logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 September 2004 SEMARANG
Line

Belasan Orang Ingin Adopsi

  • Bayi Ditinggal di RS Panti Wilasa

SEMARANG-Derita Wiwid, bayi prematur yang ditinggalkan orang tuanya di Rumah Sakit (RS) Panti Wilasa Citarum menerbitkan simpati masyarakat. Belasan orang menelepon RS, menanyakan keadaan bayi tersebut. Tak kurang dari sepuluh orang lainnya datang ke rumah sakit, dan melihat langsung bayi malang itu.

''Sebagian besar kaget. Melihat foto di Suara Merdeka kemarin (Kamis, 2/9), mereka menyangka bayinya besar. Ternyata kecil sekali,'' ujar Drs St Dwi Martanto MM, Kepala Bagian Humas dan Pemasaran RS Panti Wilasa Citarum, Jumat (3/9).

Mereka yang bersimpati sebagian besar berasal dari Semarang. Namun, ada juga yang datang dari Demak dan beberapa daerah lain. Bahkan, ada yang datang dari Jakarta. Rata-rata mereka datang bersama keluarga, saudara, atau teman-temannya.

''Mereka ingin melihat langsung kondisi si bayi. Tapi begitu melihat bayinya kecil banget, mereka cuma bilang, 'Ya sudah, besok lagi ke sini.' Kami cuma memberikan informasi tentang bayi itu apa adanya,'' imbuh Dwi.

Seperti diberitakan kemarin, bayi itu ditinggalkan keluarganya di RS Panti Wilasa Citarum, Senin (30/8). Bayi yang lahir prematur tersebut ditinggalkan di UGD saat proses administrasinya berlangsung. Orang yang mengantar bayi itu meninggalkan nama dan alamat palsu. Sesuai yang tertulis dalam berkas administrasi, bayi itu merupakan anak pertama Ny Wiwid Nugraeni Widiastuti (21), yang tinggal di Gedongsari 56 Semarang Timur. Ia membawa surat rujukan yang diberikan bidan Ny Luna Herwono.

Hingga hari ini, bayi tersebut masih menjalani perawatan intensif di Ruang Peristi RS Panti Wilasa. Perawatan bayi berukuran berat 950 g (9,5 ons) dan panjang 36,5 cm itu dilakukan oleh suster Sri Mardiyati dan dalam pengawasan dr Susetjo SpA.

Sejauh ini, bayi dalam keadaan normal. Artinya, tak ada gangguan fisik yang patut dikhawatirkan. Cuma, karena amat lemah, ia harus berada di dalam inkubator. Pihak RS memperkirakan bayi itu akan terus berada dalam inkubator dalam waktu 4-5 bulan sampai berat badannya normal.

Pihak rumah sakit berharap ada yang terketuk untuk mengadopsi bayi malang itu. Paling tidak, membantu meringankan biaya bantuan perawatan bagi bayi. Menurut keterangan dr Daniel Budi Wibowo MKes, Direktur RS Panti Wilasa Citarum, pihak rumah sakit mengeluarkan Rp 300.000-Rp 500.000 untuk biaya perawatan si bayi setiap hari.

''Sebenarnya ada seseorang yang hendak memberikan bantuan perawatan bagi si bayi. Tapi sampai sore ini (Jumat kemarin-Red), orang tersebut belum bertemu dengan saya. Mudah-mudahan besok (hari ini-Red) bisa bertemu,'' kata Dwi. (amp-89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA