logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 03 September 2004 WACANA
Line

SURAT PEMBACA

Jangan Salahkan Penjudi Saja

Saya salut dan bangga kepada Bapak Kapolda Irjen Chaerul Rasjid yang memberantas dan menghentikan perjudian di Jateng. Memang perjudian di daerah ini sudah mewabah, hampir di setiap lokasi banyak ditemukan perjudian togel, capjikia, domino, remi dan lainnya.

Tetapi sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan penjudi begitu saja. Mereka berjudi disebabkan oleh banyak faktor. Antara lain pengangguran yang akhirnya berjudi sebagai pengisi waktu. Hal ini karena keterampilan/kreativitasnya rendah.

Pemerintah jarang mengadakan kursus keterampilan gratis, para pejabat sibuk memperkaya diri sehingga lupa tugasnya melayani masyarakat. Juga faktor kurangnya pemahaman terhadap agama dan tingkat pendidikan yang rendah.

Masyarakat penjudi sudah tahu judi dilarang semua agama dan negara. Tetapi karena tidak takut dosa, ya tetap berjudi terus. Untuk itu peran depag, kepolisian dan masyarakat sangat penting dalam pemberantasan judi. Sebenarnya ada cara mudah mengurangi perjudian (untuk memberantas total tidak mungkin).

Yaitu depag/kepolisian bekerja sama dengan media massa membuat iklan layanan masyarakat. Isinya menjelaskan efek negatif dari berjudi, misalnya adanya perkelahian, mabuk-mabukan dan meningkatnya kriminalitas.

Junardiyono SS

Jatilor Rt 1/Rw 7 Bugel Sukaharjo

***

Tanggapan BCA

Sehubungan masukan Bapak Hari S Nugraha lewat Surat Pembaca 10 Agustus 2004 mengenai tukar posisi kerja di BCA Jakarta, kami sampaikan sbb: Pertukaran posisi pekerjaan dapat dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan dan sesuai kualifikasi pekerja pada kedua unit kerja.

Prosedurnya, setiap karyawan yang akan mutasi dari satu jabatan ke jabatan lain dan/atau dari satu unit kerja ke lainnya harus mengisi formulir permohonan yang sudah direkomendasi/disetujui oleh pejabat berwenang, setelah itu formulir tersebut dikirim ke SDM unit kerja tujuan.

Manajer Biro Humas

Dwi Narini

***

Pelayanan Griya Laksana

Saya sebelumnya pelanggan setia hotel Griya Laksana Purwodadi Grobogan. Pada tanggal 19 Agustus 2004 saya book-ing (pesan) kamar suite untuk 2 malam yaitu tanggal 23 dan 24 Agustus 2004. Sebelumnya setiap pesan tidak pernah ada masalah sampai pada tanggal 23 malam.

Pada saat saya mau check in ternyata kamar yang saya pesan telah ditempati orang lain. Pihak hotel menawarkan kamar tipe lain yang dengan sengaja disediakan untuk saya. Ini berarti memang ada kesengajaan kamar yang saya pesan diberikan kepada orang lain.

Pertanyaan saya, bagaimana mungkin hotel sebesar Griya Laksana dengan entengnya menyepelekan pelanggan lama, mengambil keputusan sepihak dengan menyerahkan kamar yang telah saya pesan kepada orang lain tanpa konfirmasi. Padahal file, alamat saya masih ada dan tersimpan di data resepsionis.

Terus terang saya kecewa dan merasa disepelekan sehingga kapok menjadi pelanggannya. Untuk manajemen Griya Laksana, tolong bina karyawan sehingga jangan sampai menimpa orang lain.

Komarudin

Jl Banyuono I/45, Purwodadi

***

Heboh Film BCG

Film berjudul Buruan Cium Gue (BCG) benar-benar telah membuat kebakaran jenggot berbagai pihak yang peduli dengan nilai agama dan kesusilaan. Para ulama dan kalangan pendidik merasa film ini keterlaluan dalam mengekspos dunia remaja.

Saya bertanya, mengapa setelah film beredar baru muncul protes yang begitu gencar. Padahal dalam film Ada Apa dengan Cinta atau Eiffel, 'I 'm in Love juga ada adegan ciumannya. Begitu juga dengan penggambaran dunia remaja di sinetron yang begitu indahnya.

