| Kamis, 02 September 2004 | PEMILU 2004 |
SBY Unggul Poling, Mega MenguatJAKARTA- Hasil jajak pendapat Soegeng Sarjadi Syndicated (SSS) menyebutkan, pasangan Megawati-Hasyim Muzadi kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-Kalla). Direktur Eksekutif SSS Dr Sukardi Rinakit ketika menjabarkan hasil poling yang digelar pada 14-26 Agustus di 17 provinsi (21 kota dan 19 kabupaten) mengatakan, popularitas Megawati naik karena mesin politiknya makin meningkat. Sekarang terjadi pertempuran riil antara SBY-Akbar Tanjung dan bukan antara SBY-Mega. Dalam poling, SBY-Kalla diprediksikan memenangi kompetisi (41,3%), sedangkan Mega-Hasyim mendapat suara 34,68%, dan yang tidak memilih 24,02%. Dari angka itu, terlihat SBY-Kalla hanya menang tipis. ''Kubu Mega-Hasyim masih sangat mungkin membalikkan keadaan, terutama jika koalisi bisa bekerja secara efektif,'' katanya. Lembaga Survei Indonesia (LSI) juga mempublikasikan hasil survei terbarunya terkait pemilihan presiden (pilpres) putaran kedua yang menyebutkan, duet SBY-JK unggul, namun dukungan terhadap Mega-Hasyim menguat. Hasil itu disampaikan Direktur Eksekutif ad interim Mohammad Qodari dalam jumpa pers di Kenanga Room Hotel Sari Pan Pacific Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (1/9). Survei dilakukan 23-25 Agustus sekitar lima hari setelah Koalisi Kebangsaan dideklarasikan sejumlah parpol untuk mendukung Mega-Hasyim. Saat survei dilakukan, belum ada dukungan PKS untuk SBY-Kalla dan belum ada keputusan PAN dan PKB yang memilih netral. Survei menggunakan metodologi multistage random sampling di 150 desa dan kota yang melibatkan 1.200 responden. Rinciannya 58% responden tinggal di desa dan 42% tinggal di perkotaan. Hasil survei memiliki margin error sekitar tiga persen. ''Hasil survei LSI sebanyak 61,1% responden memilih SBY-JK. Sedangkan yang memilih Mega-Hasyim 30,33%,'' kata Qodari. Menurut dia, hasil itu berbeda dengan hasil survei sebelumnya yang dilakukan 17-19 Juli, yakni 68% responden memilih SBY-JK dan 23% memilih Mega-Hasyim. ''Jadi ada tren penurunan 7% pada SBY-JK, dan kenaikan 7% pada Mega-Hasyim,'' kata Qodari. Keunggulan SBY-JK dari Mega-Hasyim pada survei ini, kata dia, bisa berubah, mengingat pelaksanaan pilpres putaran kedua masih 20 hari lagi. Pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Kusnanto Anggoro di tengah-tengah peluncuran poling itu di Hotel Four Seasons (dulu Hotel Regent), Jakarta, Rabu siang, mengatakan, pasangan Mega-Hasyim akan memenangi Pemilu Presiden (Pilpres) putaran kedua 20 September mendatang. Menurut dia, pasangan Mega-Hasyim akan memperoleh kemenangan tipis dari pasangan SBY-Kalla, mengingat dalam waktu setengah bulan ini kerja mesin politik Mega-Hasyim makin baik. Penampilan Mega pun terjadi perubahan, yaitu makin manis, ramah, dan murah senyum. Sebaliknya, popularitas SBY-Kalla seperti dalam hasil poling justru makin menurun. Di daerah Jateng, misalnya, kerja mesin politik Mega-Hasyim cukup baik dan andal, sehingga diharapkan mampu menambah suara pasangan ini yang memang merupakan kandang PDI-P. Demikian juga di daerah Jawa Timur, khususnya di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, yang semula tidak memilih Mega-Hasyim, kini berpihak ke pasangan tersebut. Mesin Politik Sukardi mengatakan, meski telah ditemukan fakta bahwa koalisi tidak berpengaruh terhadap pilihan mayoritas responden, namun eksistensi aliansi mesin politik tersebut tidak bisa sepenuhnya diabaikan. Jika terdapat 'bahan bakar' yang memadai, mesin politik bisa berputar kencang. Perolehan suara SBY-Kalla secara signifikan dari 41,53% konstituen Wiranto-Wahid dan 91,59% dari konstituen. Adapun distribusi suara konstituen Wiranto-Wahid lainnya adalah ke Mega-Hasyim (34,415%) dan tidak memilih (24,06%). Adapun perolehan suara Mega-Hasyim, selain 89,61% dari konstituen, juga didukung oleh mayoritas konstituen Hamzah-Agum (54,07%). Distribusi suara konstituen Hamzah-Agum lainnya adalah ke SBY-Kalla (23,84%) dan tidak memilih (22,09%). Mayoritas konstituen Amien-Siswono memilih golput (59,79%), sisanya terdistribusi ke SBY-Kalla (20,62%) dan Mega-Hasyim (19,58%). Dari rakyat pemilih yang golput di putaran pertama, kata Sukardi, mayoritas (81,71%) akan kembali golput di putaran kedua. Sisanya, 10,32%, akan mendukung SBY-Kalla dan 7,96% akan mendukung Mega-Hasyim. Menurutnya, perolehan suara SBY-Kalla disokong secara signifikan selain 95,3% dari konstituen Partai Demokrat, juga dari konstituen Partai Golkar (45,08%), PKB (52,19%), PBB, dan 57,44% konstituen PBR. Pasangan itu juga didukung oleh bagian dari konstituen PPP, PDS, PAN, dan PKS, meskipun konstituen PPP dan PDS lebih banyak mendukung Mega-Hasyim. Banyaknya konstituen Partai Golkar yang akan memilih SBY-Kalla di pilpres putaran kedua nanti merupakan fenomena menarik. Padahal, Partai Golkar tergabung dalam Koalisi Kebangsaan yang mendukung Mega-Hasyim. Dukungan signifikan konstituen Partai Golkar terhadap SBY-Kalla tersebut menunjukkan kekurangefektifan koalisi dalam menjaring suara. Adapun pendukung Mega-Hasyim, selain 92,51% konstituen PDI-P, juga datang dari konstituen PPP (47,28%) dan PDS (73,27%). Pasangan itu juga didukung oleh bagian dari konstituen Partai Golkar, PKB, PBB, PBR, PAN, dan PKS, meski konstituen empat partai pertama lebih banyak mendukung SBY-Kalla dan konstituen dua partai terakhir lebih banyak golput. (tri, dtc-83t) |