logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 02 September 2004 SALA
Line

Siswa SD Bubakan Belajar di Rumah Warga Bersekat Kepang

HARI menjelang siang ketika bidang studi matematika mulai diajarkan di kelas IV SD 3 Bubakan, Kecamatan Girimarto (sekitar 40 km arah timur laut Kota Wonogiri).

Saat itu Kepala SD, W Kidi Suroso SPd, tampil menjadi guru. Sebab, kebetulan guru kelasnya, Endang Setyawati, meminta izin untuk mengobatkan anaknya yang sakit.

Untuk menjajagi pemahaman murid pada pelajaran yang diajarkan guru, siswi Rejeki Prihatin mendapat giliran maju untuk mengerjakan salah satu soal di papan tulis. Murid yang lain mengikutinya dengan seksama.

Ruangan kelas itu menempati rumah penduduk yang disekat kepang (anyaman bambu).

Jadi, seandainya di kelas sebelah berlangsung pelajaran menyanyi, misalnya, tentu saja konsentrasi murid pada pelajaran matematika menjadi terganggu.

Begitulah potret suasana kelas SD 3 Bubakan, yang kini mengungsi di rumah penduduk. Hal itu karena gedung sekolah terancam runtuh dan membahayakan bagi siswa.

Mereka menempati rumah Loso Ahmad Sunarto, yang berjarak sekitar 300 meter dari gedung sekolah.

''Sebenarnya ada balai desa, tapi letaknya relatif jauh dari sini,'' kata Kidi Suroso.

Loso merelakan ruang depan rumahnya untuk kegiatan belajar mengajar. Sebagai pembatas ruangan, dipasang kepang (gedhek/anyaman bambu) setinggi dada orang berdiri.

Mengungsi

Ada 61 dari 133 murid yang kini mengungsi. Yaitu dari kelas I dan IV masing-masing 22 anak, dan kelas II, 17 anak.

Sisanya, 72 siswa masih bertahan di gedung sekolah. Lantai dan ruangan kelasnya dari semen sudah rusak dan membekaskan lubang-lubang di sana-sini. Beberapa gentingnya pecah dan eternit langit-langitnya banyak yang jebol.

Lapis plesteran temboknya pun banyak yang rontok dan beberapa kayu kerangka atap lapuk.

Seorang guru pernah terjatuh karena kejeglong (terjebak) lubang saat mengajar di kelas.

Akibatnya, kakinya terkilir dan sampai beberapa hari harus izin tak masuk sekolah.

Kepala sekolah dan guru setempat menyatakan, sebenarnya usulan pemugaran telah dilayangkan sejak 2003.

Kidi menambahkan, SD yang diasuhnya memiliki lima guru dan satu kepala sekolah. Satu guru berstatus wiyata bakti, yakni Endang Setyawati.

Untuk menutup kekurangan tenaga pendidik, guru agama Budha, Retno Dwi Martuti, di samping mengajar bidang studi agama Budha, juga membantu mengajar mata pelajaran lain.

Untuk guru agama Islam dan Penjaskes (Pendidikan Jasmani Kesehatan-Red) masih diampu guru dari SD lain. (Bambang Pur-49r)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA