logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 02 September 2004 OLAHRAGA
Line

MU Butuh Lebih dari Wayne Rooney

MELIHAT sepak terjang awal Alan Smith dalam World Champions Series, Alex Ferguson memang boleh merasa lega. Lebih dari upayanya menemukan pengganti Ruud van Nistelrooy yang absen karena lilitan cedera, secara ekstrem Fergie bahkan menyebut ''si bengal dari Leeds United'' itu sebagai ''New Cantona''. Jelas, itu predikat yang terlalu cepat, karena untuk menjajari l'efant terrible yang telah menjadi legenda Old Traffrod itu, bahkan dari materi Manchester United yang sekarang pun sulit untuk mengatakan ada yang layak.

Kalau kemudian Smith mampu menunjukkan produktivitas dengan gol-gol hebat, itu tentu secercah harapan menggembirakan bagi masa depannya di klub ini. Tetapi sangatlah terasa kebergantungan kepada Van Nistelrooy belum dapat teratasi. Ketika Wayne Rooney memastikan bergabung dengan transfer 44,29 juta dolar AS dari Everton, sebagian solusi mungkin terjawab, walaupun problem yang dihadapi MU pada musim ini tidak serta-merta teratasi.

Dari empat penampilannya di Liga Utama, MU baru mencetak satu kemenangan atas Norwich City (3-1), selebihnya kalah dari Chelsea (0-1), seri dengan Blackburn Rovers (101), dan Everton (0-0).

Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

Redupnya sinar the Red Devils di awal musim ini memang tidak terlepas dari faktor eksternal, yakni penampilan hebat dua kandidat utama juara, Arsenal dan Chelsea. Arsenal yang melewati rekor tak terkalahkan Nottingham Forest (lebih dari 42 pertandingan), cenderung makin matang dan tak tersentuh. Sistem rotasi pemain ala Arsene Wenger seolah-olah tak mengenal jarak. Kalaupun pemain kunci sekelas Vieira, Pires, atau Campblell absen, kini generasi lapis kedua, bahkan ketiga jauh lebih siap dibandingkan dengan materi lapis kedua MU. Kematangan Bergkamp kini juga menjadi sumbu baru yang siap ''menyulut'' ledakan-ledakan Henry atau Reyes. Dia justru menjadi kreator utama pada usia yang makin merambat.

Sementara Chelsea di bawah manajemen kepelatihan yang segar, Jose Mourinho menghadirkan fenomena baru: filosofi bermain yang tidak hanya mengandalkan keindahan, tetapi bagaimana mencetak kemenangan demi kemenangan.

Problem Internal

Di luar fakta eksternal tadi, internal MU juga terlihat ''tidak siap'' dengan tingkat rivalitas sekarang. Sebelum kehadiran Rooney, MU hanya melakukan dua pembelian ''istimewa'', yakni Heinze untuk lini tengah - hingga sekarang belum tampil bareng karena memperkuat Argentina di Olimpiade - dan Smith sebagai cadangan Van Nistelrooy. Liam Miller yang dikasting sebagai calon pengganti Keane, dalam beberapa penampilan belum menunjukkan karakter sesuai harapan.

Kebergantungan kepada para pilar senior sangat terasa. Di jantung pertahanan, kondisi MU belum normal menunggu selesainya hukuman disiplin FA untuk Rio Ferdinand. Kalau Keane dimaksimalkan sebagai stopper, itu mengundang persoalan di sektor gelandang, karena MU kehilangan inspirator. Miller belum siap, Scholes mengalami penurunan sebagai penyerang lubang. Fergie seperti memaksakan Djembadjemba untuk menjadi jembatan, tetapi wibawanya jelas jauh di bawah Keane. Tampak Bellion sangat didayagunakan di sayap kanan ketika barisan penyerang mengalami kebuntuan atau ketika Cristiano Ronaldo tidak tampil prima.

Cedera yang belum terjawab di awal musim tampaknya menjadi problem bagi MU. Kleberson masih terlihat ragu-ragu, sedangkan Fletcher, Eagles, Spector, Rikardson seperti masih membutuhkan kehadiran sosok-sosok senior ketika seharusnya mereka kini mengambil alih tanggung jawab besar itu.

Bagaimana prospek kehadiran Rooney?

Dengan bomber baru itu, MU memiliki koleksi empat striker utama: Van Nistelrooy, Saha, Smith, dan Rooney. Berbagai kombinasi bisa dicoba. Kalau daya gedor Rooney bisa sekualitas di Euro 2004 lalu, bertandem dengan siapa pun dia tetap berbahaya. Fergie mesti meramu untuk mencari formula paling garang di antara empat bomber itu, lalu ''menyetel''-nya dengan kebutuhan pasokan dari sayap: apakah Ronaldo, Bellion, dan dari kiri Giggs.

Persoalan lain sebenarnya adalah penurunan performa Scholes. Hal itu, misalnya, terlihat dalam dua pertandingan melawan Blackburn dan Everton. Keistimewaan pemain ini adalah daya juangnya yang prima sebagai pekerja. Dia dikenal sebagai penyerang lubang yang mampu memanfaatkan peluang-peluang dari lini kedua. Ketika para striker mengalami kebuntuan, biasanya Scholeslah yang menjadi solusi dengan tembakan-tembakan geledek dan naluri ''datang'' yang tinggi. Kalau Fergie bisa secepatnya memberi treatment bagi penemuan kembali ''jatidiri yang hilang'' itu, kekuatan MU di lini tengah yang kini seolah-olah lumpuh bisa ditemukan kembali.

Jadi, yang dibutuhkan MU memang lebih dari sekadar ketajaman Rooney. Peran Keane yang belum tergantikan, menurunnya Scholes yang harus dipulihkan, serta kehadiran sosok ''menakutkan'' Van Nistelrooy. Selebihnya, bagaimana berkemas ulang menghadapi persaingan yang kini jelas sudah berubah, karena MU harus menyadari bukan lagi sebagai kandidat utama.(59)

- Amir Machmud NS, wartawan Suara Merdeka


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA