logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 03 September 2004 PANTURA
Line

Sadar Kebersihan Rendah

PERSOALAN limbah pencucian jins yang muncul di Pemalang baru-baru ini, mengundang perhatian beberapa pihak. Termasuk Bagian Lingkungan Hidup (LH) yang memang fungsi dan tugasnya mengurusi persoalan limbah.

Kendati persoalan itu biasanya ditangani secara serius, selalu muncul persoalan yang sama di kemudian hari, terutama ketika musim kemarau datang.

Menurut Kasubag Analisa Dampak Lingkungan (Amdal) Ir Joni, persoalan limbah memang selalu muncul pada musim kemarau. Hal itu disebabkan mengeringnya sungai, sehingga buangan air limbah akan kelihatan mencolok, baik warna air maupun baunya. "Pada musim penghujan sungai penuh air, sehingga limbah yang dibuang mudah hanyut terbawa arus air dan tidak kelihatan bekasnya," katanya.

Persoalan limbah yang selalu muncul pada musim kemarau itu, membuktikan bahwa sistem pengolahan limbah pada industri-industri kecil belum berjalan sebagaimana mestinya. Misalnya, dengan membuat sumur serapan atau yang lebih modern Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL).

Dia menunjukkan contoh pada industri makanan seperti pembuatan tahu dan tempe. Limbah dari industri kecil ini sebenarnya cukup membuat lingkungan jadi tidak sedap dipandang. Kendati tidak ada zat-zat kimia yang berbahaya, limbah cair yang dibuang sangat mengotori saluran. Juga menimbulkan bau yang tidak enak.

Ratusan

Padahal, jumlah industri kecil tahu dan tempe di Pemalang, menurut data di Subdin Perindustrian, jumlahnya ratusan. Industri perumahan itu menyebar di beberapa desa.

Namun, selama ini tidak timbul keluhan atau persoalan pencemaran yang berat dari warga. Kalau pun ada keluhan, yang muncul hanya masalah baunya.

Untuk mengatasi masalah seperti itu, memang tidak ringan. Jika diterapkan aturan yang tegas, misalnya dengan mewajibkan membuat IPAL atau minimal sumur resapan, tentu akan banyak keluhan dari para pengusaha yang umumnya bermodal pas-pasan. Sehingga para pengusaha industri kecil beranggapan, sepanjang warga tidak mempermasalahkan, tidak ada masalah dengan limbah, meski lingkungan maupun saluran buangan sudah penuh dengan limbah cair yang diproduksi setiap hari.

Persoalan itu mengingatkan pada upaya kebersihan lingkungan secara luas. Agaknya kini masih banyak masyarakat yang belum menyadari arti penting sebuah kebersihan lingkungan. Kesadaran mereka masih lemah. Baru setelah timbul masalah, seperti penyakit atau pencemaran, mereka mulai memikirkan.

Padahal, kebersihan lingkungan dengan membuat saluran bebas dari sampah dan kotoran lainnya yang menghambat arus air mengalir, bermanfaat pula pada musim penghujan. Karena kalau tidak beruntung bisa menimbulkan banjir. (Saiful Bachri-74)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA