logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 03 September 2004 SALA
Line

Pintu Keraton Dibuka Kembali

KERATON SURAKARTA-Dua pintu masuk Baluwarti atau yang mengakses ke keraton, yaitu Kori Brajanala Lor dan Kori Butulan Kulon, sejak kemarin pagi sudah dibuka kembali untuk lalu lintas umum.

Tapi, karena pekerjaan pengecatan tembok dan pintu gerbang masih berlanjut, ada stager dan tangga yang dipasang di mulut gerbang tersebut. Alat itu digunakan para pekerja, untuk menjangkau ketinggian bangunan di kawasan tersebut.

Staf Sekretariat Panitia Penobatan, Ebit Pramudijanto menyebutkan, selama dua hari -Selasa dan Rabu- kedua pintu itu terpaksa ditutup rapat.

Selain karena adanya pekerjaan pengecatan, juga karena alasan keamanan, menyusul adanya isu tentang massa dan kekuatan militer yang akan masuk paksa ke Keraton.

"Jadi benar, kata eyang Prabu (BKPH Prabuwinoto-Red). Katanya ada isu mau didobrak. Kebetulan, bersamaan dengan pekerjaan persiapan jumenengan. Dari pada berisiko lebih besar, lebih baik ditutup. Itu pun hanya dua pintu. Kori Butulan Wetan serta pintu jebolan di bagian barat dan selatan, masih terbuka lebar," tandasnya kepada Suara Merdeka, di tempat terpisah.

Kedua pintu yang dibuka kembali mulai kemarin pagi itu, adalah sarana akses masuk ke Baluwarti dari arah Alun-alun Lor atau Pasar Klewer untuk Kori Brajanala Lor. Sementara itu Kori Butulan Kulon, untuk akses lalu-lintas dari arah Kampung Gajahan dan Reksaniten.

Jebolan Tembok

Untuk Kori Butulan Wetan dan dua jalan masuk berupa jebolan tembok di bagian barat dan selatan tembok benteng Baluwarti, ditegaskan tidak pernah ditutup, dan selama ini selalu terbuka lebar.

Khusus untuk Butulan Wetan, sama dengan pintu gerbang lain, pada hari-hari biasa terbuka pukul 05.00-22.00.

"Jadi, sebenarnya apa yang diributkan? Sebaiknya tidak waton sulaya atau asal ribut, sebelum tahu kondisi yang sebenarnya. Tetapi harap dimaklumi, apabila selama berlangsungnya kerja bakti kami ngebut mempercantik Keraton sempat mengganggu kepentingan umum," katanya memohon.

Di tempat terpisah, ketika dimintai konfirmasi seputar penutupan akses masuk ke Keraton, KGPH Tedjowulan mengemukakan tidak masalah. Jika memang dirinya tidak diperkenankan memasuki Keraton, tidak menjadi persoalan. Ia juga membantah isu yang mengabarkan bakal ada penyerangan ke Keraton dari pihaknya, sehingga aset tak bergerak itu perlu ditutup dan dijaga ketat.

"Malah berkembang isu, akan ada pendobrakan ke wilayah Keraton segala. Tidak ada. Itu tidak benar. Kalau memang saya tak boleh masuk Keraton, ya wis. (ya sudah-Red). Tidak apa-apa bagi saya," paparnya.

Dia yang masih aktif di kemiliteran itu, sebenarnya menyayangkan mengapa Keraton harus ditutup dan tidak memperbolehkan ada pihak berseberangan yang masuk. Sebab, bagaimanapun Keraton adalah sama-sama rumah mereka.

Namun, kakak GPH Dipokusumo itu mengaku dirinya pernah masuk ke Keraton usai pengukuhannya sebagai Kanjeng Adipati Anom atau putra mahkota. Kala itu, ia tidak bertemu putra-putri dalem lainnya, dan tidak banyak pihak yang tahu. "Dan memang tidak apa-apa," akunya. (G18,won-17a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA