| Jumat, 03 September 2004 | SALA |
Gatal-gatal Muncul di Daerah Rawan KekeringanKEMUNCULAN penyakit gatal-gatal, sebenarnya hal yang biasa pada musim kemarau. Namun bila musim itu mencapai puncaknya, penyakit kulit biasanya merambah kemana-mana, bahkan tingkat serangannya kepada warga yang kekurangan air bersih sangat cepat. Semakin jauh dari air bersih, penyakit itu cepat hinggap pada tubuh manusia. Sebagaimana diketahui, kekeringan di berbagai desa di Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, kini mencapai puncaknya. Ratusan penduduk dilaporkan mulai membeli air bersih dengan harga cukup tinggi. Selain itu, beberapa warga di berbagai desa juga terserang penyakit gatal-gatal. Penyakit kulit itu, dirasakan pada bagian bahu dan lengan. Warga mengaku kesulitan mendapat air bersih. Kalau pun mendapat air bersih, lebih diutamakan untuk keperluan memasak nasi atau merebus beras. ''Bagaimana tidak gatal, kalau mandi hanya satu kali sehari,'' kata Sudi, salah seorang warga Desa Linginlarik. Keluhan yang sama juga dikemukakan warga Desa Dragan, Lampar, Sangun, dan desa lainnya. Kepala Dinas Kesehatan dan Sosial (DKS) Boyolali, dr Samsudin MKes mengatakan, setiap musim kemarau pasti ditandai dengan kemunculan penyakit gatal-gatal. Bahkan penyakit itu cepat hinggap pada tubuh manusia, bila yang bersangkutan jarang mandi dengan air bersih. Penyakit tersebut tumbuh dan berkembang di daerah kekeringan. Periksa Puskemas Penyakit gatal-gatal atau biasa disebut scabies, merupakan masalah personal higiene atau kebersihan diri. Dengan demikian, bila warga senantiasa menjaga kebersihan atau mandi teratur akan terhindar dari penyakit itu. Tetapi bagi daerah yang rawan kekurangan air bersih, akan kesulitan menjaga kebersihan. ''Bagaimana bisa menjaga kebersihan, kalau mereka kesulitan mendapatkan air bersih,'' katanya. Namun demikian, penyakit itu tidak membahayakan. Laporan yang masuk ke Dinas Kesehatan menyebutkan, warga umumnya mampu mengatasi sendiri. Namun bila penyakit itu diikuti dengan infeksi, hendaknya diberi antibiotika. Kepada warga masyarakat, pihaknya minta tidak segan-segan mendatangi Puskesmas untuk memperoleh pengobatan. Semua petugas medis di lapangan sudah diinstruksikan agar terus memantau dan bertindak cepat. ''Karena itu, sebelum menjadi infeksi, saya minta warga cepat-cepat berobat ke puskemas,'' katanya. Samsudin belum bisa memperinci, berapa warga yang terserang penyakit tersebut. Yang pasti, penyakit itu biasanya muncul di daerah rawan kekeringan; sebagian besar dialami warga di Kecamatan Musuk, karena daerah itu merupakan daerah rawan air bersih. Dengan demikian, intensitas penyakit itu cepat sekali. Kabag Sosial Drs Mulyono mengatakan, berdasarkan data, setidaknya ada 33 desa di lima kecamatan yang dikategorikan rawan kekeringan. Dari lima kecamatan itu, yang mendesak untuk segera mendapat droping air bersih semua desa berada di Kecamatan Musuk. Sebagian warga di kecamatan tersebut dilaporkan sudah membeli air bersih, atau ngangsu (menngambil air) yang jaraknya cukup jauh. ''Dalam pekan ini, kami sudah mengedrop air bersih,'' kata dia. (Suti Harjoyo-85a) |