logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 September 2004 KEDU & DIY
Line

Kunjungan Menteri Kelautan Diwarnai Demo

  • Perangkat Desa Menuntut Bengkok

BOROBUDUR-Stamina Kabupaten Magelang sebagai daerah penghasil benih ikan menurun, sehingga tertinggal dengan daerah lain. Sebelumnya, daerah itu mampu memenuhi kebutuhan benih ikan air tawar Jateng, DIY, Jabar, dan Jatim.

''Kami siap bangkit lagi menjadi sentra ikan air tawar,'' tekad Bupati Magelang, Ir Singgih Sanyoto, kemarin (3/9) sore, dalam peresmian Balai Benih Ikan Lokal Sawangan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Dr Rokhmin Dahuri.

''Peluang pasar dan posisi strategis Kabupaten Magelang, ditunjang dengan ketersediaan air sepanjang tahun,'' katanya.

Ia mengungkapkan, produksi benih ikan 2003 sebanyak 428,35 juta ekor. Produksi ikan lauk/konsumsi 3.303,28 ton, yang terdiri atas ikan mas, tawes, nila, lele, gurami, dan bawal air tawar.

Dengan penduduk mencapai 1,2 juta jiwa, rata-rata konsumsi ikan 9,7 kg/kapita/tahun, jauh di bawah rata-rata konsumsi tingkat nasional 24,67 kg/kapita/tahun.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Rokhmin Dahuri menilai, warga Kabupaten Magelang masih sangat sedikit mengonsumsi ikan. Padahal, ikan mengandung banyak protein, lemak jenuh, mineral, zat besi, dan omega3.

Unjukrasa

Sementara itu di luar pagar kompleks BBI Lokal Sawangan, Widyanto S, Kades Butuh memimpin puluhan warganya berunjuk rasa menuntut bengkok yang memadai bagi perangkat desa.

''Sejak Indonesia merdeka sampai sekarang, perangkat desa tidak dibayar alias gratis. Sekarang katanya era reformasi, kami minta Pemkab Magelang memberi imbalan layak atas pengabdian perangkat desa,'' kata Widyanto, melalui megaphone yang di arahkan ke peresmian BBI.

''Kalau pemda tidak mampu memberi imbalan kepada perangkat desa, kami akan bergabung ke Sleman atau Temanggung,'' teriak Widyanto.

Kabag Tapem Pemkab Magelang, Rohadi Pratoto SH mengatakan, desa-desa di Kabupaten Magelang yang tanah bengkoknya relatif sempit, sekitar satu hektare, seperti Desa Butuh, jumlahnya puluhan. Juga yang dua hektaran dan tiga hektaran.

''Hingga kini, persoalan bengkok perangkat desa masih terus diupayakan solusinya,'' katanya. (pr-76a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA