| Jumat, 03 September 2004 | SALA |
Seniman "Gendheng" Serba BisaDI kalangan komunitas seniman Solo, Gunadi (52) dikenal sebagai seniman serba bisa. Seni rupa seperti melukis, ukir kayu ataupun tembaga dan seni pertunjukan, dunia panggung kesenian tradisional digeluti dengan baik dan total. Namun di balik kemampuannya yang serba bisa itu, banyak yang tidak tahu kalau dia seorang mantan pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mangkujayan Solo. Kebanyakan seniman yang mengenal dekat hanya tahu perilaku Gunadi yang kini bermukim di Perumahan Seniman Clolo, Kadipiro, Kecamatan Banjasari itu sering dianggap gendheng atau dhegleng karena tingkahnya yang sering dianggap tidak normal. Tingkah laku seperti itu sering muncul ketika sedang mengerjakan karya seninya, melukis, mengukir, atau main di atas panggung ketoprak dan wayang orang. Bahkan belakangan dia juga menguasai keterampilan memijat dan supranatural. Maka banyak yang menyebut apa yang dilakukan seniman yang sudah ompong itu, semakin melengkapinya sebagai seniman serba bisa, yang kemudian membuatnya diberi predikat gendheng atau dhegleng. Kehidupan Berbeda dengan dunia berkesiannya, keadaan berbalik ketika melihat kehidupannya sehari-hari. Predikat serba bisa itu tak mampu memberi dia hidup yang layak, apalagi berlebihan dari segi materi. Di rumahnya yang sempit di antara deretan rumah seniman, tidak banyak barang yang bisa dikatakan mewah. Meski ada seperangkat kursi tamu dan satu pesawat televisi serta akuarium yang dipasang di ruang tamu. "Ada satu televisi lagi, kalau yang itu pemberian orang lain," katanya sambil menunjukkan televisi ukuran 14 inci di kamar tidurnya. Kalau sedang banyak order, rumahnya yang sempit itu dipenuhi barang yang sedang dikerjakannya, apakah itu lukisan, patung, relief atau properti dekorasi panggung. Bicara soal karya seni, laki-laki itu terbilang cukup banyak dan menyebar di berbagai kota dan kolektor benda-benda seni. "Saya juga pernah membuat ukiran relief di Bali selama tiga bulan. Sejumlah patung dipesan para pejabat tinggi di Jakarta, demikian juga dengan lukisan," tambahnya. Untuk karya lukis, ayah dua anak itu lebih banyak mengerjakan pesanan. Seperti puluhan kelir atau layar yang menjadi latar panggung pertunjukkan kesenian tradisional ketoprak atau wayang orang. Ingin tahu karya lukisan besar Gunadi? Datang saja di Gedung Wayang Orang Sriwedari, RRI atau Balekambang. Di gedung itu setiap hari bisa dilihat lukisan besar bercorak keraton, candi, hutan, dan pemandangan alam. Kebolehannya melukis itu juga dikenal di luar kota, sehingga sejumlah kelompok ketoprak memesan karyanya untuk digunakan di panggung. "Untuk di WO Sriwedari, sebagian bukan karya asli, tapi saya hanya membersihkan dan mengecat ulang agar kelihatan baru," ujar dia yang kini juga menjadi pemain WO Sriwedari itu. Berbeda dengan soal ukir kayu. Untuk seni patung atau ukir, dia sering membuat eksperimen. Dia tidak segan-segan berburu kayu berukuran besar di hutan-hutan. Kemudian diukir dan dibuat relief. Terakhir dia membuat relief Ramayana dari kayu johar yang tumbang di Pemakaman Umum Bonoloyo, tidak jauh dari rumahnya. "Kayu itu sudah berumur 50 tahun lebih," katanya sambil memahat bagian-bagian kayu itu di depan rumahnya. Ketika ditanya soal predikatnya sebagai seniman "gila", dia hanya tersenyum. Gunadi tidak menolaknya, karena memang sering berbuat seperti orang sakit jiwa. Apalagi dengan terang-terangan mengaku pernah menjadi pasien RSJ Mangkujayan, ketika rumah sakit itu masih berada di dekat Stadion Sriwedari. "Meskipun di RSJ hanya seminggu, tetap saja disebut orang gila," ujarnya terkekeh-kekeh.(Sri Wahjoedi-17r) |