| Kamis, 02 September 2004 | OLAHRAGA |
Ngedugem Gratis di Palembang"INI Palembang, tempat kita bisa ngedugem setiap saat di jalan raya," ujar seorang pengurus KONI Jateng yang kebetulan lahir dan besar di kota tersebut, sesaat setelah tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Semula, saya dan beberapa rekan wartawan lain dari Semarang tak terlampau paham dengan ucapan bernada kelakar itu. Namun setelah beberapa hari kemudian mengakrabi Ibu Kota Sumatera Selatan itu, kami baru mengerti maksud di balik ucapan pengurus KONI Jateng tersebut. Ternyata, yang dia maksud dengan ngedugem di jalan raya, tak lain adalah suasana di dalam angkutan kota (angkot) dan bus kota yang ingar-bingar dengan suara musik. Penggunaan istilah ingar-bingar di sini bukan mengada-ada dan berlebihan. Sebab suara musik atau lagu-lagu yang diputar dengan piranti tape recorder itu memang keras. Tak peduli pagi, siang, sore, atau malam hari, para awak angkot dan bus kota di Palembang tetap memutar lagu atau musik keras-keras. Bbagi para pendatang yang tak terlampau biasa dengan kondisi itu akan merasa tidak nyaman. Atlet bola basket Jateng M Isman Thoyib misalnya, mengaku pusing mendengar suara musik yang berdentam memekakkan telinga itu. Suatu ketika dia ingin jalan-jalan ke mal bersama beberapa teman satu timnya. Karena di depan hotel berbintang empat tempat dia menginap tidak ada taksi, Thotib memilih naik angkot. Dan "malapetaka" itu terjadi. Begitu masuk ke dalam angkot, suara ingar-bingar musik itu langsung mendera. "Inginnya santai-santai, malah kepala jadi pusing," ujarnya. Kisah serupa juga dialami seorang rekan wartawan dari Semarang. Setelah seharian mencari berita seputar PON XVI di kompleks Gelora Sriwijaya, kawasan Jakabaring, dia harus buru-buru mencari warung internet untuk menulis dan mengirim berita ke kantor redaksinya. Dalam suasana hati kemrungsung dikejar deadline, rekan wartawan itu menumpang angkot yang memutar musik dengan volume tinggi. Akibatnya, bukan menenangkan pikir, tapi justru semakin menambah kemrungsung. " Ning sirah rasane dadi kopyor," kata dia. Menikmati Berbeda dengan kedua rekan tersebut, sebagian besar orang Palembang justru menikmati suasana angkot dengan suara musik yang menghentak itu. Sepanjang perjalanan, mereka terlihat enjoy dan tak merasa risau. Bahkan sebagian di antara mereka, terutama anak muda, justru menikmatinya. Tengara itu dapat dilihat dari hentakan kaki dan goyangan kepala mereka mengikuti alunan musik yang ke luar dari speaker angkot atau bus yang mereka tumpangi. Eko (23), warga yang tinggal di daerah Plaju memilih angkot bermusik keras saat berangkat dan pulang kerja. Kebetulan jarak antara rumah dengan tempat kerjanya cukup jauh, yakni di Jl Jenderal Soedirman yang ditempuh dalam waktu 45 menit. (Rukardi-22) |