| Jumat, 03 September 2004 | PANTURA |
Perlu Dibangun Lagi Bronkap di Cihirup
BREBES - Keluhan warga Desa Jipang Kecamatan Bantarkawung Kabupaten Brebes soal kecilnya aliran air dari sumber air Cihirup disebabkan oleh geografi desa tersebut yang lebih tinggi daripada pipa jaringan PDAM yang ada. Sumber air Cihirup, kata Direktur Teknik PDAM Anjar Asmoro SE, memang terletak di Desa Jipang, tapi jaringan pipa yang menuju ke sana harus melewati Desa Bangbayang di bawahnya. "Karena itu, wajar air tak bisa lancar sebagaimana harapan warga yang tinggal di sana," tutur Anjar menanggapi keluhan pelanggan PDAM di Desa Jipang, kemarin. Di Desa yang terletak di barat Ibu Kota Kecamatan Bantarkawung itu saat ini terdapat 92 sambungan rumah yang dialiri air dari sumber Cihirup. Lalu, di Desa Bangbayang ada 196 sambungan dan di Desa Bantarkawung 277 sambungan. Program air bersih itu semula diprogramkan Pemkab melalui anggaran Dinas Kesehatan Rp 450 juta tahun 2001 untuk membuat jaringan dari sumber air sampai ke perkampungan tiga desa. Selanjutnya, pada 2002, Pemkab menyuntik lagi dana lewat Dinas Pekerjaan Umum (PUK) Rp 380 juta untuk membangun bronkap (penampungan air) di lokasi sumber air. Setelah dua proyek tersebut selesai, pengelolaannya diserahkan kepada PDAM Brebes. Namun, bronkap yang digarap dalam proyek terakhir tidak bisa berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Sebab, kata Anjar, bronkap tersebut tidak bisa menampung sumber air lain yang ada di Cihirup. "Mestinya bronkap yang ada digunakan untuk menampung air dari beberapa sumber air di Cihirup, bukan menampung air dari sumber lama saja, sehingga debit tak bertambah." Satu Sumber Karena hanya satu sumber yang diandalkan, debit air tetap yakni 5 liter per detik. Padahal, agar bisa menyuplai air sampai ke Desa Jipang, perlu ada tekanan yang lebih tinggi. Diakui, dengan tekanan air 5 liter per detik, warga Jipang hanya bisa menikmati air setelah pukul 22.00. Pada pagi dan sore air lebih banyak dikonsumsi pelanggan dari Desa Bangbayang dan Bantarkawung. Menyangkut tuntutan warga Desa Jipang kepada PDAM, Anjar mengatakan, sebenarnya tuntutan tersebut salah alamat. Sebab, yang lebih bertanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan dua proyek itu adalah Dinas Kesehatan dan Dinas Pekerjaan Umum kabupaten. "Lebih-lebih tuntutan tersebut diarahkan kepada kualitas pekerjaan. Lebih tepat dia ke dinas tersebut," paparnya. Secara terpisah, perwakilan warga Desa Jipang Estu Susilo mengatakan, kesulitan air yang dialami warga Jipang akibat debit air yang rendah. Pada musim hujan, ketersediaan air tidak menjadi masalah bagi mereka. Namun, saat kemarau terasa sekali karena warga dapat memperoleh aliran dari Cihirup pada malam hari. "Pada siang air sama sekali tidak mengalir. Kadang-kadang cuma crat-crit, itu pun hanya pada malam hari," imbuhnya. Meski aliran tak lancar, warga mengaku tetap ditarik rekening bulanan PDAM dengan besar bervariasi antara Rp 20.000 dan Rp 50.000 per rumah. (wh-74e) |