logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 03 September 2004 SALA
Line

Minggu, Panitia Penobatan Adakan Pengobatan Massal

KERATON SURAKARTA - Panitia Penobatan KGPH Hangabehi menjadi SISKS Paku Buwono XIII, menggelar pengobatan massal gratis di dua tempat secara serentak, Minggu 5 September. Pengobatan secara spiritual atau alternatif, dilayani di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, sedangkan pengobatan medis di klinik Kamandungan, Baluwarti. Acara itu terbuka untuk umum, tetapi diutamakan warga Baluwarti.

"Pendaftaran kami pusatkan di kantor PT Hayuningrat, Pendapa Pagelaran, dan sudah dilakukan sejak 25 Agustus. Namun pelayanannya nanti di dua tempat. Kami mengutamakan warga Baluwarti dulu," tutur Mas Lurah (ML) Sastra Pirnama, kemarin.

Hingga kemarin, pendaftar pengobatan alternatif kurang lebih baru 20 orang. Adapun pendaftar pengobatan medis belum diketahui karena ditangani petugas bidang itu, Suparno. Meski demikian, pihaknya optimistis pengobatan gratis ini akan dijejali pasien. Sebab animo terhadap pelayanan kesehatan ini cukup besar. Warga biasa datang mendadak pada hari "H", Minggu pagi, 5 September.

Abdi dalem yang bernama asli Joko Purnomo itu menyatakan, kegiatan bakti sosial dalam rangka penobatan tidak hanya pengobatan massal. Sebab akan ada juga ruwatan massal khas keraton, kunjungan ke panti-panti asuhan, sarasehan budaya, pentas wayang kulit, panggung pertunjukan seni modern, dan sebagainya.

Di bagian lain, pemandu tari "Bedaya Ketawang", Eko Kadarsih menjelaskan, sejak Rabu malam dilakukan latihan tari sakral yang akan melengkapi upacara jumenengan nata, 10 September itu. Latihan sembilan penari di tempat upacara jumenengan, Pendapa Sasana Sewaka, malam itu diiringi gamelan Kyai Lokananta yang memainkan gending kethuk-kenong atau kemanak.

Dua Gamelan

Salah seorang abdi dalem pengrawit, Joko Daryanto SSn menyatakan, gamelan pusaka yang digunakan untuk iringan dan penghormatan jumenengan SISKS Paku Buwono XIII, adalah gabungan dari dua perangkat gamelan Kyai Kaduk Manis dan Manis Rengga. Keduanya adalah bagian dari seluruh gamelan keraton, yang hingga kemarin masih diinventarisasi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3).

"Kami ikut mengantar petugas untuk menghitung dan mengidentifikasi jenis dan nama-nama gamelan aset Keraton. Hari ini kami mendaftar yang tersimpan di Bangsal Keparak, Sitinggil Lor," tutur sarjana seni jurusan karawitan lulusan STSI Solo itu.

Di bagian lain, Luky Arwanto yang juga staf sekretariat panitia menyebutkan, hingga kini tinggal kurang lebih 10% undangan yang diproduksi, terkirim ke alamat yang dituju. Ada lebih dari 600 undangan lux berwarna ungu, lebih dulu diluncurkan untuk undangan VVIP dan VIP, seperti para duta besar, pejabat negara, dan pemerintah tingkat provinsi dan daerah.

Menurut dia, untuk undangan VVIP dan VIP yang sedikitnya 600 eksemplar itu, panitia harus menyediakan sedikitnya 1.200 kursi dari target persediaan 1.500 pada jumenengan nata di Bangsal Manguntur Tangkil, Sitinggil Lor, 10 September. Selain itu, ada 24 ribu (bukan 14 ribu-Red), anggota Paguyuban Kulawarga Surakarta (Pakasa) yang menginginkan datang dan menyaksikan peristiwa bersejarah itu. "Sayang, dua hari kemarin terganggu isu ancaman masuk paksa sehingga pengiriman agak tersendat. Namun, waktu kami masih panjang, sehingga memungkinkan beres jauh sebelum hari 'H'," tutur dia. (G18,won-17i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA