap menjadi petak tambak ikan air tawar. Tumbuhan air yang sangat banyak dan mulai mengering itu menimbulkan ide bagi Sutikno, ayah dua anak dan kakek dua orang cucu, untuk memanfaatkannya. Tumbuhan itu ia manfaatkan sebagai pupuk kompos setelah digunakan untuk membakar kayu menjadi arang. Dengan demikian, dari kegiatan sehari-hari membuat arang itu, selain mendapatkan hasil utama berupa arang kayu sebagai bahan bakar pengganti minyak, bekas sopir yang alih pekerjaan itu juga mempunyai pendapatan dari sisa pembakaran arang. Yakni, kompos eceng gondok yang sebelumnya digunakan untuk membakar kayu menjadi arang. Khusus tentang pekerjaan membuat arang, sudah ditekuninya selama tiga tahun, tepatnya ketika pekerjaan sebagai sopir yang sudah dijalaninya selama 20 tahun lebih itu ia tinggalkan. Untuk mencari kesibukan sehari-hari, membuat arang akhirnya menjadi pilihan. Asal bisa membeli bahan baku yang tak lain adalah kayu bakar berbagai jenis, baik mahoni, waru, mangga, nangka, maupun kayu lainnya, maka pekerjaan membuat arang sudah bisa dilakukan. "Untuk keperluan itu, kami cukup membutuhkan modal Rp 25.000-Rp 50.000," ujarnya. Lubang Modal tersebut, katanya lebih lanjut, digunakan untuk membeli kayu yang akan dibuat arang. Rata-rata harga kayu bakar itu per meter kubik Rp 25.000 sehingga kalau punya modal Rp 50.000 bisa mendapat kayu bakar dua meter kubik. Selanjutnya kayu bakar itu dibiarkan dalam bentuk gelondongan, tapi terlebih dahulu harus dipotong dengan ukuran panjang rata-rata 30 cm. Kemudian dibuatkan lubang untuk pembakaran yang bahan bakarnya menggunakan sekam dicampur sampah atau eceng gondok yang sudah kering. Karena cara pembuatannya harus ditimbuni bara api dari sekam, maka pengambilannya harus dilakukan dengan cara menggali dan mengeluarkan arang yang masih dalam bentuk gelondongan. Gelondong arang itu kemudian dipecahkan menjadi kecil-kecil, dan selesai sudah pekerjaan tersebut. Berikutnya tinggal memasukkan pecahan arang itu ke dalam karung plastik untuk dijual. Satu meter kubik kayu bakar rata-rata bisa menghasilkan satu kuintal arang. Jika dijual per karung plastik Rp 25.000, tetapi kalau dijual eceran, Rp 400/kg. Jadi, dari satu kuintal arang dia bisa mengantongi untung Rp 25.000. Sementara itu, sisa pembakaran sekam yang dicampur bekas pembakaran eceng gondok tersebut abunya bisa dijadikan kompos. Harga jual pupuk kompos itu per karung plastik cukup Rp 2.500. (Alman Eko Darmo-15n) |