Apa yang dilakukan para remaja setelah munculnya reaksi film tersebut dan di mana kepedulian para mahasiswa yang gemar demonstrasi menentang kebijakan politik atau militerisme ?. Mungkinkah para kawula muda justru menikmati secara diam-diam suguhan dari Raam Punjabi.

Atau mungkin juga sibuk 'mencoba' setelah menonton BCG dan tayangan sejenisnya di TV. Apakah generasi muda kita membenarkan penggambaran dunia mereka 'seindah' itu. Para orang tua dari kalangan ulama atau pendidik mungkin sudah menyampaikan imbauan.

Namun apa gunanya jika yang muda-muda tidak merespons dan bahkan enjoy dengan tayangan sejenis BCG, malah juga sukarela antre menonton di bioskop. Jika generasi muda tidak peduli dan tidak merespon reaksi dari para orang tua, maka jangan kaget jika mereka akan menjadi seperti generasi muda di negeri Paman Sam.

Rifky Nurvianto

Jl Bulustalan III B/357 Semarang

***

Optimisme Mas Yoyok

Setelah melumat Persijatim FC Solo dan melumpuhkan Persik Kediri, Manajer Tim PSIS Yoyok Sukawi mengumbar optimisnya kalau laskar Mahesa Jenar atau pasukan Panser Biru yang dipimpinnya akan mampu menjuarai Liga Indonesia.

Sebagai penggemar berat si kulit bundar dan pecinta PSIS, saya merasa miris tatkala mencoba mengelola pernyataan putra Pak Wali Kota itu. Saya justru menilainya terlalu berlebihan. Sebagai seorang pemimpin punya sense of optimist itu perlu bahkan it's a must.

Namun sayangnya Mas Yoyok tidak introspeksi dan malah over confident. Permainan sepak bola tidak cukup hanya mengandalkan materi pemain saja yang gemerlap, namun banyak faktor lain yang ikut berperan di dalamnya.

Sebaiknya Mas Yoyok belajar dari pengalaman, seperti nasib Real Madrid yang berhamburan bintang justru keok di kompetisi lokal atau Kesebelasan Yunani yang dianggap underdog malah tampil perkasa hingga menjadi juara Eropa.

Sepanjang mengikuti penampilan PSIS di Jatidiri, saya menangkap kesan kalau semangat juang pemain lembek dan kerja sama tim amburadul. Lebih parah lagi penempatan dan penetapan pemain yang tidak semestinya. Purwanto yang cerdik, M Irfan yang mainnya ngotot dan Agus Murod yang lebih reaktif justru lebih sering duduk manis di bangku cadangan.

Kenapa mesti takut menampilkan Indriyanto, Purwanto dan Kwateh tiga sekaligus di depan. Bukankah pertahanan yang baik itu adalah menyerang ? Pesan untuk Mas Yoyok, sebaiknya ambisinya dikubur dulu, sebab dengan posisi PSIS saat ini, jangankan menjadi juara, luput dari jurang degradasi saja sudah wajib disyukuri.

Drs Achmad Prihatno SH MM

Jl Lebdosari I/35, Semarang

***

Nomor Telepon Biro Otonomi Daerah

Saya pemilik pesawat telepon no (024) 8311203 alamat Jl Erlangga Tengah IV/1 A Semarang. Sekitar setahun ini sering menerima telepon salah sambung yang mencari kantor Biro Otonomi Daerah. Hal ini saya rasakan mengganggu karena salah nomor ini berdering hampir setiap hari dari penelepon berbeda.

Beberapa penelepon mengatakan mereka mendapatkan nomor Biro Otda dari buku agenda telepon milik Pemprov dan sebagian lagi dari bagian protokol yang nomornya sama dengan milik saya. Setelah konfirmasi ke Telkom dan Biro Otda tidak ada telepon dengan nomor sama.

Hal itu juga terbukti dari tagihan telepon bulanan saya yang wajar (sesuai pemakaian) dan pengecekan oleh petugas Telkom terhadap instalasi telepon di rumah (9 Agustus 2004) tidak ada kerusakan. Data yang tercantum di buku petunjuk telepon edisi Juli 2004 - 2005, departemen/lembaga negara/lembaga nondepartemen, Biro Otda memiliki no (024) 8311023.

Harapan saya semoga pemberitahuan ini dapat menjadikan koreksi berbagai pihak dan tidak terjadi lagi kesalahan dalam menghubungi instansi Pemprov yang merugikan pihak lain.

Dr Adi Wiguno

Jl Erlangga Tgh IV/1 A, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA