| Sabtu, 04 September 2004 | SEMARANG |
Sebelum Meninggal, Karmani Uji KekebalanGROBOGAN- Kematian A Karmani (29), warga Dusun Gareh, Desa Ngabenrejo, Kecamatan Grobogan berbuntut pada penahanan adik korban, Nur Andim (25), Jumat (3/9) di Polres Grobogan karena diduga sebagai pelaku. Sementara itu, menurut penuturan beberapa warga Dusun Gareh, sebelum menemui ajalnya, Karmani beserta adiknya itu beradu ilmu untuk menguji kekebalan di antara tonggak kayu di desanya. Ilmu kekebalan tersebut kabarnya dipelajari keduanya di Batu Ampar, Madura, sejak beberapa waktu lalu. Saat beradu ilmu itulah, Karmani dalam posisi terlentang di atas tonggak kayu diinjak-injak oleh Andim. Kejadian itu pun mengundang perhatian warga sekitar. Anehnya, selepas diinjak-injak tubuh Karmani tidak mengalami luka. "Saat itu Karmani hanya diam dan tidak membalas," tutur seorang warga yang enggan disebutkan namanya. Kabarnya, Karmani memiliki ilmu kucing sedangkan adiknya ilmu anjing. Sebelum adu kadigdayaan itu, keduanya menjalani puasa berberapa tahun. Tidak ada yang menyangka korban yang dikenal pendiam dan santun terhadap warga sekitar itu ditemukan sudah menjadi mayat di kamarnya setelah semalaman berdua dengan adiknya, Nur Andim. Ayah korban, H Soleman (57), ketika ditemui di rumahnya mengaku masih sedih. Dia merasa cobaan yang dialaminya berat. Sebab, setelah menabrak orang hingga tewas di Kudus, justru anak pertamanya meninggal dan diduga pelakunya adalah adiknya. Meski demikian, Soleman pasrah dan menyerahkan semua kepada pihak yang berwenang. "Jika akan dimasukkan ke rumah sakit karena kondisi kejiwaan anak saya seperti itu, ya silakan," ujarnya. Sementara itu, musibah itu masih membuat istri Soleman terguncang. Ibunda Karmani itu seringkali pingsan ketika mengingat anaknya atau kalau menerima ucapan duka dari para tetangga dan saudaranya. Sebagaimana diberitakan, Karmani ditemukan tewas di dalam kamarnya. Jauh sebelum terjadinya musibah itu, Karmani dan adiknya pergi ke salah satu pesantren di Jepara dengan berboncengan motor. Kepergian mereka itu dalam rangka meminta maaf kepada guru yang pernah mengajarnya. Pasalnya, setelah belajar di pesantren tersebut, keduanya lalu menuntut ilmu kekebalan pada seseorang di Batu Ampar, Kabupaten Madura. Setelah bertemu gurunya tersebut, keduanya pulang. Namun nahas, ketika sampai di Srambatan, Kudus, mereka menabrak hingga tewas pengguna jalan lain. (H3-73j) |