logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 September 2004 SEMARANG
Line

Guru Kreatif, Siswa Aktif

BEGITU Felicia Suyudi SPd masuk kelas, anak-anak menyerukan salam. Mereka amat kompak, hingga gemanya seakan-akan mengalahkan deru kendaraan yang lewat di Jalan MT Haryono, siang itu. ''Selamat siang, Miss Felice!''

''Lo, kenapa kelasnya panas?'' tanya Felice, setelah menjawab salam siswanya. Miss Felice, demikian ia dipanggil oleh para siswanya, adalah guru kelas I-II SD Karangturi. Beberapa waktu lalu, ia memenangi Kontes Guru Kreatif Se-Jateng-DIY yang digelar Unika Soegijapranata untuk kategori guru SD.

Spontan, seorang siswa nyeletuk, ''Because AC-nya dimatikan, Miss.''

Suasana kelas pun hangat. Miss Felice segera memulai pelajaran. Felice telah berhasil memancing minat belajar siswa. Sengaja ia tak langsung menukik ke materi pelajaran yang hendak disampaikan.

''Siswa memang perlu dipancing minat belajarnya. Terlebih dahulu pengalaman belajar siswa dibangkitkan lewat hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka,'' ujar Felice dalam perbincangan dengan Suara Merdeka, Jumat (3/9).

Pembelajaran ala quantum teaching itulah agaknya, yang membuat alumnus Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UKSW Salatiga tersebut memesona juri guru kreatif. Betapa tidak, perempuan kelahiran Semarang, 20 Februari 1980 itu bisa mengajak siswa belajar tanpa merasa terbebani.

Pengalaman Belajar

Lihatlah yang dilakukan putri kedua pasangan Yoseph-Ruth Suyudi itu ketika mengolah tema ''Air untuk Kita, Kita untuk Air'' dalam kontes guru kreatif. Ia mempraktikkan kreativitas mengajarnya di sebuah SD yang baru hari itu dimasukinya.

''Ayo, siapa yang bisa berenang?'' tanya Felice, memulai pelajaran. Beberapa siswa mengacungkan tangan tinggi-tinggi.

''Siapa yang sudah mandi tadi pagi?'' tanya Felice kembali. Tak sampai sedetik, 40-an anak yang memenuhi kelas itu mengacungkan jari.

''Ayo, siapa yang tadi pagi lupa menggosok gigi?'' Anak-anak yang telah menyiapkan diri untuk mengacung segera menarik kembali tangannya. Hampir saja mereka terjebak oleh pertanyaan ''gurunya''. Sembari cekikikan, mereka mengumpetkan tangan di bawah meja.

Begitulah, Felice memancing pengalaman belajar siswanya. Dari situ Felice membawa siswa pada sejumlah data mengenai air. Selanjutnya, ia meminta anak-anak menyikat gigi tanpa air. Tentu saja, anak-anak merasa tak nyaman oleh busa yang memenuhi mulut. Tak lama kemudian, Felice memberikan air sehingga siswa itu bisa berkumur.

''Anak-anak perlu dipancing untuk memikirkan cara menghemat air. Mereka perlu diberi peluang untuk menarik simpulan sendiri dari proses yang dialaminya.''

Bagaimana pelajaran bahasa Inggris bisa ia masukkan? Felice tak pernah mau memaksa anak-anak menghafal kosakata. Ia menyelipkan sejumlah kosakata bahasa Inggris dalam pembelajarannya. ''Dalam pembelajaran kali ini, kita memerlukan toothbrush (sikat gigi), toothpaste (pasta gigi), dan tentu saja water (air). Ayo siapa yang bisa menuliskan bahasa Inggrisnya air?''

Maka, ketika seorang anak maju dan menuliskan W-A-T-E-R di papan tulis dengan benar, sesungguhnya mereka telah menemukan sesuatu.

Begitu pun dalam pembelajaran di sekolah. Felice selalu berupaya untuk kreatif dalam memberikan pengalaman belajar buat para siswanya. Dengan kreativitasnya pula, Felice menyiapkan penghargaan bagi siswanya yang melakukan pekerjaan dengan cepat atau benar. Penyuka musik jaz dan R&B itu akan memberikan stiker mungil kepada siswanya yang bisa mengerjakan tugas lebih cepat dan benar. Stiker itu lucu dan menyenangkan anak, bermodel siluet Teddy Bear, apel, garfield, dan semacamnya. ''Pada akhir bulan, buat siswa yang mengumpulkan stiker terbanyak, saya siapkan hadiah berupa alat tulis atau benda lain yang bermanfaat,'' (Achiar M Permana-89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA