logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 03 September 2004 SALA
Line

Perbaiki Nasib Keluarga dengan Kue Donat

BANYAK jalan untuk memperbaiki nasib kehidupan. Pasangan Sulastri (32) dan Sugiman (32), misalnya, memilih jalan dengan membuat kue donat.

Dari membuat dan berjualan kue tersebut, keluarga dengan dua anak itu mampu meningkatkan pendapatan, dan terlepas dari lilitan kemiskinan. Bahkan, keluarga yang tinggal di RT 02/RW 4 Kelurahan Bulusur, Kecamatan Wonogiri Kota, itu kini dijadikan cermin profil keberhasilan usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera (UPPKS).

Lebih istimewa lagi, mereka terpilih menjadi keluarga kepercayaan untuk membawa obor yang diambil dari sumber api abadi, Mrapen, Demak, pada upacara pencanangan keluarga sejahtera pedesaan berkualitas berbasis rukun tetangga (RT), Rabu (1/9) lalu, di stadion Pringgondani, Wonogiri.

''Kami tidak mengira, diberi kepercayaan membawa obor untuk disampaikan kepada Presiden,'' katanya.

Keluarga Sulastri dikarunai dua anak, putra-putri. Yang sulung bernama Aprilian (11), duduk di kelas IV SD, dan yang bungsu Benaya Febrian (4,5) masih duduk di kelas nol Taman Kanak-kanak (TK).

''Saya ikut program keluarga berencana (KB) dengan kontrasepsi IUD,'' tuturnya.

Sulastri menjadi anggota Kelompok UPPKS Ngudi Santosa 2, di RT 02/RW 4 Bulusari, Kelurahan Bulusulur. Jumlah anggotanya 12 kepala keluarga (KK), yang masing-masing punya usaha produktif, seperti membuat getuk, tempe, rantengan (jajanan gorengan), bakul sayur, membuat kue donat, kue kering jenis stik, cumi, dan keripik.

Baca Majalah

''Saya memilih membuat kue donat,'' ujar Sulastri.

Kecakapan membuat kue donat, dipelajari dari resep di majalah-majalah, yang ditindaklanjuti dengan praktik. Saat BKKBN membagikan pinjaman Kukesra, Sulastri dipinjami modal awal Rp 20 ribu.

Dari pinjaman itu, dia membuat kue donat untuk dijual ke pasar, dan ternyata laku. Ia kemudian mendapat peningkatan pinjaman modal dalam kelipatan dua kali secara berjenjang, hingga akhirnya mendapat pinjaman sampai Rp 320 ribu.

Kecuali itu, dia juga dipercaya mendapat tambahan pinjaman modal dari Kredit Petani Kecil (KPK) dan dari bantuan modal bergulir Kelompok Pemberdayaan Swadaya Masyarakat (KPSM).

Suaminya, Sugiman, kemudian rela keluar dari pekerjaannya sebagai buruh batik di Solo untuk membantu usaha istrinya di rumah.

Kini, omzet produksinya mencapai 1.500 biji kue donat per hari, yang tentu tak mungkin lagi ditangani oleh Sulastri seorang diri. Sebab, untuk memproduksi kue donat sebanyak itu, diperlukan tenaga pengolah bahan baku tepung terigu sebanyak 25 Kg per hari.

Usaha pembuatan kue donat, dirintisnya pada 1996. Awalnya, dia hanya mengolah bahan baku dua kilogram tepung terigu. ''Yang namanya jualan, kadang-kadang juga ada sepinya,'' ujar Sulastri lugu.

Dari usaha donat itu, kini dia punya penghasilan rata-rata Rp 1,5 juta per bulan. Penghasilan tersebut jauh lebih besar dari upah buruh batik.

Dengan penghasilan itu, dia mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Bahkan, dia pernah menerima kedatangan rombongan studi banding peserta pengentasan kemiskinan dari 15 negara. (Bambang Pur-49a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA