| Sabtu, 04 September 2004 | BUDAYA |
Menggairahkan Jaz di SemarangSEMARANG pernah memiliki agenda jaz rutin. Sebut saja "Swing Jazz" bersama Kamadhatu di Hotel Santika (1995-1996), "Jazz Break" bareng Idang Rasjidi di Hotel Graha Santika (1996-1997), dan "Purnama Jazz" di Hi-Soem Resto (sekitar 2000). Namun dalam beberapa tahun terakhir, Semarang menjadi "kering" akan suguhan musik jaz. Jika ada, tidak bersifat rutin. Ada dua kemungkinan penyebabnya. Kurang peminat atau justru pemainnya mulai meninggalkan jenis musik tersebut dan beralih ke aliran yang lebih "menjual". Untuk mendapatkan jawabannya, Fashion Resto bekerja sama dengan A Mild Production mencoba menggelar "Jazzy on Fashion", Rabu (1/9) malam lalu dengan menghadirkan band lokal, Sakata. Dan hasilnya, ternyata penonton memadati kafe yang berlokasi di Jl Mayjen Sutoyo 55 Kampungkali tersebut. Para pecinta jaz tumplek blek di tempat itu dan berinteraksi aktif dengan band yang tampil. Berarti, peminatnya masih banyak. Yang menjadi persoalan adalah pemainnya. "Susah ngumpulin pemain jaz di Semarang. Mereka sudah sibuk bekerja dan susah diajak main band lagi," ungkap Reza Kartika, PR Fashion Resto. Band yang relatif mudah dihubungi adalah Sakata sehingga grup yang digawangi Handono (bas), Ricky (gitar), Agus Jack (kibor), Tyas (kibor), Anda (drum), Bemby (perkusi), serta Mariska, Glen, Alan, dan Semar (vokal) ini dipercaya untuk tampil. Mereka membawakan antara lain "Spain" (Chick Korea), "Desafinado" (Antonio Carlos Jobim), dan beberapa lagu request. Cukup banyak penonton yang maju ke panggung untuk menyanyi. Jumlah penonton yang penuh mendorong pengelola Fashion Resto untuk menggelarnya secara rutin sebulan sekali setiap Rabu pertama. (Asep BS-81) |